
Seorang gadis berdiri di halte bus dekat sekolahnya masih dengan seragam yang melekat pada tubuhnya. Hujan belum juga reda dan malah semakin deras. Berulang kali ia mencoba menelpon seseorang untuk menjemputnya tapi tidak diangkat juga.
Tubuhnya sudah menggigil kedinginan karna terlalu lama diluar ditambah dengan angin yang kian menghembus kencang dan juga bajunya yang basah terkena hujan saat berlari tadi. Ia juga lupa tidak membawa jaket hari ini. Karna tadi ia diantar dan tidak membawa motor kesayangannya.
Gadis itu adalah Letha. Sepulang sekolah tadi ia memutuskan ke perpustakaan dulu mencari buku yang ia butuhkan. Saat akan pulang hujan turun dengan deras, ia berlari meuju halte berharap sang kakak sudah menunggunya. Tapi sampai sekarang Tony kakaknya belum juga menjemputnya.
Letha tak juga berhenti menghubungi kakaknya. Sampai sambungan telpon itu terangkat.
“Halo Tha” ucap pria diseberang sana.
Letha menautkan kedua alisnya mendengar siapa yang mengangkat telpon kakaknya.
“Halo kak. Kak Tony kemana?” tanya Letha menggigil.
“Hari ini kakakmu menggantikanku rapat di luar kota. Apa dia tidak bilang kemarin? Dan sepertinya ponselnya terjatuh saat mengambil berkas diruanganku tadi” jelas pria diseberang sana yang tak lain Alex.
“Kak Tony enggak bilang-“
“Ada apa dengan suaramu Tha? Dimana kamu sekarang? Apa kamu sakit?” cemas Alex.
Letha tersenyum mendengar Alex yang mencemaskannya. Hatinya menghangat tapi ia langsung tersadar bahwa tidak pantas dirinya menyukai seorang Alex, pemimpin perusahaan Mahesa Corp.
“Letha masih di halte sekolah kak tadinya nunggu kak Tony” jawab Letha.
“Okay kamu tunggu disana jangan kemana-mana. Kakak matiin dulu telponnya” ucap Alex memutuskan sambungan telpon.
Letha terdiam menatap layar ponselnya hingga senyum merekah muncul diwajah Letha yang kedinginan.
...****...
Alex baru saja memasuki ruang kerjanya setelah melakukan rapat dengan beberapa devisi perusahan. Baru saja ia duduk dikursi kebesarannya terdengan deringan telpon, tapi bukan dari ponselnya.
Ia bangkit dari duduknya dan menemukan ponsel di samping sofa diruangannya. Alex mengambil ponsel yang ternyata milik sekertarisnya Tony.
Tertera nama ‘Si Cerewet’ yang Alex tau itu adalah nomor ponsel Letha. Ia langsung mengangkat panggilan itu.
“Halo Tha” ucap Alex.
Diseberang sana terdengar derasnya hujan yang belum juga reda sejak tadi. Alex menatap keluar kaca besar diruangannya yang memperlihatkan genangan air di jalan sana dengan derasnya hujan.
“Halo kak. Kak Tony kemana?” tanya Letha menggigil diseberang sana.
“Hari ini kakakmu menggantikanku rapat di luar kota. Apa dia tidak bilang kemarin? Dan sepertinya ponselnya terjatuh saat mengambil berkas diruanganku tadi” jelas Alex.
‘Ck bagaimana bisa Tony tidak bilang pada adiknya sendiri. Dasar orang itu masih muda tapi sudah pelupa’ batin Alex.
“Kak Tony enggak bilang-“
“Ada apa dengan suaramu Tha? Dimana kamu sekarang? Apa kamu sakit?” cemas Alex saat mendengar suara Letha yang kedinginan.
“Letha masih di halte sekolah kak tadinya nunggu kak Tony” jawab Letha disana yang membuat Alex semakin dilanda kekhawatiran.
“Okay kamu tunggu disana jangan kemana-mana. Kakak matiin dulu telponnya” ucap Alex memutuskan sambungan telpon.
Alex berjalan menuju ke kamar pribadi yang terletak di ruangannya untuk mengambil selimut dan hoodie hitam miliknya. Setelah mendapat apa yang ia cari, Alex segera berlari keluar ruangan menuju lobby di lantai bawah.
