My Possessive Boss Is My Husband

My Possessive Boss Is My Husband
Episode 38



Ghiea yg baru selesai mandi dan masih dengan handuk yg melilit di tubuh nya, mengering kan rambut nya dengan hairdryer sambil menari nari ria, ia memutar musik dari ponsel nya. Ghiea melakukan ini karena ia mulai bosan seharian di rumah tanpa melakukan apapun.


"Semua ini gara gara dia.." teriak nya sambil terus menari nari riang seperti orang gila "but its okey, asal di kasih uang bulanan..." teriak nya lagi dengan sebuah nada seolah ia sedang menyanyi.


"Tapi tidak, tidak mau menjadi simpanan" ucap nya lagi


Sementara itu, Xavier sengaja pulang lebih cepat hari ini karena ia kefikiran dengan Ghiea nya yg sendirian di rumah.


Xavier masuk ke kamar dan ia tercengang saat nelihat Ghiea yg menari dengan tubuh yg hanya di balut handuk yg menutupi dada hingga setengah paha nya.


Xavier menyenderkan punggung nya di daun pintu dengan tangan yg bersandekap di dada. Ia menggigit bibir nya saat melihat kaki telanjang Ghiea yg melompat lompat indah, apa lagi kaki jenjang nya itu sungguh menggoda iman.


Ghiea yg berputar akhir nya menyadari kehadiran Xavier, ia langsung menghentikan aktifitas nya itu.


"Kau... Kau sudah pulang?" Ghiea mengutuk diri nya sendiri yg gugup saat mengucapkan pertanyaan itu.


Tapi tunggu, kenapa harus ada kata 'Pulang'? memang nya Ghiea sudah menerima Xavier sebagai penghuni rumah nya?


Menyadari itu juga, Ghiea menghela nafas frustasi, hari hari yg ia lewati bersama Xavier sungguh merenggut kewarasan nya dan akal sehat nya.


"Yes, Sweetheart" jawab Xavier dengan suara parau nya, tatapan nya nyalang menatap tubuh Ghiea yg begitu seksi di mata nya. Xavier tak bisa membohongi diri nya sendiri bahwa ia masih merindukan sentuhan istri nya. Masih rindu menyatu dengan sang istri setelah 5 lima tahun lebih ia hanya bisa menatap Ghiea dari kejauhan.


Ghiea segera mematikan hair dryer nya, mematikan musik nya sambil berdeham, guna menetralkan perasaan nya yg berkecamuk tak karuan.


Sementara Xavier melangkah lebar menghampiri Ghiea dan langsung memeluk nya dari belakang. Membuat Ghiea terkesiap dengan sentuhan itu apa lagi saat Xavier menunduk dan mengecup pundak telanjang nya.


Nafas Ghiea memberat dan tubuh nya meremang saat merasakan nafas panas Xavier yg membelai pundak nya.


"Xavier, jangan..." Ghiea berkata lirih saat tangan Xavier terulur ke depan dan menarik sampul handuk Ghiea. Namun Ghiea terlambat, kini handuk itu meluncur bebas dan menumpuk di kaki nya.


Bukan nya marah apa lagi melawan, Ghiea justru menarik nafas nya yg semakin memberat dan memburu, dada nya naik turun menahan gejolak bergemuruh di dada dan di perut nya. Tubuh nya meremang, gemetar, dan ia merona indah.


Xavier selalu suka dengan respon tubuh Ghiea akan sentuhan nya, selalu sama. Membuat Xavier candu bak morfin.


"I miss you, sweetheart" Xavier berbisik mesra di telinga Ghiea, dan dengan sengaja ia menghembuskan nafas panas nya di sana membuat akal sehat Ghiea semakin memudar, apa lagi ketika kedua tangan Xavier bekerja sama dengan sangat baik dalam memberikan sentuhan sentuhan yg membuat Ghiea hanya bisa mengerang lirih.


"Xavier..." ia kembali mendesahkan nama pria ini tanpa bisa di cegah. Ghiea menyenderkan kepala nya di dada Xavier saat tangan Xavier bergerak nakal ke bawah sana.


"Aku selalu suka setiap kali kau menyebut nama ku di saat seperti ini, Sweetheart..." bisik Xavier sebelum akhir nya ia mengangkat Ghiea ke dalam gendongan nya. Membuat Ghiea sedikit terkejut.


Xavier membawa Ghiea ke ranjang, menidurkan nya dengan begitu lembut. Ghiea berusaha keras mengembalikan akal sehat nya Saa Xavier dengan tak sabar melepas pakaian nya sendiri.


