My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 119



Ara berjalan mendekat tak lupa menutup pintu. Ara menatap Alex dan Riko bergantian.


“Seperti yang di tanyakan kak Tony, bagaimana cara agar papa Felix keluar dari persembunyiannya. Dan aku jawab dengan diriku. Biar aku yang menemui papa Felix” jelas Ara mantap.


“TIDAK” tolak Alex dan Riko bersamaan.


Bukan ide yang bagus bila mereka membiarkan Ara menjadi umpan untuk Felix agar pria tua itu keluar dari persembunyiannya, akan sangat berbahaya bagi Ara. Apa lagi jika mereka salah melangkah maka nyawa Ara taruhannya.


“Apapun yang terjadi kakak tidak akan pernah ijinkan kamu untuk keluar dari rumah ini dan menemui pria tua itu. Biarkan masalah ini kakak yang selesaikan” ucap Alex melembut meraih tangan kanan Ara.


“Percuma saja, disini hanya aku yang bisa membuat papa Felix keluar. Biarkan aku menjadi umpannya” ucap Ara menatap Alex tenang, walau hatinya sedang bergejolak menahan rasa takut dengan langkah yang akan ia ambil.


“Tapi Ra, ini sangat berbahaya kita tidak tau apa saja rencana pria tua itu. Dan aku juga gak mau gegabah untuk jadiin kamu umpan, ini semua bahaya buat kamu Rara” kata Riko yang kini sudah berada di samping Alex.


“Ini semua bahaya untukku, apa itu tidak bahaya untuk kalian” cibir Ara melipat tangannya sambil memutar bola mata malas.


“Jadi biarkan aku menemui papa Felix, agar masalah ini cepat selesai. Aku yakin papa Felix tid-“


“Sekali kakak bilang TIDAK! Maka selamanya TIDAK!” tekan Alex pada setiap kata ‘TIDAK’


“Tapi kak ini se-“


“ARABELLA MAHESA MASUK KAMAR SEKARANG JUGA DAN ISTIRAHATLAH!” tegas Alex dengan suara menggema memenuhi ruangan itu, membawa hawa mencengkram menyelimuti.


Ara yang mendengar ucapan tegas dari Alex pun terjingkat mundur kebelakang. Ara terdiam menunduk lalu balik berlari menuju kamar tamu dari pada kembali ke kamar Letha, yang hanya akan membangunkan Letha dan Arumi.


Ara paham betul jika Alex memanggil nama lengkap pemberian orangtua kandungnya itu berarti Ara melakukan kesalahan yang melampaui batas atau menentang ucapan Alex seperti tadi.


Ara mempercepat langkahnya untuk masuk kedalam kamar tamu menangis di atas ranjang dengan tengkurap.


“Aku hanya mencoba untuk membantu mereka. Aku tidak ingin terus seperti ini. Aku nggak mau kehilangan siapapun” gumam Ara di tengah isak tangisnya.


Diruang kerja Alex, Riko langsung memarahi Alex yang meninggikan suaranya pada Ara.


“Tenang dong Lex, jangan kayak gini. Liat Ara pasti nangis sekarang” geram Riko lalu pergi begitu saja meninggalkan Alex, Tony dan Dion yang masih terdiam.


Alex menghela nafas bersama tubuhnya yang jatuh bersandar di sofa, di pijat pelipisnya yang terasa pusing karna masalah yang tak kunjung berhenti.


“Sabar Lex, sepertinya pembahasan ini kita bicarakan besok lagi. Kau juga butuh istirahat agar bisa mengontrol emosimu” ucap Tony yang akhirnya buka suara.


“Keluarlah kalian” usir Alex dengan mata terpejam.


Tanpa babibu lagi Tony dan Dion bangkit pergi. Tinggallah Alex sendiri di ruang kerjanya. Alex membuka mata menatap langit ruang kerjanya.


”Maafkan kakak dek, kakak hanya tidak mau kamu kenapa-napa” gumam Alex mengacak rambutnya frustasi.


Riko perlahan memasuki kamar tamu yang di tempati oleh Ara, dapat ia lihat Ara yang saat ini meringkuk membelakanginya. Punggung Ara masih bergetar menandakan dirinya yang masih menangis tanpa suara.


Riko duduk di tepi ranjang dan mengusap surai hitam Ara, membuat sang pemilik rambut berbalik lalu bangkit duduk.


