My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 122



Ara berjalan melalui pintu dapur dan berjalan menuju gerbang dengan tas belanjanya.


“Permisi, boleh bukakan pintunya. Aku harus belanja kebutuhan bulan ini” ucap Ara mencoba tenang.


Dua penjaga gerbang itu tampak menatap Ara dengan curiga. Apa lagi dengan penampilan Ara yang memakai masker.


“Lepas masker mu” perintah salah satu penjaga gerbang.


“Haduh maaf saya lagi flu, hacih” ucap Ara sambil pura-pura bersin.


“Mungkin dia pelayan baru di sini Nan, udah bukain aja kalo gitu takutnya juga bahan yang di beli itu buat makan siang ini” ucap penjaga bernama Aris pada temannya, Nanda.


“Yaudah sana pergi” usir Nanda.


Ara mengangguk lega saat ia bisa keluar tanpa ketauan. Semoga saja mereka tidak merasa ada yang janggal. Karena setau Ara kebutuhan setiap bulan diatur langsung oleh bi Surti sendiri tanpa menyuruh pelayan lain. Ara bergegas masuk ke dalam taksi online yang sudah di pesan.


Ddrrtt ddrrtt


Getaran ponsel Ara membuyarkan lamunannya. Ara mengangkat telpon dari orang yang ia yakini adalah papanya, Felix.


“Berhenti di taman kota dan masuk ke dalam mobil jeep hitam yang sudah menunggumu di sana. Jangan lupa buang ponselmu. Jika kau tak membuang ponselmu, kau tau apa yang akan terjadi pada kakak dan kekasihmu” ancam pria dari seberang sana.


Tutt tuttt


Ara meremas ponselnya kuat setelah menerima telpon itu. Cairan bening sudah mulai menggenang bahkan siap jatuh saat Ara mengedipkan matanya. Ara segera mengusap tangisnya dengan kasar, ia tidak boleh lemah seperti ini. Ia harus kuat dan berani dengan apa yang akan terjadi nanti.


“Berhenti di taman kota ya pak” ucap Ara pada sopir taksi.


“Baik nona” jawab supir itu.


Sesampainya di taman kota Ara langsung membayar supir itu, dari tempatnya berdiri Ara bisa menatap mobil jeep hitam yang terparkir rapi. Keadaan taman kota memang tidak terlalu ramai juga tidak terlalu sepi.


Ddrrttt ddrrttt


Lagi-lagi Ara mendapatkan telpon dari nomor yang sama. Ara seger menggeser tombol hijau pada layarnya.


“Buang ponselmu di semak-semak dengan jarak enam langkah dari tempatmu berdiri” perintah pria di seberang sana, Felix.


Tutt tutttt


Ara menghela nafas sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok yang baru saja menghubunginya. Tanpa berpikir lama lagi, Ara menghidung langkahnya sampai pada langkah yang ke enam. Ara mulai melepar ponselnya dengan sedikit ragu ke arah semak-semak.


Lalu seorang pria bertubuh kekar keluar dari mobil jeep dan menghampirinya yang masih termenung menatap ponselnya.


“Tuan Felix sudah menunggumu nona” ucap pria berwajah sangar membuat Ara bergidik sendiri.


Ara pun ikut masuk kedalam mobil dan diapit oleh dua pria. Tak lama Ara dibekap dengan kain sampai ia tak sadarkan diri.


...****...


Seorang pria paruh baya masuk kedalam ruangan kumuh dimana ia menyekap seorang gadis yang tak lain adalah Ara. Pria paruh baya itu mendekati Ara yang terduduk di kursi dengan tubuh terikat erat. Tanpa perasaan pria paruh baya itu menjambak rambut Ara, tapi Ara yang masih pingsan tidak merasa terganggu.


“Bangunkan dia” perintah pria paruh baya itu pada anak buahnya.


“Siap tuan” jawab pria bertubuh kekar itu sambil mengangkat ember berisi air es dan mengguyur air dingin itu mulai dari atas kepala Ara.


BYUUURRR


Terlihat Ara yang gelagapan karena guyuran air es itu. Kepalanya terasa pening ditambah dengan dinginnya air es yang mengenai tubuhnya, Ara terkejut saat mendapati dirinya yang terikat di kursi. Matanya mulai menelisik setiap sudut ruang sampai pandangannya tertuju pada pria paruh baya yang tersenyum miring duduk tak jauh dihadapannya.


Tubuh Ara seketika bergetar bukan hanya kedinginan tapi rasa takut mulai menghantui dirinya. Ara merutuki dirinya sendiri saat ini, kemana keberaniannya saat ini. Di belakang pria paruh baya itu ada dua pria berbadan kekar dengan cambuk di tangannya.


“Hai putri ku” sapa pria paruh baya itu sambil bangkit mendekati Ara.


“Ah aku lupa kau bukan putriku” ucap pria paruh baya itu terus berjalan mengelilingi Ara sampai ia berhenti tepat di depan Ara.


