My Possessive Boss Is My Husband

My Possessive Boss Is My Husband
Episode 47



"Cuma gara gara itu?" tanya Melissa pada Diana yang uring uringan sejak kemarin hanya karena Max ngambek pada nya.


"Jangan jangan benar ya, kamu itu naksir sama Max?" tanya Melissa yang membuat kedua bola Diana langsung melotot sempurna.


"Gila, tidak mungkin lah aku naksir si culun itu. Aku kan cuma merasa bersalah, gara gara aku dia sampai kepentok ujung meja, itu saja" sangkal nya yang membuat Melissa mendengus.


"Ya gara gara kepentok meja saja sudah merasa bersalah nya sampai uring uringan, apa lagi kalau sudah kepentok pesona si culun...." cibir Melissa sementara Diana hanya mendelik kesal.


Pagi ini seperti biasa, mereka sudah siap di meja kerja mereka untuk melakukan tugas kantor yang menumpuk.


" Andai saja ada Ghiea ya... " ucap Diana kemudian.


"He'em, bisa gosip bareng kita..." sambung Melissa namun Diana tak menanggapi nya, pandangan nya menyoroti Max yang kini sudah datang dan duduk di meja kerja nya. Tatapan kedua nya sempat bertemu dan Diana melempar senyum manis nya namun Max memalingkan wajah nya membuat Diana sangat kesal.


"Di..."


"Apa sih..." bentak Diana pada Melissa yang membuat Melissa terkejut, karena ia tak pernah melihat Diana sensi seperti ini dalam keadaan apapun.


"Astaga, Di. Sampai segitu nya..." gerutu Melissa yang membuat Diana langsung cengengesan setelah menyadari sikap nya.


"Sorry, Mel. Tadi kenapa?" tanya nya.


"Tau ah..." Melissa kembali fokus pada layar komputer nya dan tak mengindahkan Diana yang masih merayu nya.


"Kenapa pada ngambek semua..." gumam Diana dan ia pun fokus juga pada pekerjaan nya.


...


"Ingat ya, jangan kemana mana. Ini demi keamanan mu sendiri, demi keselamatan mu" tegas Xavier untuk yang kesekian kali nya. Saat ini ia sedang mengancingkan kemeja nya dengan buru buru karena sebentar lagi penerbangan nya. Sementara Ghiea masih dalam balutan piyama berbahan satin itu yang sebenar nya membuat jiwa lelaki Xavier bergejolak, karena Ghiea terlihat begitu menggoda dalam piyama tipis yang memperlihatkan dada nya itu.


"Iya" jawab Ghiea malas. Entah mengapa ia seperti tidak ingin Xavier pergi, seperti seorang istri yang enggan berpisah dengan suami nya.


"Kamu mau aku bawain oleh oleh apa nanti?" tanya Xavier yang kini sedang memakai jas nya.


"Apa saja" jawab Ghiea ketus membuat Xavier terkekeh. Karena memang seperti itu kebiasaan Ghiea jika Xavier hendak pergi.


"Kamu yakin? Kamu tidak mau memesan bunga mawar yang berwarna merah darah begitu?" goda Xavier sembari memasang kaos kaki nya.


"Kamu fikir ini dalam cerita dongeng" Ghiea kembali berkata dengan ketus, ia mengambil kan sepatu Xavier, berlutut di depan Xavier dan memakai kan sepatu itu di kaki Xavier. Xavier adalah pria yang paling di benci oleh Ghiea saat ini namun tubuh dan hati nya me respon justru yang sebalik nya. Sementara Xavier hanya mengulum senyum, Ghiea juga membantu Xavier membenarkan jas nya.


"Aku akan segera pulang, jangan lupa rindukan aku" ujar Xavier sebelum mengecup sudut bibir Ghiea membuat Ghiea sedikit tersentak. Meskipun sudah tak terhitung berapa kali Xavier mengecup bahkan mencium bibir nya dengan begitu rakus, namun itu selalu berhasil membuat Ghiea tersentak, gugup bahkan merona.


...


"Xavier sudah pergi.." ujar Clara pada Nenek nya.


"Kita ke apartement wanita itu..." seru sang Nenek dengan raut wajah yang tajam, karena ia memang sangat bernafsu untuk menangkap Ghiea dan memastikan apakah dia Ghiea yang sama dengan istri Xavier dulu.


"Ya, ada apa?" tanya seorang wanita yang menggendong anak perempuan nya.


"Maaf, Bu. Bukan nya yang tinggal di sini itu Ghiea ya?" tanya Clara.


"Iya, betul" jawab wanita itu "Dengan saya sendiri..." imbuh nya yang menguat Clara menganga terkejut.


"Maksudnya?" tanya Clara sementara Granny Kelly tampak bingung.


"Maksud nya, saya Ghiea, Mbak. Dan saya memang tinggal di sini..." ujar wanita itu yang membuat Clara semakin bingung.


"Tidak, saya mencari wanita yang masih muda. Belum menikah apa lagi punya anak" tukas Clara.


"Kalau begitu anda salah alamat, Mbak" ujar wanita itu sambil tersenyum sementara Clara melongo seperti orang bodoh.


"Clara, kamu sudah mencari alamat nya dengan benar atau tidak?" tanya Granny Kelly kesal.


"Sudah, Granny. Memang ini alamat nya yang ada di kantor" jawab Clara.


"Cari yang benar, Clara. Aku tidak mau tahu kita harus menemukan Ghiea sebelum Xavier pulang!!!" titah nya yang membuat Clara menghela nafas berat.


...


Sudah seharian Ghiea berada di apartement nya yang sangat besar dan mewah, dan ia sendirian. Ghiea sangat bosan, ia sudah melakukan semua hal untuk mengobati rasa bosan nya itu. Dari melakukan yoga, menonton film horor, romantis, komedi.


Saat hari sudah sore, Ghiea memutuskan untuk video call dengan kedua sahabat nya itu karena ini sudah waktu nya pulang dari kantor. Dan beruntung nya Ghiea karena Diana menjawab panggilan nya dan seperti nya saat ini kedua sahabat nya itu sedang dalam perjalanan pulang di dalam mobil.


"Dari mana saja kau?" seru Diana.


"Mentang mentang jadi simpenan Pak bos ya, menghilang..." sambung Melissa.


"Jadi simpenan itu enak lho..." gurau Diana dan ia mengambil dokumen yang di berikan Xavier pada nya, untuk ia pamerkan pada kedua sahabat nya itu.


"Aku mau pamer sesuatu nih..." ujar Ghiea dan ia mengalihkan kamera ponsel nya ke kamera belakang, Ghie menunjukkan apartement baru nya membuat kedua sahabat nya berdecak kagum. Ghiea juga memperlihatkan isi dokumen yang menyatakan surat kepemilikan apartement itu namun justru Ghiea lah yang terkejut saat menyadari ada yang janggal dengan dokumen itu.


"Wih, harta yang mana yang sudah pak Bos wariskan untuk mu, Ghiea? Dan dimana kamu sekarang?" tanya Diana.


"Apartement elit, Di. Tapi..."


"Tapi apa?" sambung Melissa antusias.


"Tapi kenapa ada tanda tangan ku ya?" tanya Ghiea heran karena ia tak ingat pernah menandatangani surat kepemilikan apartement itu.


"*Ya iyalah, Ghiea. Kalau kamu tidak tanda tangan bagaimana bisa kamu menjadi pemilik apartement itu?"


"Ghiea, kirimkan alamat apartement mu dong. Kita mau main kesana*..."