
Sesampainya di rumah Nyonya Leona, Ghiea langsung melompat turun dari mobil karena ia tak sabar ingin makan bakso nya dan lagi lagi ia mendapatkan teguran dari Xavier karena tingkah nya yang menurut Xavier tak hati hati.
"Hati hati, Sweetheart. Kamu sedang hamil..."
"Aku sudah tidak sabar mau makan bakso nya, Honey" rengek Ghiea.
"Iya, tapi jangan melompat. Kasihan bayi kita terguncang..." seru Xavier dan ia langsung mengambil plastik berisi bakso yang di pegang Ghiea.
Mereka menekan bel pintu dan tak lama kemudian Nyonya Leona membukakan mereka pintu, Nyonya Leona terlihat terkejut karena kedatangan Xavier dan Ghiea secara tiba tiba apa lagi ini masih jam kerja.
"Sudah pulang?" tanya Nyonya Leona menatap menantu dan putra nya itu. Ghiea dengan tak sabar langsung masuk dan tujuan nya adalah dapur dan ia bahkan mengabaikan pertanyaan Ibu mertua nya.
"Iya, Mom. Ghiea mual tadi di kantor. Jadi aku fikir dia harus beristirahat di sini, aku masih banyak pekerjaan hari ini jadi aku tidak bisa menjaga nya'' kata Xavier sembari berjalan masuk mengikuti Ghiea.
"Terus kamu bawa apa? Hmm Aroma nya enak sekali..." kata Nyonya Leona mengintip plastik yang d tenteng Xavier.
"Bakso, masak Ghiea mengidam bakso yang ada di pinggir jalan, Mom?" Xavier sambil meringis mengucapkan nya.
"Oh ya?" pekik Nyonya Leona yang justru tampak girang "ini pasti enak sekali, bakso pinggir jalan itu punya ciri khas" kata nya dan ia menyambar bakso nya dari tangan Xavier yang membuat Xavier melongo, ia mempercepat langkah nya menuju dapur dan ternyata Ghiea sudah mengambil dua mangkuk di sana lengkap dengan sendok garpu nya.
"Mommy pasti mau, maka nya aku beli dua" kata Ghiea sambil tersenyum lebar.
"Baiklah, kalian makan bakso nya aku pergi dulu" kata Xavier kemudian ia mengecup pelipis Ghiea.
"Tunggu dulu, Honey. Kita makan sama sama..." kata Ghiea sambil menuangkan sambal satu bungkus ke dalam mangkuk nya yang sudah berisi bakso.
"Ghiea, itu terlalu banyak sambalnya, Dear. Nanti kamu sakit perut" Nyonya mengingatkan sambil menuangkan bakso nya sendiri ke dalam mangkuk.
"Tidak, Mom. Ini pasti akan enak" kata Ghiea namun tentu Xavier tak ingin Ghiea makan yang pedas.
"Sweetheart, jangan makan yang pedas pedas. Nanti bayi kita panas" kata nya cemas.
"Tidak akan, nama nya juga mengidam" sanggah Ghiea.
"Tidak, kamu ikuti perintah ku dan ini demi kebaikan mu dan bayi kira" tegas Xavier yang membuat Ghiea menghela nafas berat, sifat posesif suami nya ini membuat nya jengah di saat saat seperti ini. Tapi membuat nya meleleh dan terbuai di saat saat yang lain.
"Kalau begitu telfon Dokter Merry, tanyakan pada nya apakah aku boleh makan pedas atau tidak" tantang Ghiea dan tentu Xavier tanpa membuang waktu langsung merogoh ponsel nya dan menghubungi Dokter kandungan Ghiea, tak lupa Xavier me loudspeaker panggilannya supaya Ghiea bisa mendengarnya.
"Ya, Pak Xavier. Ada yang bisa saya bantu?" terdengar suara kalem Dokter Merry dari seberang telfon.
"Dokter, apa Ghiea boleh makan yang pedas?" tanya Xavier langsung pada inti nya.
"Boleh, Pak Xavier. Asal jangan berlebihan agar tidak sakit perut" kata Dokter Merry yang membuat Ghiea tersenyum penuh kemenangan.