Pria paruh baya itu sedikit membungkukkan badannya kedepan dan dengan kasar ia menarik rambut Ara.


“Sa-sakit” desis Ara meringis menatap wajah pria paruh baya yang tampak tenang.


Bukan melepas pria paruh baya itu semakin mencengkram rambut Ara, membuat Ara merasa akan kehilangan rambutnya saat ini juga. Rasa panas dan sakit menjalar diarea kepalanya. Tidak ada yang bisa Ara lakukan selain menangis dan memohon.


“Memohonlah pada ku gadis kecil” lirih pria paruh baya itu tepat di samping telinga Ara.


Seketika pria paruh baya itu tertawa puas mendengar tangis dan permohonan putrinya. Putrinya? Ck yang ada hanya membuatnya semakin emosi.


PLAAKKK


PLAAKKK


Dua tamparan melayang pada pipi kanan dan kiri Ara. Penampilannya saat ini benar-benar mengenaskan, rambut acak-acakan belum lagi pipi nya yang merah bekas tamparan kuat sampai sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah kental, darah.


“JANGAN PANGGIL AKU PAPA, KARENA KAU BUKAN PUTRI KU. DAN AKU TIDAK PERNAH MEMILIKI ANAK PEREMPUAN, APA LAGI SEPERTIMU!!! KAU YANG MEMBUAT ISTRIKU MENINGGAL SAAT ITU DAN TERNYATA KAU JUGA ANAK DARI HAYDAR MAHESA. SIALAN!!” Teriak pria paruh baya yang tak lain adalah Felix.


PLAAKKK


PLAAKKK


Ara hanya meringis menahan sakit di pipinya. Baginya ini sudah hal biasa tapi, ia sudah lama tidak mengalami hal yang seperti ini lagi. Sungguh malang nasibnya yang harus terjebak seperti ini. Ini juga kebodohannya yang terlalu percaya bahwa ia bisa merubah semua menjadi lebih baik.


Andai jika Ara tidak ceroboh dan memberitahukan semua ini pada Alex atau Riko, tapi ia juga sangat ketakutan tentang keselamaran kakak dan kekasihnya itu.


“Hah, seperti nya aku tidak usah berteriak seperti ini. Aku harus merasa bahagia saat ini, karena sebentar lagi aku akan memusnahkanmu dan juga kakakmu. Hahahahaha” tawa Felix menggelegar memenuhi ruangan kumuh dan sedikit tamaran ini.


Ara mendongak menatap Felix yang kini kembali duduk di depan sana.


‘Apa yang akan dia lakukan pada kak Alex? Tidak-tidak, kak Alex akan baik-baik saja bukan?’


“A-apa ma-maksudmu?” tanya Ara dengan terbata.


Dapat ia lihat seringai di wajah Felix saat ini.


“Kau terlalu bodoh gadis kecil, apa kau tak berpikir dengan ada nya dirimu di sini? Akan sangat mudah bagiku menarik kakakmu untuk datang tanpa aku harus takut. Dengan sedikit ancaman dengan menggunakanmu akan sangat mudah membuat kakakmu tunduk padaku, bukan begitu?” ucap Felix santai.


Ara meradang mendengar perkataan santai dari Felix.


“DASAR PENGECUT!” teriak Ara sekuat tenaga.


“Kau bilang aku apa? Pengecut? Hahahaha” tawa Felix sambil bertepuk tangan lalu melirik tajam Ara.


“Buat dia berlutut di hadapanku!” perintah Felix dengan tegas.


Pria bertubuh kekar melepas tali yang melilit tubuh Ara tapi tidak dengan ikatan pada tangan dan kakinya. Pria itu lalu mendorong Ara membuatnya jatuh terduduk dengan kedua tangan terikat menyangga tubuhnya.


“Masih ada waktu satu setengah jam sebelum kakakmu tiba” ucap Felix mendekati Ara.


Felix mengangkat dagu Ara dengan telunjuknya, lalu meremas rahang Ara dengan kasar.


“Nikmati waktumu” desis Alex dengan seringainya.


Lalu Felix memberi isyarat pada dua pria yang berdiri di belakangnya tadi jangan lupa cambuk di tangan mereka.


“Jangan sampai mati”


Setelah mendengar perintah bosnya mereka berdua mencambuk tubuh mungil Ara tanpa ampun.


CTTAAARRRR


CTTAAARRRR


Ara meringkuk di atas lantai dingin meringis merasakan panasnya cambukan yang ia terima, tubuhnya seakan mati rasa, lemas tak berdaya. Ara hanya menangis dan merintih kesakitan.


‘Kak Alex, kak Fano tolong Ara’ batin Ara menangis sebelum akhirnya tak sadarkan diri.


Siang semua🥰


Akhirnya author bisa up lagi untuk kalian🤗


Beberapa part menuju akhir nih, jadi jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya🔥🔥🔥🔥


Semoga kalian terhibur😌


Salam hangat author❣️