
Kini Ara dan Riko sudah berada di rumah mewah milik Fino. Mereka semua berkumpul diruang keluarga sambil menatap si bumil yang asik dengan martabak pesanannya.
Tadi sesampainya di rumah Fino bukan Ara atau pun Riko yang di sambut, tapi martabak yang di pesanlah yang ia sambut. Sampai saat ini si bumil itu pun belum menyapa Ara atau pun Riko. Dan hal itu membuat Riko sedikit kesal, sedangkan Ara menahan tawa melihat kakak iparnya yang lahap.
“Ck lihat lah istrimu itu. Tadi bilangnya dia ingin bertemu dan mendengar suara Ara. Sekarang lihat bahkan menyapa kami saja tidak. Ck dasar” kesal Riko pada Fino yang langsung dihadiahi tatapan tajam.
“Dan kau harus ingat dia istriku tercinta dan kakak sepupumu” balas Fino.
“Kak makanlah dengan pelan nanti keselak kasian dedek nya” ucap Ara sambil terus memperhatikan Lisha.
“Iya jangan rakus” ketus Riko.
Lisha langsung mendongak menatap tajam ke arah Riko, membuat pria itu kelabakan sendiri. Ia sangat menghindari amukan kakak sepupunya itu.
‘Ck kenapa jadi aku yang ketakutan’ batin Riko.
“Kamu bilang kakak rakus?!!” bentak Lisha sambil melotot.
Ara dan Fino hanya menggeleng melihat nasib Riko yang seperti akan di lahap singa betina saja. Riko sendiri kaget mengusap dadanya saat dibentak tadi.
“Tapi ini sangat enak dan calon bayiku suka” ucap Lisha kegirangan melanjutkan makannya.
Riko dan Ara dibuat melongo dengan sikap Lisha yang luar biasa itu. Berbeda dengan Fino yang sudah biasa diperlakukan seperti itu, jadi dia sudah tidak kaget lagi.
“Astagaa cebong kualitas apa yang kau berikan pada kakak ku Fin” ucap Riko asal sambil meringis menatap Lisha.
Tak
Fino menjitak kepala Riko yang seenaknya saja berbicara.
“Jaga ucapanmu atau ku tendang dari rumahku sekarang” ketus Fino.
Ara yang tersadar dari lamunannya pun tertawa mengingat sikap bar-bar kakaknya barusan. Ia lupa kalau kakak iparnya itu sangat sensitif. Ia sampai tak sadar kalau sekarang Lisha menatapnya dengan lekat.
Riko yang duduk didekat Ara segera menginjak kaki Ara yang membuatnya mengaduh.
“Kak Riko kenapa sih sakit tauu” rengek Ara mengerucutkan bibirnya.
Sedangkan Riko mengisyaratkan dengan bola matanya yang mengarah pada Lisha berulang kali. Ara yang awal nya bingung pun akhirnya paham dan menatap kearah yang ditunjukkan Riko.
Ara merutuki dirinya sendiri yang menertawakan kakak iparnya tadi dan sekarang bisa ia lihat Lisha terus menatapnya dengan lekat. Ara mencoba tersenyum sebaik mungkin agar Lisha tidak marah pikirnya.
Diluar dugaan Lisha mengelap tangannya dengan tisu lalu bangkit duduk mendekati Ara yang memeluknya.
“Ih kakak gemes banget lihat tawa kamu” gemas Lisha nasih memeluk Ara.
Ara sendiri terlihat seperti orang linglung menatap Fino dan Riko yang menahan tawa melihat ekspresi Ara.
“Dek kamu tidur di sini aja ya. Besokkan libur kita pergi jalan-jalan yuk. Ke kebun binatang seru deh, kakak pengen lihat anak harimau pasti gemesin” ucap Lisha dengan mata berbinar menatap Ara.
“Kamu mau ya pliss” mohon Lisha.
“Tapi Ara kan enggak bawa ganti kak, jadi Ara harus pulang besok pagi Ara akan kesini nemenin kakak jalan-jalan” tolak Ara secara halus.
“Kamu tenang aja kakak udah nyiapin beberapa baju khusus buat kamu, jadi kamu gak usah bingung” ucap Lisha tersenyum.
