
"Mereka emmm ah emmh begitu.." Diana tentua langsung tercengang mendengar penuturan Max itu apa lagi setelah penuturan Max berikut nya "Punya ku jadi sakit, tegang dan berdenyut, rasa nya sakit"
Diana hanya bisa melongo bodoh mendengar penuturan lirih sang pacar, apa lagi setelah ia telisik wajah tampan nya itu, sang pacar tampak tersiksa namun Diana tidak tahu harus menanggapi nya seperti apa.
"Baby, kok malah diam?" tanya Max melirik Diana sekilas sebelum akhirnya ia kembali fokus pada setir.
"Emm kamu pernah nonton film blue?" cicit Diana, ia bahkan tak yakin Max tahu film itu.
"Film apa itu?" tanya Max dengan polos nya.
"Blue Movie, masak kamu tidak tahu, Max?"
"Tidak tahu, aku tidak suka nonton film" jawab Max jujur.
"Kamu tumbuh di belahan dunia yang mana sih, Max?" tanya Diana antara gemas dan kesal.
"Ya di kota ini" jawab Max lagi "Lagi pula kenapa malah bahas film sih, Baby? Kan aku kasih tahu soal itu yang...."
"Kamu terangsang?" Diana memotong pembicaraan Max "Kamu pernah belajar biologi, kan? Kamu tahu arti terangsang kan?"
"Ya tahu, tapi kan aku tidak ngapa-ngapain. Beneran tidak enak lho, celana ku jadi sesak, Baby. Maka nya aku kesal sama Xavier dan Ghiea, semoga saja meraka cepat pulang ke rumah mereka sendiri" kata Max dengan wajah merengut yang membuat Diana tersenyum geli.
"Sabar ya..." Diana mengelus paha Max yang tentu saja membuat Max langsung merinding, ia langsung menyentuh tangan Diana dan menggenggam nya.
"Kenapa?" tanya Diana.
"Rasa nya aneh kalau kamu pegang paha..." jawab Max.
"Rasa nya seperti kamu mendengar suara horor Ghiea dan Xavier gitu ya?" tanya Diana masih menahan senyum geli nya dan Max mengangguk dengan polos nya.
"Apa celana mu sekarang sesak lagi?" goda Diana dan sekarang ia justru mendekatkan bibir nya ke telinga Max dan menghembuskan nafas hangat nya di sana, membuat Max kembali meremang.
"Ah, geli, Baby" Diana terkekeh dan ia kembali duduk tegak di kursi nya. Seandainya Max tak sedang menyetir, mungkin Diana sudah akan terus menggoda nya sampai Max menjerit.
..........
Beda nasib dengan Ghiea dan Diana, Melissa justru di rundung pilu setelah Om George justru menanyakan kapan ia dan Alan akan menikah. Meskipun mereka sudah memberi tahu kalau hubungan meraka hanya sebulan, namun Om George mengatakan ia sangat yakin bahwa Melissa adalah jodoh Alan, belahan jiwa nya, tulang rusuk nya.
"Hiiii, amit amit" Melissa bergidik ngeri saat mengingat kembali apa yang di katakan Om George pada nya.
"Aku? Jadi tulang rusuk Mr. Pervert seperti Alan? Yang ada aku jadi tulang betis" gerutu nya.
Saat ini Melissa sudah ada di kantor nya dan duduk di meja kerja nya sembari bermain game di komputer nya.
Ponsel Melissa yang masih ada dalam tas nya bergetar, Melissa pun merogoh nya dan kening nya mengkerut saat melihat nomor asing tertera di layar smartphone nya itu. Melissa mengabaikan nya namun nomor itu terus memanggil nya, ia pun menjawab nya.
"Halo..." ketus Melissa.
"Halo, Sweetie. Ini aku..." Melissa langsung menepuk jidat setelah mendengar suara Daddy nya Alan itu.
"Eh, iya, Om. Ada apa?"
"Nanti siang kamu kita makan siang bersama ya, sama Alan juga"
"Emm maaf ya, Om. Bukan nya maksud mu mau menolak, tapi hari ini pekerjaan ku sangat banyak"
"Hem, begitu. Baiklah tidak apa apa. Selamat bekerja sweetie"
"Iya, Om. Terima kasih" Melissa pun memutuskan sambungan telfon nya dan ia menghembuskan nafas kasar.
"Like father like son!!!" desis Melissa kesal dab baru saja ia meletakkan ponsel nya di meja, ia mendapatkan notifikasi pesan masuk. Dan betapa terkejut nya Melissa saat membaca pesan dari ayah Alan itu.
"Aku sudah mengirim 50 juta ke rekening mu, nanti kalau ada waktu luang, kita pergi makan bersama ya"
"Dasar gila!!!?" Melissa memukul meja nya dengan keras