"Hanya ingin makan bakso pedas, Dok. Tapi Xavier melarang ku, padahal aku benar benar mengidam" seru Ghiea yang membuat Dokter Merry terkekeh.
"Baik, Dokter. Saya faham..." kata Xavier datar dan ia langsung memutuskan sambungan telfon nya tanpa memikirkan kesopanan pada Dokter kandungan Ghiea, membuat Ghiea hanya bisa geleng geleng kepala.
"Sebenarnya makan yang pedas memang tidak masalah, aku sudah pengalaman kok" kata Nyonya Leona kemudian ia membawa mangkuk nya ke meja makan, begitu juga dengan Ghiea yang mengekori nya. Nyonya Leona menuangkan air ke gelas dan meletakkan di depan Ghiea.
"Dulu sewaktu aku mengandung Xavier, aku justru mengidam rujak mangga dengan cabai 30 biji" kata nya yang membuat Xavier dan Ghiea meringis "Terus pas mengandung Max, justru selalu mengidam yang manis manis"
"Pantas saja satu nya pedas satu nya manis..." celetuk Ghiea sambil melirik Xavier dari ekor mata nya.
"Memang nya kapan aku pedas sama kamu, hm?" tanya Xavier sambil memijat pundak Ghiea yang kini sudah duduk di kursi nya.
"Tidak pernah sih, manis terus. Cuma sama Dokter Merry pedas, sama para karyawan juga pedas" jawab Ghiea sambil terkekeh dan ia mulai menyeruput kuah bakso nya sementara Xavier hanya tersenyum simpul.
"Hem enak nyaaaa...." kata Ghiea dengan mata yang berbinar "Ayo duduk dulu, Honey. Kita makan bakso bersama, ini enak sekali" kata Ghiea penuh penekanan di akhir kalimat.
"Tidak, Sweetheart. Aku harus bertemu dengan klien ku satu. jam lagi, aku harus ke kantor sekarang..." kata Xavier lembut kemudian mengecup pucuk kepala Ghiea.
"Sedikit saja, Honey..." Ghiea memaksa dan tentu Xavier tak ingin membuat sang istri kecewa jika ia menolak, Xavier membuka mulut nya saat Ghiea menyuapi nya bahkan Xavier sampai lupa dengan sambal yang tadi hingga...
"Aaagh..." Xavier berteriak sambil mengibaskan tangan nya di depan mulut nya yang terasa terbakar saking pedas nya.
"Kenapa?" tanya Ghiea dengan polos nya.
"Ya tuhan, ini benar benar pedas, Sweetheart" seru Xavier dan ia segera mengambil air kemudian meminum nya. Nyonya Leona yang melihat hal itu hanya terkekeh geli.
"Hehe, maaf. Lupa, Honey..." kata Ghiea kemudian ia membantu mengelap dagu Xavier yang basah karena air.
"Maaf ya..." Ghiea menatap suami nya itu dengan tatapan sendu, membuat hati Xavier tersentuh.
"Ini benar benar pedas, Sweetheart. Jangan banyak banyak makan nya ya, nanti kamu sakit perut" kata Xavier dan Ghiea menganggukan kepala nya "Gadis pintar..." imbuh nya sambil mengusap kepala Ghiea.
"Baiklah, jadi aku boleh pergi sekarang kan? Nanti sore aku akan menjemput mu" ujar nya.
" Okey" jawab Ghiea kemudian ia mengecup pipi Xavier.
Setelah Xavier pergi, Ghiea kembali ke kursi nya dan ia langsung menikmati bakso nya dengan lahap begitu juga dengan Nyonya Leona.
"Dear, kata Xavier jangan banyak banyak makan bakso nya..." Nyonya Leona kembali memperingatkan Ghiea karena ia melihat bakso Ghiea sudah mau habis.
"Kalau di depan suami bilang saja 'Iya', Mom..." kata Ghiea sambil terkekeh yang membuat Ibu mertua nya juga tertawa, Ghiea menghabiskan bakso nya tanpa sisa bahkan ia meminum kuah nya dari mangkuk nya...
"Ugh, sungguh nikmat..." kata nya kemudian sambil menepuk perut nya yang teras kenyang.