“Iya udah kalo gitu Ara nginap di sini” putus Ara.
“Okay nanti kamu tidur di kamar kamu ya Ra. Rik kamu juga tidur di sini ya” ucap Lisha.
“Iya apa enggak malah hmm” ketus Lisha.
“Iya kakak sepupuku yang cantik” ucap Riko semanis mungkin.
“Nah gitu dong kan enak didenger” senyum Lisha.
“Kamu sudah selesai makan martabaknya sayang? Gak kamu habisin dulu?” tanya Fino.
“Oh iya martabakku” ucap Lisha bangkir ke tempat duduknya semula.
1 jam kemudian mereka memutuskan untuk istirahat karna malam yang semakin larut. Sama hal mya Ara ia sudah sangat ngantuk. Ara memasuki kamara yang fulu ia tinggali dan ternyata tidak ada yang berubah. Seakan Fino dan Lisha mengkhususkan kamar ini untuk nya.
Tapi memang benar seperti itu. Kamar yang ditempati Ara saat ini memang sudah menjadi milik Ara. Semua barang di dalam kamar ini juga milik Ara.
Ara menatap ke arah kasur dimana ia menemukan boneka beruang biru besar yang dulu ia dapat dari Riko. Ia berlari ke arah kasur dan memeluk boneka itu erat.
“Astaga aku merindukanmu boneka nakal” gumam Ara tersenyum.
“Aku slalu mengingatmu tapi aku gak ada keberanian mengambilmu kemari. Kamu harus ikut aku besok sepulang dari jalan-jalan, okay” ucap Ara mengelus kepala beruang itu.
Ara masih terus memeluk beruang itu erat sampai ia ketiduran sendiri.
...****...
Keesokan hari nya mereka sudah siap untuk pergi seperti yang di minta Lisha, yaitu kebun binatang. Keinginannya masih kuat, ingin melihat anak harimau. Sedari pagi Lisha sudah mengheboh kan seisi rumah. Mulai dari bangunkan suaminya dan Riko sedari subuh.
Padahal ia tidak membangunkan Ara dan dengan entengnya ia menjawab.
“Tadi keinginan dedeknya bangunin kalian pagi-pagi. Trus pas masuk ke kamar Ara dedeknya gak tega bangunin aunty nya”
Seperti itulah Lisha yang sekarang slalu dengan segudang keanehannya. Fino dan Riko disuruh untuk segera bersiap dengan alasan mereka berdua lama mandi dan lainnya, tapi Lisha sendiri bersiap menunggu kalau Ara sudah bangun. Dan Ara baru bangun pukul 7 pagi.
Sungguh Fino dan Riko hanya bisa mengelus dada dan banyak bersabar. Ara sendiri di buat bingung dengan raut wajah dua pria yang sering menghela nafas.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 09.00 dan Lisha belum juga keluar dari kamar. Padahal ia pergi mandi di waktu yang bersamaan dengan Ara mandi, tapi dikamar mandi berbeda.
Riko sudah mulai menggerutu tak jelas disamping Ara yang lebih memilih sarapan dengan ayam krispi buatan Lisha yang sangat ia sukai. Ara sendiri sudah nambah dua kali.
“Hei kamu makan terus dari tadi nanti enggak kuat jalan” ketus Riko.
“Kak Riko salah kalo kita makan banyak kita punya tenaga buat jalan jauh tau. Lagian ini enak coba rasain nih” ucap Ara menodongkan paha krispi pada Riko.
“Ck sudah habiskan” ucap Riko.
“Coba lah dulu” paksa Ara.
Dan akhirnya Riko menggigit besar paha krispi milik Ara, ternyata emang enak.
“Ck kak Riko ini kenapa gigitannya gede banget kan tinggal dikit jadinya” ketus Ara.
“Ck mulai deh mirip kakaknya dia” gumam Riko menatap Ara yang fokus pada makanannya kembali.
Fino tersenyum melihat interaksi antara Riko dan Ara. Ia ikut bahagia jika Ara bahagia. Karna baginya kebahagiaan Ara adalah hal penting yang harus ia wujudkan seperti janji nya pada alm. Mamanya.
Next👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