
"Jadi yang sejak tadi kita bahas itu????"
Melissa dan Daddy nya Alan itu saling menatap dengan raut wajah yang tak bisa di artikan. Apa lagi tadi kedua nya sama sama menjelekan sosok Alan tanpa mereka ketahui siapa lawan bicara mereka.
"Alan, jadi ini pacar mu?" tanya sang Daddy sambal menatap Melissa sementara Melissa hanya bisa meringis dan menatap malu ayah nya si Alan.
"Iya, Dad. Nama nya Melissa, dan ini Daddy ku, Sugar. George, kamu bisa memanggil nya Omi George, mau panggil Daddy juga boleh" goda Alan sembari mengedipkan sebelah mata nya pada Melissa membuat Melissa mendengus. Alan pun duduk di kursi yang berada di samping Melissa.
"Jadi teman mu yang playboy, mesum dan bukan pria yang baik yang biar di urus sama bapak nya itu dia?" tanya Om George sambil menunjuk Alan sementara tatapan nya masih tetap menatap Melissa.
"Maksud nya?" tanya Alan tak mengerti sementara Melissa hanya bisa garuk-garuk tengkuk nya yang tak gatal itu.
"Bukan apa-apa" jawab Om George sembari melemparkan senyum manis nya pada Melissa.
"Jadi, kalian sudah pesan makanan?" tanya Alan kemudian.
"Belum, tadi kami membicarakan tentang ngasih pelajaran dan mengerjai seseorang" jawab Om George lagi yang membuat Melissa merasa semakin tak punya wajah.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah menghina Alan habis habisan di depan Daddy nya sendiri?"
"Maksud nya? Kalian tampak mencurigakan" kata Alan kemudian yang bisa merasakan atmosphere yang berbeda antara Daddy dan pacar nya.
"Bukan apa apa, Alan. Oh ya, berapa lama kalian saling mengenal?" tanya Om George mencairkan suasana.
"Tidak terlalu lama, dia ini sahabat nya Ghiea. Istri Xavier..." jawab Alan sementara Melissa masih tak tahu harus berkata apa karena semua kata kata yang tak seharusnya di ucapkan sudah keluar tadi tanpa bisa di saring.
"Oh begitu, bagus dong. Suami sama suami sahabat, istri sama istri sahabat. Bisa semakin langgeng hubungan kalian" ujar Om George.
"Langgeng apa nya, Dad? Kan aku sudah kasih tahu hubungan ku dan Melissa cuma sebulan" jawab Alan dengan santai nya yang membuat Melissa teperangah, tak menyangka Alan akan memberi tahu hal itu ada ayah nya. Melihat raut wajah Melissa yang tampak terkejut membuat Om George terkekeh.
"Kami selalu terbuka satu sama lain, sweetie"
"Iya, kamu gadis yang manis. Tidak heran Alan memanggil mu Sugar"
"Hehe" Melissa hanya bisa cengengesan.
"Ngomong ngomong, aku suka apa yang kamu lakukan. Aku mendukung mu" kata Om George lagi.
"Kalian menyembunyikan sesuatu?" tanya Alan menatap dua orang di depan nya ini.
"Tidak" jawab Melissa, jadi kita mau pesan apa?" Melissa mengalihkan topik pembicaraan dan seperti nya Om George tidak masalah dengan hal itu.
"Apa saja, pesankan Om yang rendah kalori"
"Baik, Om" kata Melissa.
Mereka pun memanggil pelayan memberi tahu apa yang mau mereka pesan. Dan sambil menunggu makanan datang, ketiga nya terlibat obrolan runnable namun Alan merasa ada yang aneh karena Daddy nya selalu ada di posisi Melissa. Bahkan tak jarang mereka berdua menyudutkan Alan. Sampai pesanan datang dan meraka makan pun obrolan masih terus berlanjut.
"Seharus nya dia berubah dan menjalani kehidupan yang lebih baik, iya kan, Om?"
"Om sudah lelah menasihati dia, Sweetie. Kalau dia sudah tua nanti baru dia sadar, pasangan hidup itu sangat penting. Yang menemani masa tua itu bukan teman apa lagi relasi bisnis, tapi pasangan"
"Hubungan yang serius itu hanya menambah masalah, Daddy"
"Tergantung yang menjalani nya, serius atau tidak? Bertanggung jawab atau tidak? Bukti nya Ghiea dan Xavier..."
"Iya juga ya..." gumam Alan.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?"
"Apa???"