
Xavier yang saat ini sedang meeting bersama beberapa klien nya harus terganggu karena getaran ponsel nya yang ada di atas meja, Xavier melirik benda pipih itu dan nama Sweetheart tertera di layar nya.
Karena Xavier sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen, ia pun menjawab panggilan itu dan langsung me load speakers nya yang membuat nya langsung mematung saat mendengar teriakan dan caci makian Ghiea pada nya yang di lontarkan dalam satu tarikan nafas.
"Dasar pedophile..."
"Dasar tukang selingkuh..."
"Dasar mesum..."
"Dasar bajingan..."
"Bastard..."
"Beast..."
"Jerk..."
Xavier langsung menyambar ponsel nya sementara para klien nya hanya bisa melongo bodoh mendengar seorang wanita mencaci kaki Xavier secara total seperti itu.
"Maaf, permisi..." kata Xavier dan ia segera meninggalkan meja nya tak lupa ia kembali me non aktifkan load speakers nya, Xavier melirik para klien nya itu dari ekor mata nya dan ia hanya bisa meringis melihat ekspresi mereka setelah mendengar cacian Ghiea.
"Sweetheart..." bisik Xavier menempelkan smartphone itu di pipi nya.
"Sweetheart... Sweetheart..." pekik Ghiea "Sweetheart apa? Kamu menempatkan aku di apartement milik siapa? Kenapa ada baju cewek? Kenapa ada boneka cewek? Bahkan ada bh dan celana dallam...,
Xavier tentu langsung melotot sempurna mendengar apa yang di katakan Ghiea, ia memutar otak nya dan seketika kedua bola mata nya semakin terbuka lebar saat menyadari apa maksud Ghiea.
"Kamu kencan sama anak SMA ya? Atau jangan jangan kamu sudah punya anak remaja?"
Kini Xavier terkekeh mendengar tuduhan tak masuk akal dari Ghiea itu, karena ia tidak berkencan dengan anak SMA apa lagi punya anak remaja, karena anak SMA itu ia nikahi dan bahkan sempat mengandung.
.........
Ghiea saat ini sedang meradang, ia sungguh tak menyangka ternyata Xavier benar benar lebih brengsek dari dugaan nya.
Sementara kedua sahabat nya itu saat ini sedang mengobrak abrik lemari untuk mencari tahu siapa gadis remaja pemilik barang barang ini.
"Kenapa diam, bodoh?" teriak Ghiea pada layar ponsel nya itu.
"Sweetheart, kamu salah faham. Barang barang itu sebenarnya..."
"Ghiea..." teriak Diana yang saat ini memegang seragam Ghiea, Diana menatap Ghiea dengan tatapan misterius.
"Ada apa?" tanya Ghiea.
"Ini nama mu kan?" tanya Diana menunjukan seragam sekolah dimana ada nametag nya di sana.
"Ini kan nama ku?" lirih Ghiea, ia menyentuh nametag yang bertuliskan Ghiea Castle.
...
Xavier terdiam saat ia mendengar suara Diana dari seberang telpon, sudah ia duga Ghiea akan mengundang teman teman nya ke apartement nya dan Xavier tidak tahu apa yang mereka lakukan sekarang.
"Ini kan nama ku?" Xavier terdiam mendengar apa yang di katakan Ghiea.
Bodoh nya ia yang tak memeriksa apartement itu lebih dulu, walaupun itu memang barang barang Ghiea, tapi bagaiamana cara Xavier menjelaskan nya bahwa itu memang milik Ghiea dan kenapa bisa ada di sana. Xavier sungguh bingung sekarang.
"Xavier..." Xavier hanya terdiam "Xavier, kenapa ada nama ku di seragam ini?" tanya Ghiea.
"Em, sweetheart. Nanti aku jelaskan ya, sekarang aku ada meeting yang sangat penting..." ujar Xavier.
.........
Ghiea mematikan ponsel nya dan dengan sengaja tidak mengaktifkan nya karena ia tidak ingin di hubungi oleh Xavier.
"Jadi apa semua ini milik mu, Ghe?" tanya Melissa yang juga keheraranan.
"Aku... Aku tidak tahu..." jawab Ghiea lirih.
Sekarang ia kembali memikirkan apa yang di katakan Melissa, diri nya hilang ingatan dan kemungkinan Xavier adalah bagian dari masa lalu nya. Semua tingkah Xavier, sikap nya, perhatian nya, Ghiea benar benar tidak asing. Bahkan seragam itu juga seperti nya milik nya.
"Terus Pak bos bilang apa, Ghe?" tanya Diana penasaran.
"Dia tidak menjawab nya, dan dia tidak akan berkata jujur..." jawab Ghiea pasrah.
"Kamu beneran tidak ingat dengan masa lalu mu, Ghe? Sedikit saja mungkin..." seru Melissa.
"Aku benar bener tidak ingat, Mel. Aku juga tidak punya siapa siapa dari masa lalu ku jadi tidak ada yang mengingat kan ku pada masa lalu ku..." tutur Ghiea sedih karena ia benar benar sebatang kara.
Kedua sahabat nya pun memeluk Ghiea seolah ikut merasakan kesedihan Ghiea.
"Kalau Pak Bos tidak mau jujur tentang masa lalu mu, Ghe. Ayo kita cari sendiri masa lalu mu..." ujar Diana.
"Bagaiamana cara nya?" tanya Ghiea.
"Dari seragam sekolah ini..." jawab Melissa.
...
Xavier mencoba menghubungi Ghiea setelah Ghiea memutuskan sambungan telpon nya, namun nomor Ghiea sudah tidak aktif.
"Sialan..." geram Xavier, ia pun menghubungi Dino dan setelah mendapatkan jawaban, Xavier langsung memarahi Dino habis habisan.
"Aku bilang persiapkan apartement, Dino!!! Kenapa masih ada barang barang Ghiea di apartemen? Sudah aku bilang, buat apartement itu seperti baru!!!"
"Tuan, Saya..."
"Sekarang Ghiea melihat barang barang nya di sana, aku harus menjelaskan apa?"
"Tuan, maafkan..."
"Ghiea salah faham sama aku, Dino! Kenapa kerja mu tidak becus, huh?"
"Saya minta maaf..."
"Sepertinya aku akan memecat mu!!!!"
"Tapi, Tuan..."
Xavier langsung menutup panggilan telpon nya setelah ia mengeluarkan emosi nya, dada Xavier bergumuruh hebat dan nafas nya memburu.
Xavier kembali ke meja nya dan ia menunda meeting itu.
"lalu kapan meeting ini akan di lanjutkan, Pak?" tanya salah satu dari pria itu.
"Aku akan mengatur ulang jadwal ku nanti, maafkan saya tapi sekarang saya harus kembali ke kota. Ada pekerjaan yang sangat mendesak" tukas Xavier, para klien nya itu hanya mengangguk anggukan kepala nya.
Xavier segera pergi dari sana, ia memasuki mobil nya dan langsung memesan tiket hari ini juga.
Xavier kembali ke hotel hanya untuk mengambil barang barang nya.
"Dia pasti ngambek, mikir yang macem macem juga..."