
Xavier bergerak cepat saat mengetahui sang istri terjebak dalam lift, apa lagi sang istri sendirian di sana dan itu terlihat dari cctv lift. Teknisi sudah di panggil oleh pihak keamanan itu tak cukup bagi Xavier ia juga memanggil pemilik gedung apartement tempat tinggal nya itu meskipun sang pemilik gedung juga tak bisa apa apa. Tak hanya itu, Xavier juga di berikan akses untuk memantau cctv yang ada di dalam lift.
Ghiea tak sadarkan diri di dalam lift dan itu membuat Xavier benar benar cemas. Ia memarahi semua orang di sana seperti orang gila, bahkan membentak kepala keamanan dan juga si pemilik gedung apartement.
Hingga setelah usaha yang di lakukan para teknisi membuahkan hasil, mereka langsung mengeluarkan Ghiea yang begitu pucat. Ambulance dan tenaga medis juga sudah datang karena tadi Xavier juga memanggil mereka dan meminta mereka datang secepat mungkin.
Ghiea pun langsung di berikan pertolongan pertama sementara Xavier sekarang tak bisa apa apa selain menahan air mata melihat sang istri yang begitu pucat, Xavier teringat dengan masa lalu nya dan ia tak mau hal itu kembali terulang.
"Dia sedang hamil..." lirih Xavier sembari mengikuti para tenaga medis yang membawa Ghiea ke dalam ambulance "Tolong bangunkan dia, dia sedang mengidam" Xavier berkata dengan suara bergetar. Ia tak bisa melihat Ghiea dalam keadaan seperti ini, Xavier begitu takut sekarang.
...
Sementara di kantor, Max merasa canggung dengan sekretaris nya yang ternyata Ibu ibu dan sahabat Ibu nya. Rasa nya ada yang aneh jika ia akan memanggil nya dengan sebutan nama lagi. Jadi Max memutuskan akan tetap memanggil nya Tante, dan Selena juga tak masalah dengan itu.
"Kopi susu seperti biasa, Max" kata Nyonya Selena sembari meletakkan segelas kopi susu di meja Max.
"Terima kasih, Tante" kata Max.
"Em apa boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Nyonya Selena tiba tiba yang tentu saja membuat Max merasa penasaran.
"Mau mengatakan apa memang nya, Tante?" tanya nya antusias.
"Aku memposting foto kita yang tadi malam, dapat 1000 lebih like lho. Dan kebanyakan yang berkomentar para wanita, mereka kira kamu berondong ku, bahkan ada yang membagikan foto kita lho dan mereka memuji mu, kata nya kamu sangat tampan" kata Nyonya Selena sambil tertawa kecil dan tentu saja Max ikut tertawa dan ia benar benar tidak masalah dengan apa yang di fikirkan orang.
"Ada ada saja mereka..." kata Max sembari menyeruput kopi nya.
"Hem, baiklah, Max. Aku akan melanjutkan pekerjaan ku, jika kau butuh sesuatu, katakan saja" kata Nyonya Selena.
"Siap, Tante" kata Max sambil terkekeh. Setelah Nyonya Selena pergi, ia pun mulai melakukan pekerjaan nya, namun Max merasa heran karena Xavier belum datang.
Max mengecek ponsel nya ada beberapa notifikasi yang masuk ke ponsel nya, Max membuka nya dan mata nya terbelalak saat melihat Melissa memposting foto Diana dan Alan. Seketika rasa cemburu benar benar membakar hati Max, apa lagi ia melihat foto itu di posting tadi malam sedangkan tadi malam Diana kata nya pulang karena sakit perut.
Tanpa fikir panjang Max langsung beranjak dari kursi nya dan tujuan nya adalah melabrak Diana.
.........
Sementara di sisi lain, Diana juga sangat marah dan merasa terbakar api cemburu saat melihat foto yang di bagikan oleh salah satu teman media sosial nya.
Foto Max dan Selena yang benar benar terlihat sangat dekat, bahkan kedua orang itu saling menempelkan pipi masing masing.
"Dasar, buaya..." pekik Diana dan ia beranjak dari kursi nya, ia ingin melampiaskan rasa cemburu nya pada Max.
Diana enggan menjawab, dan saat mau memasuki lift, lift terbuka dan sudah ada Max di dalam nya.
Tanpa fikir panjang, Max langsung menarik Diana masuk ke dalam lift dan ia menekan tombol lift ke lantai paling atas.
"KAMU...." Secara bersamaan kedua nya berseru bahkan sama sama sambil menunjuk wajah masing masing.
"KAMU KETERLALUAN!!!" lagi lagi kedua nya berkata bersamaan. Max benar benar marah begitu juga Diana.
Max di bakar cemburu begitu juga Diana.
"APA LEBIH NYA DIA DI BANDING AKU?" lagi lagi kedua nya mengucapkan kata kata itu secara bersamaan.
Kini kedua nya pun sama sama diam setelah beberapa kali mereka mengucapkan hal yang sama dalam waktu bersamaan, kedua nya menghela nafas yang berat dan saling beradu pandang. Tatapan yang begitu tajam seolah melahap satu sama lain.
"Apa yang salah?" tanya Diana akhir nya karena Max hanya diam saja.
"Kamu..." seru Max "Apa yang salah dengan mu? Kenapa kamu sangat membenci ku dan malah berkencan dengan Alan?"
"Aku tidak berkencan dengan Alan, justru kamu yang berkencan dengan Selena" seru Diana lantang.
"Kalian juga mesra mesraan, kenapa? Karena dia lebih seksi dari aku, huh?" ia berteriak tepat di depan wajah Max.
"Kamu yang mesra mesraan sama Alan, sampai sampai kamu bohong dan mengatakan pulang karena sakit perut. Tapi nyata nya apa? Kamu kencan sama Alan!!!" Max juga berteriak marah di depan wajah Diana.
"Apa aku kurang tampan, huh?" "teriak Max lagi "Aku merubah penampilan ku seperti ini buat kamu, Diana!!!" seru Max dengan nafas yang memburu dan Diana langsung tercengang mendengar apa yang di katakan Max.
"Aku tidak tahu apa salah ku sampai kamu... Hmpllp" Diana langsung membungkam mulut Max dengan mulut nya sendiri membuat kedua bola mata Max langsung membulat sempurna dan seluruh tubuh nya langsung terasa begitu kaku.
Diana tak menyerang Max seperti Max menyerang nya, Diana hanya menempelkan bibir nya di bibir Max selama beberapa saat.
Ting...
Lift berhenti di lantai paling atas dan pintu lift terbuka.
Ada beberapa orang yang menunggu di depan lift dan mereka hanya tercengang melihat ada dua insan yang sedang saling menempelkan bibir di sana.
Sementara Max, tangan nya langsung meraba raba lift dan kembali menutup nya. Setelah itu ia menekan tombol nomor satu dan saat lift bergerak turun, Max langsung memegang tengkuk Diana dan memperdalam ciuman nya. Satu tangan Max di tengkuk Diana sementara tangan yang lain meraba raba lengan Diana, mengelus nya dengan lembut. Tangan Diana pun tak mau tinggal diam, ia menyelipkan jari jemari nya di rambut Max dan meremas rambut Max.
Max menggerakkan kepala nya ke kanan dan ke kiri guna mencari titik paling nikmat dari ciuman yang kini suka sama suka tanpa di awali paksaan itu