My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 22



Fino memasuki rumahnya dengan lesu dan duduk disofa ruang tamu. Lisha yang baru saja menuruni tangga mendekati suaminya.


“Mas” panggil Lisha duduk disebelahnya.


“Sayang” jawab Fino memeluk Lisha.


“Apa Ara tidak mau kembali kesini?” Tanya Lisha sedih.


“Mas belum sempat membahas itu karna tadi Ara keburu pergi dan tadi mas ikuti ternyata dia bertemu dengan Letha” kata Fino.


“Huh” Lisha menghela nafas.


“Sayang sudah kamu jangan banyak pikiran. Besok mas akan kembali menemui Ara” kata Fino mengusap rambut istrinya.


Lisha hanya mengangguk membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.


...****...


Ara baru saja pulang dari panti asuhan. Ia bergegas berjalan menuju apartement, di tengah jalan ia melihat pedagang sate yang menurutnya sangat menggiurkan.


“Ahh padahal aku pengen banget tapi sayang uangnya” keluh Ara mengingat uang cash yang tersisa didompetnya.


“Untung hari ini cafe tadi memberikan secara gratis” gumamnya.


Ara sudah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan uang yang slalu di kirim Fino atau pun Tn. Felix padanya. Rasanya ia hanya akan terus menjadi parasit di keluarganya sendiri.


Ara menghela napas dan mempercepat langkahnya. Ia juga menutup hidung dari harumnya sate yang sedang dibakar.


Malam semakin larut dan kini Ara sudah berada di apartement dengan secangkir kopi susu di meja makan.


Di depannya terdapat tumpukan buku tugas yang mulai berserakan menjadi satu meja makan dan harus ia selesaikan. Tapi, sedari tadi yang ia lakukan hanya membuka tutup semua buku tugasnya itu.


“Huh, kenapa otakku tidak sepintar Fino sih” gerutunya kesal.


Ting tung


Ara menoleh ke arah pintu apartement lalu merilik pada jam dinding yang menunjuk pukul 20.45


“Siapa?” tanyanya.


Ara mendekati pintu dan membuka pintu perlahan. Ara menatap datar saat melihat siapa yang datang.


“Ara, boleh kakak masuk?” tanya pria didepannya yang tak lain kakaknya sendiri.


“Kebetulan tadi kakak lewati dekat sini jadi kakak mampir sebentar. Sekalian ini buat kamu” tambah Fino sembari memberikan sebungkus makanan.


“Sate” ucap Ara berbinar.


Ehem


“Masuklah pak” kata Ara datar berbalik menuju dapur mengambil piring dan sendok.


Fino menatap Ara dengan miris mendengar ucapan Ara barusan. Sepertinya akan sangat sulit meminta Ara untuk kembali ke rumahnya.


Fino mengikuti langkah Ara yang kini sudah duduk di meja makan dengan sepiring nasi dan seporsi sate. Ara makan dengan lahap tanpa menghiraukan kehadiran Fino atau sekedar menawarkan minuman.


Fino menatap buku tugas yang berserakan di meja makan itu. Ia tersenyum, selama ini tidak pernah ia melihat Ara memegang buku atau mengerjakan tugas seperti yang ia lihat.


“Aku hanya ingin membakar buku-buku ini. Jadi jangan pikir aku akan mengerjakannya” ketus Ara melirik Fino yang tersenyum menatap bukunya.


Fino tertawa kecil mendengar ucapan Ara yang tidak masuk akal sekali. Ia membuka salah satu buku Ara.


“Belum ada yang terjawab dan besok ini harus dikumpulkan” ucap Fino.


“Aku sudah bilang tadi. Aku ingin membakarnya bukan mengerjakannya” kata Ara masih asik dengan satenya.


“Bagaimana jika kau les privat dengan Riko?” tanya Fino menatap adiknya


Uhuk uhuk


Fino segera memberikan segelas minum pada Ara. Ara meraihnya dengan cepat dan meminumnya.


“Tidak! Aku tidak ada waktu dengan manusia aneh itu!” ketus Ara.


“Setidaknya manusia aneh itu bisa membantumu dalam belajar. Toh tidak ada biaya tambahan untuk les privatmu” kata Fino.


“Aku tidak bisa!” kesal Ara.


“Setidaknya sebagai pembuktian pada papa kalau dirimu bukan Ara yang dulu itu saja” kata Fino lebih lembut.


Ara terdiam sejenak lalu menatap Fino dengan tatapan yang tak terbaca.


“Pulanglah kak” ucap Ara datar menatap piring sate didepannya yang masih tersisa beberapa tusuk.


“Pulanglah ke rumahmu pak, tidak baik malam malam kau mengunjungi siswimu” tambah Ara bangkit menuju kamar dan menutup rapat pintu kamarnya.


Fina menghela nafas bangkit membereskan buku dan piring kotor Ara. Ia tidak lupa menaruh sisa sate di dalam kulkas agar besok masih bisa di makan kembali.


Setelah menyuci piring dan merapikan meja makan Fino memutuskan untuk pulang.


Fino menatap jam tangan di pergelangan tangan kanannya yang menunjukkan pukul 22.05


Fino bergegas pulang mengingat istrinya yang sedang hamil mudah di rumah sendiri.


Malam gaiissss


jangan lupa vote, like dan komen ya🔥🔥🔥🔥