
Saat jam makan siang, Diana masuk ke ruangan Max tanpa permisi. Dan ia mendapati Max yang masih sibuk dengan laptop nya, ia tampak fokus melakukan pekerjaan baru nya itu dan tentu nya dia masih harus belajar banyak bagaimana cara menjadi pemimpin. Menjadi adik Xavier sungguh sebuah kejutan dan Mommy nya juga sudah menjelaskan bagaimana dia bisa memiliki 35% saham di perusahaan Xavier.
"Max..." seru Diana yang membuat Max langsung terkejut, bahkan tangan nya sampai gemetar saat ia berada pandang dengan Diana.
"Mati aku..."
"Dia pasti mau maki maki aku..."
"Mau teriakin aku pria culun lagi..."
"Atau jangan jangan mau menghajar ku?" segala persepsi buruk ia fikirkan sampai sampai ia tak mampu berbicara.
Sementara Diana, ia melangkah dengan langkah anggun dan pandangan nya begitu dingin seolah sampai menusuk sampai ke tulang tulang Max.
"Aku sama sekali tidak menyangka, Max" kata Diana masih dingin "Aku fikir kamu pria polos yang baik, tapi ternyata aku salah" Max tentu hanya mengernyitkan kening nya mendengar apa yang di katakan Diana, namun lidah nya masih terasa begitu bahkan hanya untuk bertanya apa maksud Diana.
"Ternyata kamu sama saja seperti pria lain, cuma mau bersenang senang, buaya, kadal, ular, sialan" desis Diana yang membuat kedua bola mata Max membulat sempurna.
"M,,, maksud nya apa, Di?" akhir nya dengan susah ia mampu bersuara. Namun Diana tak menghiraukan pertanyaan Max, ia berbalik badan dan keluar dari ruangan Max, Diana bahkan dengan sengaja menyenggol sebuah vas bunga yang ada di meja membuat Max semakin terkejut dan bingung.
Saat membuka pintu, Diana berpapasan dengan Selena yang datang dengan membawakan makanan untuk Max. Selena tersenyum ramah pada Diana namun Diana mendelik pada nya dan melewati nya begitu saja, membuat Selena sedikit bingung namun kemudian ia mengabaikan hal itu.
"Sir, saya bawakan makan siang anda" kata Selena pada Max.
"Terima kasih, Selena" kata Max sambil tersenyum tulus.
"Kau ingin makan di sofa atau tetap di sini, Sir?" tanya Selena lagi.
"Di sini saja, aku ingin sambil bekerja" Jawab Max, Selena pun membereskan meja kerja Max dan ia sedikit mencondongkan tubuh nya ke depan.
Sementara Diana yang mengintip hanya bisa menahan perasaan sesak di dada nya dan mendelik kesal.
Selena menyajikan makanan Max, termasuk kopi susu hangat yang di minta Max tadi. Max menyeruput kopi nya itu dan susu nya belepotan di bibir nya tanpa Max sadari. Selena yang melihat hal itu terkekeh dan memberi tahu Max.
"Anda belepotan, Sir" kata nya.
"Oh ya?" tanya Max dan saat ia hendak mengambil tissue, Selena mendahului nya dan bahkan mengelap bibir Max.
Diana yang masih mengintip langsung melotot terkejut, ia mengepalkan tangan nya dan menggertakkan gigi gigi nya.
"Dasar pria culun buaya, kadal, ular, sialan. Mentang mentang ternyata dia adik nya bos, keluar belang asli nya, sialan"
Diana terus mengeluarkan sumpah serapah nya dan terus mengumpati Max yang benar benar membuat hati nya terbakar amarah. Diana kembali ke meja kerjanya dan ia mendapati Melissa yang seperti nya sedang berciuman dengan seorang pria.
Diana yang melihat hal itu semakin kesal, dua sahabat nya kini sudah punya pasangan sementara diri nya masih jomblo.
Diana berputar arah dan pergi keluar.
Sementara itu, Melissa saat ini sedang di tiup mata nya karena kelilipan.
"Alan ahli nya mengambil kesempatan dalam kesempitan" kata Alan sambil berseringai bak iblis.
Tadi, Melissa menemukan sebuah dokumen lama di kantor nya, dan dokumen itu ia bawa ke meja kerja nya, dokumen itu juga berdebu dan Melissa meniup nya, debu malah masuk ke mata nya. Bersamaan dengan itu, pria cabul kata Melissa itu datang dan menjadi pahlawan kesiangan.