“Siapkan mobilku sekarang” perintah Alex pada anak buahnya.
Sesampainya di lobby ia melihat mobil sport hitam keluaran terbaru sudah siap terparkir di sana.
“Ini tuan” petugas itu memberikan kunci mobil pada Alex.
Baru saja Alex akan masuk ke dalam mobil ada seseorang memanggilnya dari jauh.
“Pak Alex” panggil suara perempuan.
Alex berbalik menatapa datar perempuan yang tak lain pegawainya sendiri dari devisi perencana.
“Maaf pak Alex saya lancang tapi ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani” ucap karyawan bernama Diana itu.
“Kami taruh saja di meja saya” ucap Alex masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata.
Yang ada dipikirannya saat ini hanya Letha, Letha dan Letha. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Apa karna ia sudah menganggap Letha seperti adiknya sendiri maka ia merasa khawatir. Tapi ada rasa aneh saat ia memikirkan Letha. Apakah Alex mulai menyukai adik dari teman sekaligus sekertarisnya itu?
Hujan deras dan angin kencang membuatnya menurunkan laju mobilnya. Dan ia jadi teringat Letha kembali.
‘Apa Letha bawa jaket? Pasti diluar sangat dingin. Ck dasar Tony apa kamu mau buat adikmu kedinginan? Bisa-bisanya dia melupakan adiknya. Seharusnya tadi dia bilang padaku, biar aku bisa menjemputnya. Awas saja kamu Tony’ gumam Alex kesal sendiri.
Alex fokus pada jalanan sampai ia akhirnya melihat Letha yang berdiri di halte bus memeluk tubuhnya sendiri. Sesekali menggosok kedua tangannya dengan wajah pucat pasi.
Alex meminggirkan mobilnya dan keluar dengan payung dan hoodie ditangannya. Alex berjalan mendekati Letha yang tampak kedinginan dengan baju yang sedikit basah.
“Kamu enggak apa-apa Tha?” tanya Alex cemas memegang pundak kiri Letha.
“Cuma dingin kak” jawab Letha dengan gigi gemeretuk kedinginan.
“Kamu pakai hoodie kakak dulu sini biar tas kamu kakak pegang” ucap Alex memberikan hoodie yang langsung dipakai oleh Letha.
“Sekarang kita pulang. Biar kakak antar” ucap Alex merangkul pundak Letha agar lebih dekat dengannya dan tidak terkena air hujan.
Letha hanya diam mengikuti langkah Alex dan masuk kedalam mobil, ia merasa pusing dan kedinginan untuk saat ini.
Alex mengitari mobil setelah Letha masuk. Kini Alex duduk di kursi kemudi. Ia lalu mengambil selimut yang tadi ia bawa dan langsung menyelimuti badan Letha yang menggigil. Alex juga mematikan ac mobil dan menggantinya dengan penghangat agar sedikit menghangatkan Letha.
“Kak, apa kak Tony akan pulang malam ini dari luar kota?” tanya Letha menatap Alex dari samping.
“Sepertinya besok dia baru pulang. Ada apa Tha?” ucap Alex mengusap surai basah Letha.
“Bibi lagi pulang kampung karna anaknya sakit. Kalau kak Tony enggak pulang terus Letha dirumah sendiri. Letha enggak mau takut” jelas Letha dengan air mata yang mulai menggenang menahan tangis.
“Hei jangan nangis, kan kamu bisa tinggal dirumah kakak. Kamar kamu juga slalu dibersihin kog sama bibi” ucap Alex memeluk Letha yang menangis.
Tony dan Letha memang memiliki kamar pribadi dirumahnya. Sejak mama dan papanya meninggal Alex sering menyuruh Tony dan Letha tinggal dirumahnya agar ia tak merasa kesepian. Jadi sudah biasa bagi Letha jika tinggal dirumah Alex.
Alex juga tau kalau Letha takut jika ditinggal sendiri dirumah ditambah lagi bibi Sri saat ini pulang kampung. Letha mengangguk mendengar ucapan Alex.
“Nanti biar kakak hubungi kakakmu yang bodoh itu kalau kamu tidur dirumah kakak” ucap Alex melepas pelukannya mengusap rambut Letha.
Alex mulai menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia menatap Letha yang masih merasa kedinginan.
Next👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥
Yang rindu sama abang Alex ini dia keluar juga😁