My Possessive Boss Is My Husband

My Possessive Boss Is My Husband
BonChap - Ghiea Xavier



Roda kehidupan itu berputar, hukum alam pun terkadang tak bisa di lawan. Namun semua tergantung pada seberapa keras usaha yang di jalankan dan doa yang di panjatkan.


Seperti kisah cinta Ghiea dan Xavier, cinta yang unik dan sulit di percaya. Cinta dari masa dimana meraka tak mengerti apa itu cinta. Kegilaan karena cinta, membuat Xavier begitu posesif pada Ghiea namun dengan imbalan yang sesuai. Dimana Xavier pun juga menjaga diri untuk Ghiea, bukan Xavier tak tergoda pada wanita cantik dan seksi seperti Clara, namun cinta Xavier berada di atas hasrat ke lelakiannya.


Setelah perjuangan yang panjang, perjalanan kisah cinta yang seolah tak menemukan tempat pemberhentian. Akhir nya kini Xavier akan menyambut buah cinta mereka.


"Sakit, Honey..." rengek Ghiea yang terbaring di atas bangsal rumah sakit. Sejak tadi ia mengeluh sakit sambil memegang perutnya yang besar itu.


"Sabar, Sweetheart" kata Xavier untuk yang ke sekian kalinya sembari mengusap keringat yang bercucuran di kening Ghiea.


"Sejak tadi kamu cuma suruh sabar, sabar, sabar. Aku sampai bosan, ini aku kesakitan" gerutu Ghiea, wajah nya begitu pucat, bahkan beberapa kali air mata menyelinap keluar dari sudut mata nya saat ia merasakan sakit yang maha dahsyat.


"Terus aku harus bagaimana? Aku _aku tidak bisa apa-apa, Sweetheart" lirih Xavier, ia menatap sendu sang istri.


Tak lama kemudian Nyonya Leona, Max dan Diana pun datang dengan tergesa-gesa.


"Xavier, kenapa kamu tidak kabari Mommy dari tadi?" tanya Nyonya Leona yang tampak sangat cemas.


"Aku panik, Mom. Ini saja masih panik, Ghiea kesakitan. Aku bingung harus apa" kata Xavier seperti orang frustasi.


"Terus kata Dokter apa?" tanya Diana.


"Masih pembukaan ke tujuh, kata nya" jawab Xavier.


"Pembukaan ke tujuh apanya?" sambung Max.


"Diam saja kau, kamu tidak mungkin faham masalah ini" tukas Xavier yang membuat Max langsung mencebikan bibir nya.


"Aku cuma bertanya" gumam Max yang masih bisa di dengar Xavier "Oh ya, kalau bayinya tidak keluar. Kenapa tidak di operasi saja?" saran Max kemudian.


"Benar juga" sambung Xavier.


"Tapi kasihan istri ku kesakitan, Mom" tukas Xavier.


"Tidak apa apa, Honey. Aku ingin melahirkan secara normal" Ghiea kembali menyambung, bersamaan dengan itu Dokter pun datang dan mempersiapkan Ghiea untuk berpindah ke ruang persalinan.


"Aku mau ikut, Dokter" seru Xavier.


"Baik, Tuan Anson. Asalkan tidak menganggu konsentrasi kami" tukas Dokter itu.


"Aku boleh ikut juga?" tanya Max tiba tiba yang membuat Xavier langsung memelototi nya.


"Kau gila ya?" pekik Xavier.


"Tidak, aku hanya ingin menemani Ghiea dan aku sayang pada Ghiea" jawab Max dengan polos nya, dan hal itu membuat Diana langsung mencubit pinggang suaminya itu.


"Cuma suami yang boleh menemani wanita melahirkan, Baby" geram Diana.


"Tapi kan aku adik iparnya, bukan orang lain. Apa Ghiea malu?" tanya Max lagi yang membuat Ghiea ingin tertawa namun ia merasa tak punya tenaga.


"Abaikan saja manusia itu, Dok. Ayo kita bawa Ghiea" seru Xavier.


Ghiea pun langsung di bawa ke ruang persalinan. Disana, Ghiea berjuang keras melahirkan bayinya. Menahan segala rasa sakit yang seolah menarik satu persatu tulang tulang nya, Ghiea mengejan sekuat tenaga. Mengerahkan semua kekuatan yang ia punya.


Sementara Xavier, ia dengan setia menggenggam tangan sang istri. Menyemangati nya, menguatkan nya. Xavier merasa tak tega melihat Ghiea yang tampak begitu kesakitan, bahkan ia ingin ikut menangis rasanya.


Hingga setelah perjuangan yang tak sebentar, akhirnya terdengar suara tangis bayi yang membuat senyum langsung tersungging di bibir Ghiea. Rasa sakit yang ia rasakan seolah menguap begitu saja, begitu pun yang di rasakan oleh Xavier.


"Selamat ya, putri kalian terlahir sehat dan sempurna. Cantik seperti Mommy nya" ujar Dokter itu yang kini menggendong putri pertama Ghiea dan Xavier.


"Sayang, kamu melahirkan anak perempuan"