
Setelah Clara melihat file yang di berikan oleh Ghiea, Clara tentu sangat terkejut karena tak menyangka kejahatan Nenek nya sudah setinggi itu. Meskipun Clara juga pernah melakukan percobaan pembunuhan pada Ghiea, namun Clara tak melakukan nya untuk harta. Ia hanya takut kehilangan Xavier karena Clara sangat mencintai Xavier dan sekarang Clara sadar, bahwa ambisi dan ke egoisan itu bisa berdampak sangat buruk untuk hidup nya. Apa lagi mengingat Nenek nya sekarang yang masih mendekam di penjara dan tak ada satu pun yang mau membantu nya.
.........
Sementara itu, Melissa uring uringan setelah mendengar penuturan Om George tentang perubahan Alan demi diri nya. Sebagai seorang wanita, tentu ada kebanggaan tersendiri jika menjadi penyebab perubahan seorang cassanova seperti Alan.
"Kalau dia benar benar berubah karena aku, wow..." gumam Melissa yang saat ini sedang menikmati guyuran air shower yang membasahi tubuh nya.
"Tapi masak iya dia benar benar bisa berubah? Tapi tidak mungkin Om George bohong" ucap nya lagi "Eh, kenapa aku malah mikirin Alan sih. Nanti aku jatuh cinta lagi sama dia, hii. Kan engga banget, masak iya aku jatuh cinta sama pria yang penuh noda begitu" Melissa segera menyelesaikan mandi nya.
Setelah itu, ia membungkus diri nya dengan bathrobe dan keluar dari kamar mandi. Melissa mengeringkan rambut nya dengan handuk, dan saat itu ia kembali memikirkan Alan.
"Eh, tapi kan semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Semua orang bisa berubah menjadi lebih baik" monolog nya dan ia teringat kembali dengan Alan yang tak pernah menyerah mendekati Melissa, yang bahkan juga mendekati Ibu nya.
"Tahu ah..."
..........
"Aku masih tidak percaya Daddy bisa bohong begitu sama Melissa, bohong nya di depan banyak orang lagi" ucap Alan yang saat ini sedang sibuk bermain ponsel, sedangkan Daddy nya duduk di samping nya menikmati siaran televisi yang menyiarkan tentang cuaca yang seperti lagi akan musim hujan.
"Memang nya kenapa kalau musim hujan?"
"Sebaik nya kamu punya istri, biar kamu tidak kedinginan" jawab nya lagi dan sekarang Alan tahu kemana arah pembicaraan Daddy nya ini.
"Kamu kan tahu aku tidak percaya dengan hubungan seperti itu, Dad. Aku tidak mau membuang waktu untuk wanita yang berstatus sebagai istri, lagi pula mudah saja untuk menghangatkan ranjang tanpa harus terikat pernikahan" tegas nya.
"Alan, mau sampai kapan kamu begini? Kamu itu semakin hari semakin tua, dan saat tua nanti, tidak ada yang bisa menemani kamu dan merawat kamu selain pasangan mu sendiri. Coba sekali saja kamu berfikir positif tentang wanita, terutama tentang Melissa. Dia bukan wanita yang gila uang, dia bahkan melabrak Daddy di kantor demi harga diri nya. Seseorang yang punya harga diri, berarti juga punya cinta"
"Ayo lah, Dad. Aku benar benar tidak merasa bisa baik dalam hubungan, lagi pula Melissa juga tidak mungkin mau mencintai ku. Dia sangat membenci ku"
"Garis antara benci dan cinta itu tipis, Alan. Yang penting kamu perbaiki sikap kamu, berhenti main perempuan, hormati seorang perempuan. Daddy yakin Melissa akan memberikan kamu kesempatan"
Alan terdiam, karena mengingat bagaimana Melissa menatap nya di kantor saat itu, Alan bisa merasakan bahwa Melissa mempercayai apa yang di katakan Ayah nya. Dan itu artinya, Melissa juga bisa percaya jika Alan bisa berubah.
"Ayo lah, Son. Coba saja, jadi lah pria yang baik dan perlakuan Melissa dengan baik"