
Ara yang mendengar suara gaduh diluar pun beranjak perlahan keluar kamar. Samar-samar ia mendengar suara heboh kakak iparnya.
‘Apa kak Lisha kesini?’ batinnya sambil berjalan menuju ruang tamu.
Ara terdiam melihat dengan siapa kakak iparnya itu datang. Ia berdiam diri tak jauh dari ruang tamu, anggap saja ia sedang menguping.
“Dimana Ara? Dia sakit apa? Sudah kamu bawa kedokterkan? Sudah periksakan? Trus gimana hasilnya? Gimana kata dokter? Kamu ini juga gimana sih kog gak jagain Ara. Pasti saat ini Ara merasakan kesakitan. Ka-“
“Sayang” panggil Fino menghentikan kehebohan istrinya itu.
“Maaf sayang tapi aku khawatir sama Ara, pasti Ara sakit karena kamu ya Rik” tuduh Lisha menunjuk adik sepupunya itu sengit.
“Sayang pliss” ucap Fini sekali lagi memperingatkan istrinya.
Riko menggeleng kepala mendengar suara cempreng kakak sepupunya yang memenuhi ruang tamu itu. Hingga matanya melihat Ara yang terdiam tidak jauh dari mereka duduk.
“Ara” panggil Riko beranjak mendekatinya.
Ara tersentak mendengar panggilan Riko. Ia masih terdiam menatap Riko yang berjalan mendekatinya.
“Kenapa keluar? Apa kamu butuh sesuatu? Apa tadi memanggilku? Maaf aku nggak dengar” ucap Riko khawatir sambil memegang kedua bahu Ara.
“Aku cuma pengen keluar kamar aja kok kak. Bosen terus-terusan dikamar. Tadi aku juga denger suara rame banget jadi aku keluar, dan ternyata ada kakak ipar” jawab Ara tersenyum manis.
Riko tersenyum lalu menuntun Ara untuk duduk, ia tau kalau Ara masih sempoyongan saat jalan.
Lisha mendekati adik iparnya yang tampak pucat walau tak sepucat semalam. Lisha langsung memeluk Ara dari samping.
“Kakak khawatir denger kamu sakit tau. Gimana keadaan kamu Ra? Apa masih ada yang sakit? Apa perlu dirawat di rumah sakit? Ap-“
“Sayang” “kak” ucap Fini dan Riko bersamaan memotong kalimat panjang yang akan dilontarkan Lisha.
“Okay aku diam” jawab Lisha sambil memperagakan seolah sedang mengunci bibirnya.
‘Apa semua ibu hamil akan menjadi seaneh kak Lisha?’ batin Ara.
“Kak Lisha tenang aja Ara cuma demam. Sekarang sudah mendingan berkat kak Riko yang merawat Ara dengan telaten” ucap Ara tersenyum malu.
Tidak jauh beda dengan Ara, Riko juga menampilkan senyum manisnya sambil menatap wajah Ara yang terlihat malu-malu.
Berbeda dengan Fino yang menatap lekat Ara. Ia sadar sejak Riko dan Ara dekat, semakin hari sikap dingin, cuek dan kasar Ara mulai menghilang. Ia bisa merasakan ketulusan senyum Ara.
Sudah lama Fino tidak melihat mata Ara yang berbinar, bibir yang tersenyum manis dan tawa lepasnya. Dan itu semua Riko yang bisa mengembalikannya.
Fino masih diam menatap mereka bertiga yang bercanda. Ia ikut bahagia saat melihat Ara tertawa lepas dihadapannya.
“Oh iya Ra kakak hampir aja lupa. Ini kakak bawain kue kesukaan kamu tadi mas Fino yang milihin. Katanya kamu suka kue yang ini. Hampir aja kakak salah pilih tadi” ucap Lisha memberikan box kue pada Ara.
Ara menerimanya sambil melirik Fino yang ternyata menatapnya. Ara kembali menatap Lisha dengan senyum manisnya.
“Makasih ya kak. Maaf ngrepotin kak Lisha ya” ucap Ara.
“Enggak kog” jawab Lisha.
Ara masih saja mengacuhkan Fino sampai mereka pamit pulang. Ara masih belum bisa memaafkan Fino. Bukan dia dendam, bukan. Dia tidak pendendam hanya saja ia masih ingin menjaga jarak dengan Fino.
Tersisa Ara dan Riko yang masih duduk di ruang tamu. Ingin rasanya ia berbicara pada Ara tentang hubungan antara Fino dan dirinya yang masih berjarak.
Riko tidak ingin melihat mereka berdua itu saling diam tanpa sapa seperti tadi. Suasananya kan jadi canggung, pikirnya,
Mungkin ia akan membahas hal ini nanti saat Ara sudah benar-benar sembuh.
Next👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