
Jamie membawa Clara untuk menemui Xavier di kantor nya dan tentu itu bukan ide yang baik, karena Xavier langsung terlihat begitu marah saat melihat kemunculan Clara.
Clara pun segera menjelaskan kedatangan nya menemui Xavier sebelum ia mendapatkan amukan dari Xavier.
"Membebaskan Granny?" tanya Xavier kemudian setelah Clara mengutarakan permintaan nya itu.
"Iya, Xavier. Lagi pula, dia kan Nenek mu juga" cicit Clara.
"Justru karena dia Nenek aku itu aku menjebloskan nya ke penjara, Clara. Karena yang salah harus di hukum" tegas Xavier.
"Tapi dia sudah tua, Xavier. Kasihan dia" rengek Clara.
"Aku juga kasihan, Clara. Tapi rasa kasihan tidak akan membuat pelaku kejahatan jera, dan dia memang sudah tua tapi ketika melakukan tindak kejahatan, dia tidak memikirkan apakah usia nya sudah tua apa belum. Jadi biarkan dia di penjara sampai dia jera atau sampai hukuman nya selesai. Kalau kamu memang kasihan sama dia, silahkan jenguk dia dan kamu nasehatin dia supaya memperbaiki diri"
Clara hanya bisa menundukkan kepala nya mendengar ucapan panjang lebar Xavier itu.
"Aku sudah membebaskan kamu karena menurut aku kamu cuma boneka nenek mu dan mama mu, walaupun kamu pernah mencelakai Ghiea saat itu tapi aku yakin sebenarnya kamu bukan orang jahat. Jadi sebaik nya kamu gunakan kesempatan kamu ini sebaik mungkin, sementara untuk Nenek dan Mama mu. Kalau mereka mau berubah, mereka juga bisa mendapatkan kesempatan kedua"
"Xavier, aku..."
"Clara, please..." potong Xavier "Kamu mulai hidup kamu yang baru dengan Jamie, perbaiki semua nya. Ya? Karena kamu mau bersujud sekali pun sama aku, aku tidak akan mencabut tuntutan aku terhadap Granny" kali ini Xavier berkata lebih lembut pada Clara, berharap wanita yang masih berstatus sebagai sepupu itu mau mengerti maksud Xavier.
"Baiklah" ucap Clara kemudian.
.........
"Hem, bagus banget cincin nya. Tinggal Melissa neh" kata Ghiea yang saat ini sedang memperhatikan cincin Diana lamaran Diana dari Max.
"Selera Baby ku memang bagus ya" kata Diana yang sudah tak malu malu lagi bersikap alay di depan temannya.
"Baby ku?" pekik Melissa kemudian ia tertawa "Astaga, Di. Kamu segitu nya sama Max, baby ku oh baby ku..." ejek nya.
"Bilang saja kamu iri, Mel" cetus Diana yang membuat Melissa memutar bola mata nya.
"Tidak mungkin aku iri pada hal yang seperti itu..." ucap Melissa dan bersamaan dengan itu ponsel nya berdering.
"Paling mau rayu-rayu lagi..." kata Melissa sembari menjawab panggilan Alan.
"Halo..."
"Sugar, kamu masih di kantor?" tanya Alan dan sekarang suara nya tampak biasa saja, tak lagi seperti orang yang merayu seperti dulu.
"Masih, kenapa?" tanya Melissa dengan ketus.
"Turun sebentar bisa? Aku tadi dari restaurant dan nasi goreng seafood nya enak banget, aku belikan buat kamu, Diana dan Ghiea juga" Melissa langsung menaikan sebelah alis nya mendengar penuturan Alan itu dan ia juga langsung menatap kedua sahabat nya.
"Apa?" tanya Diana, Melissa pun menjauhkan ponsel nya dari telinga nya sesaat.
"Alan belikan kita nasi goreng seafood" jawab Melissa setengah berbisik.
"Kita?" tanya Ghiea ingin memastikan dan Melissa mengangguk.
"Asyik dong, tahu aja aku lagi ngidam nasi goreng seafood" ucap Ghiea antusias yang membuat Melissa tersenyum, kembali ia menempelkan ponsel nya di telinga nya
"Alan, aku akan turun sekarang ya. Kebetulan Ghiea juga mengidam nasi goreng seafood kata nya" ucap nya.
"Okey, aku sudah di depan"
Melissa pun segera turun menghampiri Alan, dan di depan kantor nya, ia melihat mobil Alan dimana kaca mobil nya terbuka. Alan tersenyum pada Melissa, senyum tulus tanpa ada unsur genit sedikitpun dan Melissa pun membalas senyum itu dengan malu malu.
"Ini..." Alan menyerang kantong plastik putih pada Melissa "Maaf ya, aku engga mampir. Soalnya aku ada rapat penting setelah ini"
"Engga apa apa, terima kasih ya" kata Melissa sembari menerima kantung plastik itu.
"Sama sama, selamat menikmati. Kalau kamu kurang atau mau pesan lagi, di situ ada nomor telepon nya. Kamu pesan saja dan bilang Alan yang suruh" kata Alan lagi dan Melissa hanya mengangguk sambil tersenyum tertahan.
"Ya udah, aku naik lagi" ucap nya kemudian.
"Iya" jawab Alan tanpa ada rayuan lagi, yang justru membuat Melissa merasa aneh dan seperti ada yang kurang.