
"Kamu sendiri cemburu sama Alan?" Diana balik bertanya karena ia masih belum siap menyingkirkan ego nya.
"Iya, karena aku suka sama kamu, Di"
Diana yang mendengar pengakuan lirih Max langsung menoleh dan menatap pria yang sering ia bully itu, tatapan kedua nya bertemu dan Diana mencoba mencari ketidak seriusan di mata sang pria namun yang Diana temukan hanya keseriusan dan ia tahu, seorang Max hampir tak pernah bisa berbohong, pria itu bahkan tidak tahu cara nya berbohong yang baik.
"Aku serius, Diana..." lirih Max lagi, ia menatap Diana dengan begitu dalam membuat hati Diana bergetar namun Diana masih hanya diam. Tak mendapatkan jawaban dari Diana, Max akhirnya menundukkan kepala, ia merasa ini tidak akan berhasil.
"Aku tahu, aku bukan pria yang kamu mau, tapi aku rela jadi apapun seperti yang kamu..." ucapan Max langsung terhenti saat tiba tiba tangan mungil Diana menangkup pipi nya yang bersih tanpa bulu bulu itu, Diana memaksa Max mendongak dan sekali lagi tatapan kedua nya bertemu.
"Aku aku benci penampilan mu yang sekarang..." kata Diana yang tentu saja membuat pupil mata Max langsung membesar.
"Diana, aku..."
"Aku suka kamu apa ada nya, Max" lirih Diana malu malu dan hal itu tentu saja membuat senyum sumringah langsung terbit di bibir Max tanpa bisa di tahan.
"Jadi kamu tidak suka penampilan ku yang sekarang? Kamu mau aku berpenampilan seperti dulu lagi?" tanya Max antusias yang membuat Diana terkekeh.
"Maksud ku, aku suka kamu selama kamu menjadi diri kamu sendiri. Lagi pula, memang nya kamu nyaman tanpa kaca mata?" tanya Diana dan kali ini ia terlihat lebih rileks.
"Tidak nyaman sih, tapi siapa tahu nanti aku terbiasa" kata Max lagi.
"Pakai saja kaca mata mu lagi, aku suka" kata Diana lirih.
"Terus, kalau gaya rambut ku, kamu suka? Ghiea bilang warna rambut ku sekarang bagus" Max juga berkata lirih. Sekarang kedua nya seperti remaja yang baru kencan pertama kali, malu malu kucing.
"Iya, aku suka" kata Diana sambil menahan senyum.
"Aku juga suka gaya rambut mu dan warna nya" kata Max serius namun Diana merasa itu hanya basa basi.
"Dari aku lahir, warna rambut ku memang begini" kata Diana.
Kedua nya pun kembali terdiam saat tak tahu lagi harus berkata apa, namun tautan tangan kedua nya tak pernah lepas dan semakin erat.
"Emm aku rasa kita harus kembali bekerja" kata Diana setelah cukup lama kedua nya kembali terdiam.
"Iya, nanti Xavier marah kalau aku tidak bekerja" kata Max dengan polos nya.
"Tidak mungkin dia marah, kan kamu juga bos di sini, adik kesayangan Pak Xavier juga" tukas Diana dan ia menarik tangan nya dari tangan Max.
Diana pun segera berdiri dan hendak pergi lebih dulu namun Max memanggil nya, Diana pun langsung menghentikan langkah nya dan menoleh.
"Ada apa?" tanya nya.
"Apa sekarang kita pacaran?"
..........
Saat sore hari, Ghiea kembali di periksa oleh Dokter Merry dan karena semua nya baik baik saja, Ghiea pun di perbolehkan pulang.
"Tapi jangan sampai stres ya, Bu Ghiea. Kehamilan di trimester pertama ini bisa sangat rentan, jadi harus benar benar di jaga ya, baik kesehatan fisik apa lagi psikis nya" tukas Dokter Merry.
"Baik, Dokter" jawab Nyonya Leona "Aku akan menjaga menantu dan cucu ku dengan baik" kata Nyonya Leona.
"Dan kamu juga Xavier..." ia menatap putra nya itu "Hari ini kamu sudah teledor dalam menjaga istri mu, awas saja kalau lain kali ini kembali terjadi"
"Tidak akan, Mom. Aku janji..." tegas Xavier bahkan ia langsung memasang wajah serius nya, membuat Ghiea terkekeh.
