
"Apa????" pekik Melissa setelah Alan mengatakan bahwa ia di ancam akan di coret dari ahli waris jika tak membawa Melissa pulang sebagai menantu ayah nya.
"Jadi bagaimana ini, Mel? Masak iya aku harus di coret dari ahli waris" rengek Alan.
"Memang nya kamu punya saudara berapa?" tanya Melissa kemudian, saat ini kedua nya sedang berada di Cafe yang tak jauh dari kantor Melissa.
"Aku anak tunggal, soalnya Daddy sama Mommy cerai dan Daddy tidak menikah lagi" jawab Alan masih tampak merengek.
"Ya aman dong, kan kamu satu satu nya ahli waris Daddy mu" ujar Melissa kemudian Alan pun terdiam sembari mencerna ucapan Melissa.
"Benar juga ya, Daddy cuma gertak" lirih Alan kemudian.
"Iya lah, pasti itu" jawab Melissa "Eh, karena sekarang kita masih pacaran. Bagaimana kalau akhir minggu ini kita jalan jalan?" tawar Melissa yang membuat mata Alan berbinar dan tentu ia langsung mengangguk.
"Kebetulan teman ku baru buka hotel..."
"Apaan HOTEL?" Alan terkesiap karena tiba tiba Melissa kembali berkata sangat ketus bahkan membentak nya, padahal sejak tadi obrolan mereka berlangsung ringan tanpa ada yang menarik otot.
"Hotel terus, kita jalan jalan ke taman kek, kemana kek, yang asyik gitu. Menghilangkan penat, bukan nambah penat" gerutu Melissa kemudian yang membuat Alan cengengesan.
"Tapi kan itu juga senang senang, sugar..." rengek Alan.
"Engga" tegas Melissa tanpa bisa di bantah.
...
Beda hal nya dengan Alan yang selalu kena semprot Melissa, Max saat ini justru sedang di manjakan oleh Diana. Kedua nya sedang berada di salon untuk melakukan beberapa perawatan.
"Baby, aku haus..." kata Max yang saat ini sedang maskeran, sedangkan Diana sudah selesai dan sekarang ia sedang merawat kuku nya.
"Iya, tunggu..." Diana mengambil air dan kemudian membantu Max meminum nya.
"Kembali kasih, Baby" kata Diana lembut. Kemesraan kedua nya sudah tergambar sejak tadi entah dari kata kata maupun perlakuan, dan itu membuat orang orang di salon itu hanya bisa menahan senyum.
Setelah melakukan perawatan di salon, kedua nya pun pergi berbelanja dan tentu Max punya kartu yang isi nya tak kan habis meskipun Diana memborong satu isi toko.
"Baby, coba ini..." kata Max menunjukan sebuah dress berwarna merah muda, dress tanpa lengan itu memiliki potongan yang simple dengan bagian bawah yang mengembang seperti balon dan juga hiasan pita d bagian perut.
"Kamu suka yang ini?" tanya Diana dan Max mengangguk, kemudian Diana mengambil dress itu dan membawa nya ke ruang ganti.
Diana melepaskan pakaian nya dan memakai dress itu. Ia berputar di depan kaca dan Diana merasa penampilan nya sangat manis sekarang.
Saat Max hendak berputar lagi, ia tercengang karena tiba tiba Max masuk ke dalam dan Max menganga melihat penampilan Diana yang menurut nya sangat manis dan lucu.
"Cantik sekali, Baby. Seperti tuan putri..." kata Max sembari mendekati tunangan nya itu.
"Kamu pengeran nya" kata Diana sambil tersenyum. Memperhatikan sang kekasih hati dari ujung kepala hingga ujung kaki, Diana bertelanjang kaki dan itu membuat nya tampak semakin seksi. Tatapan Max kini justru tertuju pada bibir ranum Diana, ia bergerak gelisah di tempat nya sembari menggigit bibir nya. Jantung nya berdebar lagi dan pusat diri nya seperti menggeliat.
"Kenapa, Baby? Wajah mu memerah" kata Diana kemudian ia memegang pipi sang kekasih, takut jika mungkin ia sakit.
"Setiap kali kita berduaan apa lagi di ruangan tertutup begini, bawaan nya aku pengen cium kamu, Baby" lirih Max dengan suara yang serak dan tatapan nya pun kini sudah tak lagi fokus.
"Benarkah?" tanya Diana yang justru seperti menggoda, suara nya seperti mendayu-dayu di telinga Max. Apa lagi kini tangan Diana bergerliya di dada Max yang masih terbungkus kaos putih.
"Iya, emm rasa nya aku gelisah" jawab Max jujur.
"Apa di dalam celana mu juga menggeliat?"
"He'em"