My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 10



Setelah makan siang mereka berkumpul diruang keluarga. Saling bertukar cerita masa kecil hingga saat ini. Fino menceritakan kebersamaannya bersama Lisha semasa smp hingga lulus kuliah sampai akhirnya memutuskan untuk menikah. Begitu juga dengan Riko yang menceritakan masa kecilnya dengan gadis manja dan cengeng hingga mereka terpisah karna Riko memutuskan untuk sekolah diluar negeri. Dan saat ia kembali gadis manja yang slalu ia rindukan ternyata mengalami lupa ingatan sampai saat ini.


Sebenarnya Riko memang sengaja menceritakan masa kecilnya agar Ara bisa mengingatnya secara perlahan. Ia sangat berharap Ara segera mengingatnya kembali.


Ara terdiam mendengar cerita demi cerita yang Riko ucapkan. Ia merasa kalau gadis manja yang diceritakan Riko saat ini adalah dirinya. Karena sejauh ini ia tidak bisa mengingat masa kecilnya dan Fino tidak mau mengingatkannya.


Ara mencoba mengingat ingat apa yang tidak bisa ia ingat sampai saat ini.


“Aarrgghh...”


Tiba tiba Ara mengerang kesakitan memegang kepalanya.


“Ara kamu gak papa?” Tanya Fino khawatir, kebetulan duduk disebelah kirinya.


“Jangan mencoba mengingat apapun ra” tegas Fino.


Tak jauh beda Riko dan Lisha khawatir jika Ara memaksa mengingat suatu hal akan membahayakan kesehatannya.


Ara mulai sedikit tenang, ia bersandar pada Fino sambil menatap lurus ke arah Riko dengan tatapan tak terbaca.


“Sayang bisa kamu antar Ara ke kamar” ucap Fino pada istrinya.


Lisha mengangguk kemudian menuntun Ara ke kamarnya agar ia istirahat. Fino bangkit menepuk pundak Riko.


“Sabar Rik, keadaan Ara saat ini gak bisa dipaksa untuk mengingatmu” ucap Fino


“Fin apa Ara bakal ingat aku lagi?” Tanya Riko tersenyum getir.


“Pasti Rik, pasti. Sabar ya Rik” kata Fino memberi semangat.


“Kalo gitu aku pamit pulang dulu Fin. Salam buat kak Lisha” ucap Riko pamit pulang.


Sedangkan dikamar Ara merebahkan tubuhnya dibantu Lisha. Kepalanya masih terasa pening.


“Kamu istirahat ya dek. Kakak tinggal dulu” kata Lisha mengelus rambut Ara.


“Iya kak” kata Ara memejamkan matanya.


Lisha berjalan menutup pintu kamar dengan pelan. Ia melangkah menemui Fino yang ternyata sudah melangkah menaiki anak tangga.


“Iya barusan ia pamit pulang” jelas Fino.


“Kasian sekali mereka” kata Lisha sedih.


“Kita doakan saja yang terbaik buat mereka sayang. Sekarang kita kekamar yuk. Sedari tadi kamu belum istirahat” kata Fino.


Mereka memutuskan untuk istirahat di kamar. Melepas lelah yang mereka rasakan.


...****...


Riko baru saja sampai dirumahnya, dengan raut wajah sedih ia memasuki rumah yang tak kalah megah dengan rumah Fino. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur kesayangannya. Menatap langit langit kamar mengingat masa kecil yang tidak pernah ia lupakan. Dan kini hanya ia yang bisa mengingat.


“Rara sampai kapan kita akan seperti ini. Aku rindu sikap manja kamu ke aku. Aku rindu kebersamaan kita” gumam Riko.


Perlahan ia memejamkan matanya mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


...****...


Ditempat lain seorang pria berdiri dibalkon kamar menarap layar ponselnya. Ia sangat ingin bertemu gadis yang berada diwallpaper ponsel. Tapi ia juga takut jika kehadirannya tidak diakui atau bahkan membuatnya syok. Ia juga bingung harus bagaimana menjelaskannya.


“Tuan” panggil pria bernama Tony pada tuannya.


“Ada apa?” Tanya pria itu.


“Apa tuan akan menemui nona dalam waktu dekat ini?” Tanya Tony.


“Entahlah Ton, aku sangat bingung harus memulai dari mana” kata pria itu.


“Bagaimana jika tuan mendekatinya secara perlahan atau seakan akan tidak sengaja bertemu” saran Tony.


Pria itu tampak berfikir sebentar lalu mengangguk sebagai jawabannya.


“Saranmu bisa dicoba” kata pria itu tersenyum.


...****...