"Baiklah, sekarang kita bisa pulang kan, Dok? Aku masih ingin makan ayam geprek" kata Ghiea setengah merengek yang membuat Dokter Merry tertawa kecil.
"Suster, bawakan kursi roda ya untuk istri ku" titah Xavier pada Suster yang ada di sana.
"Aku rasa aku tidak perlu kursi roda, Honey. Aku bisa jalan sendiri" kata Ghiea.
"Tidak, nanti kamu lelah. Kata Dokter kamu juga tidak boleh lelah" tegas Xavier tanpa di bantah.
"Baiklah, Tuan posesif" jawab Ghiea pasrah.
...
Max sudah sampai di rumah dan ia merasa heran karena rumah nya kosong, hari bahkan sudah mulai gelap namun lampu di rumah nya tak ada satupun yang menyala.
Max membuka pintu dengan kunci yang ia bawa, Max langsung menyalakan semua lampu setelah itu ia merogoh ponsel nya nya dan hendak menghubungi Mommy nya. Namun dari luar terdengar suara klakson mobil, Max segera bergegas keluar dan ia melihat Xavier yang turun dari mobil sembari menggendong Ghiea.
"Mom, Ghiea kenapa?" tanya Max cemas.
"Tidak apa apa, hanya mengalami kecelakaan kecil tadi" kata Mommy nya yang juga baru turun dari mobil.
"Kecelakaan apa? Pantas tadi kalian tidak pergi ke kantor. Ghiea dan bayi nya tidak apa apa kan?" tanya Max sembari mengekori Xavier yang masuk ke dalam rumah.
"Aku tidak apa apa, Max" jawab Ghiea dan ia mengintip Max dari balik pundak sang suami "Aku juga bisa jalan sebenar nya tapi Xavier bersikeras mau menggendong ku"
"Aku hanya ingin memastikan kamu baik baik saja, Sweetheart" sambung Xavier dan ia mendudukan Ghiea di sofa panjang.
"Max, Xavier dan Ghiea akan tinggal di sini sementara waktu" kata Nyonya Leona yang tentu saja membuat Max senang.
"Asyik, jadi ramai rumah ini. Selama ini aku cuma tinggal berdua sama Mommy" ujar Max girang.
"Jadi siapkan kamar untuk kakak ipar mu ini, adik" kata Xavier lagi.
"Di samping kamar ku saja, kamar nya luas dan bersih" kata Max menawarkan.
"Tidak, di lantai satu saja" kata Xavier dan Ghiea hanya mengedipkan bahu "Itu lebih aman, tidak perlu naik turun tangga"
"Baiklah" sambung Nyonya Leona "Kalian jangan berdebat, kamar di lantai satu juga bersih. Tinggal Mommy ganti seprei saja"
"Aku bisa sendiri, Mom" kata Ghiea yang sudah hendak berdiri namun Xavier melarang nya
"Biar aku saja, Sweetheart. Kamu duduk saja di sini, dan Mommy biar membuat ayam cabai yang kamu mau itu"
"Ide bagus" ujar Ghiea.
...
Sekarang semua nya sudah berkumpul kembali di meja makan, Ghiea juga sudah mandi dan jauh terlihat lebih segar dari sebelum nya begitu juga dengan yang lain kecuali Nyonya Leona, karena ia sibuk memasak. Xavier juga dengan pintar nya sudah mengganti seprei di kamar tamu yang ada di lantai satu, sementara Max dan Ghiea, kedua manusia itu hanya santai santai dan saat Nyonya Leona sudah selesai masak, kedua nya hanya tinggal makan.
Ghiea menikmati ayam geprek yang ia mau, sementara Xavier, Max dan Mommy nya hanya bisa meringis melihat Ghiea yang tampak benar benar menikmati makanan pedas itu.
"Enak ya, Ghe?" tanya Max masih meringis.
"He'em" jawab Ghiea sambil menganggukan kepala nya.
"Oh ya, tadi memang nya Ghiea kecelakaan apa dan dimana?" tanya Max kemudian.
"Di lift" jawab Xavier yang justru membuat Max teringat dengan tragedi di lift tadi.
"Di lift..." gumam Max yang justru mesem mesem, dan tentu membuat semua orang langsung mengernyitkan kening nya dengan raut wajah Max.