"Xavier, please...."


"Tidak, Sweetheart. Tidak salah..." kata Xavier dan ia sudah menindih tubuh Ghiea yg terasa begitu pas dengan tubuh nya.


"Tapi... " Xavier langsung membungkam mulut Ghiea dengan bibir nya, Ghiea yg tak siap dengan serangan itu hanya bisa melotot sempurna. Setelah beberapa detik Xavier meraup rakus bibir nya, Ghiea mencoba mendorong dada Xavier namun Xavier menangkap tangan Ghiea dan membawa nya menyentuh bagian tubuh nya yg sensitif. Xavier juga mengerang lirih, dan entah setan apa yg merasuki Ghiea, namun Ghiea merasa suka saat mendengar Xavier mengerang lirih, itu seperti lonceng penyemangat bagi nya. Apa lagi saat Xavier menatap nya dengan tatapan yg penuh kabut gairah dengan mulut yg sedikit terbuka dan suara erangan kecil yg lolos dari bibir nya, membuat Ghiea merasa puas, sehingga tangan nya secara otomatis bergerak sendiri memanjakan Xavier. Hilang sudah akal Sehat nya apa lagi saat Xavier memekik tertahan dan tubuh nya terlonjak dengan otot otot yg tertarik.


"Saat nya melepas rindu lagi, Sweetheart. Dia ingin tenggelam dalam rumah hangat nya, sungguh aku tidak tahan lagi" bisik nya dengan nafas yg begitu memburu, membuat Ghiea merona dan hilang sudah semua akal sehat nya.


.........


Max dan ibu nya sedang jalan jalan di mall setelah Max bekerja, mereka menikmati es krim, bermain di area permainan. Max tampak sangat bahagia, bahkan sesekali ia bergelanyut manja pada ibu nya.


Diana dan Melissa juga ada di mall yg sama, dan saat mereka memergoki Max dan Ibu nya, mereka hanya bisa geleng geleng kepala.


"Dasar anak Mami ya..." kata Diana sambil meringis.


"He'em..." Melissa menanggapi sambil memangku dagu nya dengan tangan nya, ia fokus menatap Max yg sebenar nya sangat tampan tapi sayang nya Culun.


"Padahal dia tampan ya..." komentar nya yg membuat Diana mencebikan bibir nya. Ia mengambil ponsel nya, membuka Gallery dan melihat foto Max yg tanpa kacamata. Diana mengela nafas berat saat menyadari Max memang sangat tampan.


"Kenapa ya, kebanyakan orang Culun itu sebenar nya tampan" ucap nya lagi dan Melissa hanya mengedikan bahu.


Diana pun menarik Melissa dan mengajak nya menyapa Max dan Mama nya.


Max yg melihat Diana datang sedikit terkejut, bukan karena apa, tapi biasa nya Diana datang hanya untuk mengerjai nya. Max membenarkan kaca mata segi empat nya yg senantiasa bertengger di atas hidung mancung nya sambil menatap Diana penuh antisipasi.


''Hai, Max... " sapa Diana melambaikan tangan nya pada Max.


"Hai, Diana. Hai Melissa..." Max tetap menyapa dengan senyum ramah nya.


"Hai, Tante..." Melissa menyapa ibu nya Max.


"Hai juga, Mel. Di. Kalian sedang apa di sini?" tanya nya basa basi.


"Yg pasti tidak sedang kuliah" jawab Diana asal yg membuat ibu nya Max tertawa, sementara Max mencebikan bibir nya.


"Mana ada orang kuliah di mall, Diana. Kau ada ada saja, kecuali sewaktu kuliah kau sering bolos dan pergi ke mall, terus kau bilang pada orang tua mu kau sedang kuliah, jadi kau kuliah nya di mall" ucap Max panjang lebar.


"Oh, kau pintar sekali..." ujar Diana sambil mencubit gemas kedua pipi Max, membuat Melissa dan Ibu nya Max melongo karena tak menyangka Diana akan melakukan itu di depan ibu nya Max. Sementara Max langsung menyingkirkan tangan Diana dari pipi nya sambil memberengut kesal.


"Ish, Diana..." geram nya kesal namun malah tampak lucu dan menggemaskan di mata Diana "Kau ini naksir aku ya, suka sekali sentuh aku terus..." gerutu Max yg membuat Diana langsung menganga lebar dengan mata yg melotot sempurna. Apa lagi ketika ia melirik Ibu nya Max yg tampak nya menahan senyum geli, membuat Diana merasa salah tingkah.


"Si culun ini kenapa bicara begitu? Awas saja nanti yaa...."