“Jangan nangis lagi ya” ucap Riko mengusap puncak kepala Ara dengan sayang.


Tangan Riko terulur mengusap pipi Ara yang basah karna air mata yang tak henti mengalir. Ara membenamkan wajahnya di dada bidang tunangannya itu dengan tangan Riko yang masih setia mengusap rambutnya.


“Kau tau Ra, aku sangat mencintaimu dan aku sangat takut kehilanganmu. Butuh waktu yang lama sampai aku bisa berada disisimu seperti saat ini. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ku untuk slalu ada di samping, menjagamu itu tugasku. Jadi wajar bagiku tidak mengijinkanmu menemui papa Felix, dia terlalu licik yang bisa melukaimu kapan saja, dan salah langkah sedikit saja nyawamu taruhannya. Aku akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu padamh Ra” ucap Riko panjang di akhiri dengan helaan nafas.


Cup.


Riko mengecup kening Ara mesra sebelum akhirnya mengacak rambut Ara gemas.


“Istirahatlah” ucap Riko diangguki oleh Ara.


“Jangan nangis lagi, melihatmu menangis membuat ku merasa sakit Ra” sambung Riko lembut.


“Iya” jawab Ara mulai berbaring dan memejamkan mata.


Kini rasa kantuk mulai menyerangnya saat Riko mengusap kepalanya sambil bersenandung lirih. Tidak bituh waktu lama sampai Ara akhirnya terlelap. Riko tersenyum dan menyadari bahwa ia harus ekstra sabar akan masalah saat ini.


“Selamat malam calon istri, mimpi indah” bisik Riko sambil mengecup kening Ara lalu bangkit perlahan untuk kembali ke kamarnya.


Riko keluar dan menutup pintu kamar dengan perlahan agar tidak mengganggu Ara yang baru saja terlelap itu. Ia merasa lega saat sudah berhasil keluar tanpa membangunkan gadis cantik di dalam sana. Saat berbalik Riko di kagetkan dengan Alex yang sudah berdiri di belakangnya, entah mulai kapan.


“Ara sudah tidur?” tanya Alex dengan raut wajah yang sulit di artikan.


“Baru saja” jawab Riko.


“Syukurlah, thanks Rik” ucap Alex menepuk bahu Riko.


“Hmm” gumam Riko dengan ekspresi datarnya, jujur saja saat ini Riko masih kesal dengan Alex yang sudah membentak Ara tadi.


“Kalau begitu kembalilah ke kamarmu” ucap Alex berbalik menuju kamar pribadinya.


...****...


Di sudut kota yang jauh dari hiruk pikuk suasana ramai tepatnya di sebuah gedung terbengkalai di pinggiran kota, tempat di mana Felix dan anak buahnya bersembunyi.


“Bagaimana rencana kalian? Apa berjalan dengan lancar? Ah ku harap rencana kalian berjalan lancar” ucap Felix dengan raut wajah senangnya.


“Lapor bos semua rencana kita malam ini lancar” jawab anak buah Felix yang baru saja terbebas dari kejaran para pengawal Alex dan Riko juga Tony.


“Kalian memang bisa di andalkan, ah mereka sangat bodoh sampai belum bisa menangkapaku. Tapi sampai kapan pun mereka tidak akan bisa menangkapku, karena mereka semua terlalu bodoh hahahah” tawa Felix senang di ikuti para anak buah nya.


“Oh ya, apa kalian sudah mendapatkan apa yang aku pesan?” tanya Felix saat teringat sesuatu yang ia minta pada anak buahnya.


“Sudah tuan, ini nomor ponselnya” jawab salah satu anak buah Felix sambil memberikan secarik kertas berisi rentetan angka yang berjajar rapi.


“Kau yakin ini nomor ponsel nya?” tanya Felix sebelum meraih kertas itu.


“Iya tuan itu memang nomor ponselnya yang terbaru.” ucap anak buah felix.


Felix tersenyum menatap kertas berisi nomor ponsel seseorang yang sangat dia tunggu sejak beberapa waktu terakhir.


Good night gaiss😌


Udah pada tidur belum nih, maaf ya kalo banya typo yang berterbangan. Mata author dah ngantuk banget. Semoga kalian suka ya. Bye beye🤗


Sampai bertemu besok di cerita selanjutnya, good night😴


Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