"Lagian kamu mau apa datang ke sini? Pak Xavier tidak bekerja" ketus Melissa sembari mengucek mata nya.
"Aku ke sini mau..." Alan menatap Melissa dengan begitu intens dan hal itu berhasil membuat Melissa merasa meremang "Coba ku lihat, seperti nya make up mu berantakan" kata Alan sembari mencengkram rahang Melissa dengan tangan besar. Melissa mencoba menyingkirkan tangan Alan namun tangan Alan yang lain menahan tanga Melissa dan di detik selanjut nya...
Cup
Kedua bola mata Melissa langsung melotot sempurna saat tanpa permisi, tanpa sungkan dan tanpa aba aba Alan mendaratkan bibir nya yang tipis di bibir Melissa yang ranum nan berisi. Melissa diam mematung karena terkejut dan hal itu justru menjadi kesempatan emas bagi Alan, Alan yang masih mencengkram rahang Melissa langsung menarik wajah Melissa dan kembali melahap bibir Melissa. Melissa segera tersadar dari keterkejutan nya dan mencoba mendorong Alan namun kekuatan nya tak seberapa di banding pria di depan nya ini.
"emmmpp..." Melissa mencoba melepaskan diri dan demi apapun di dunia ini, ini di kantor!!!
Sementara Alan justru menikmati pemberontakan Melissa, ia bahkan dengan senang hati menggigit bibir bawah Mellisa dan menelusupkan lidah nya, membuat Melissa semakin panik. Ia pun segera menendang benda pusaka kebanggaan Alan membuat Alan mengerang kesakitan dan melepaskan diri dari Melissa.
"Sialan!!!" geram Melissa setelah Alan melepaskan tautan bibir mereka, bibir Melissa terasa bengkak, kebas dan basah karena ulah Alan. Alan masih mengerang sakit namun ia juga tersenyum puas melihat bibir Melissa yang semakin indah setelah di lahap nya.
"AAGhhhh" Alan memegang bagian inti diri nya itu "Dari pada di tendang, mending di jepit, Mel" seru Alan yang membuat Melissa semakin kesal.
"Dasar pria cabul!!!" teriak Melissa "Aku akan melaporkan mu ke polisi, kamu sudah melecehkan ku" teriak nya lagi penuh amarah.
"Ugh, Sugar.. Dari pada di laporkan ke polisi, lebih baik kita lanjut di atas ranjang" kata nya yang benar benar membuat Melissa sudah kehilangan akal cara menghadapi pria di depan nya ini.
"Benar benar ya..." ia hanya bisa menggeram, ia menghentakan kaki nya dan pergi meninggalkan ruangan itu
Tujuan Melissa saat ini pergi ke control room, Ia harus mendapatkan rekaman cctv tadi sebagai bukti pada polisi bahwa ia memang di lecehkan. Ya, Melissa sangat serius dalam hal itu, ia juga akan melaporkan kelakuan Alan pada Ghiea dan Xavier.
Sementara Alan sekarang berjalan santai pergi keruangan Xavier, tujuan nya datang ke kantor ini karena permintaan Xavier. Berhubung Xavier tidak ke kantor hari ini, Xavier meminta Alan untuk memeriksa Max dan mungkin bisa sedikit mengajari Max dan itu pun jika Max tak keberatan.
Alan masuk ke ruangan Max dan ia melihat Max yang makan sambil bekerja.
"Hey, Brother" seru Alan. Max mendongak sembari membenarkan kaca mata nya.
"Alan..."
"Yes, I am" kata Alan "Aku ke sini ingin melihat Bagaiamana cara kerja mu"
"Apa kau juga bos di sini?" tanya Max dengan polos nya yang membuat Alan tertawa.
"No, Boy. Aku punya perusahaan ku sendiri" jawab nya "Dulu, Xavier sering mengajari ku Bagaiamana pengurus perusahaan, bagaimana menjadi pemimpin. Yah, meskipun kami seumuran dan sekolah bahkan kuliah di tempat yang sama, tapi pengalaman Xavier lebih banyak, dia sudah menjadi CEO sejak usia nya 24 tahun" tutur nya.
"Ya, ini sedikit sulit" kata Max dengan begitu rendah hati.
"Sebenar nya bukan sulit, kamu hanya perlu menikmati nya dan jalankan otak mu dengan baik" gurau nya sambil terkekeh, Max meringis mendengar nya, ia merasa Alan terlalu energik, bahkan terkesan bar bar.