
"Aku di lecehkan, Ghe" lirih Melissa yang membuat Diana dan Ghiea sangat terkejut seperti di sambar petir.
"Sama siapa, Mel?" tanya Ghiea.
"Siapa pelaku nya, Mel? Laporkan saja ke polisi" sambung Diana.
"Sama Alan, kemarin, di kantor ini, disini"
"APAAA??" pekik Diana dan Ghiea secara bersamaan. Mata mereka melotot sempurna dan mulut mereka terbuka lebar.
"Jangan bercanda deh, Mel' seru Ghiea yang tak percaya dengan aduan Melissa itu.
" Sumpah, Ghe. Aku tidak mungkin bercanda dalam urusan seperti ini" tegas Melissa yang benar benar merasa di lecehkan.
"Terus kamu mau melapor polisi?" tanya Diana dan tentu Melissa mengangguk yakin "Tapi Alan itu orang kaya, Mel. Kamu tidak akan bisa melawan dia" ujar Diana lagi. Melissa yang mendengar itu langsung menatap Ghiea memohon, karena hanya Ghiea lah yang bisa membantu nya sekarang dengan status nya sebagai Nyonya Anson.
"Kita tidak boleh menjadi wanita lemah, Di" seru Ghiea akhir nya "Tidak perduli sekalipun Alan adalah anak menteri, kita tetap akan melaporkan nya ke polisi, kita harus memperjuangkan harga diri kita, menegakkan keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia" seru Ghiea antusias dan penuh perjuangan.
"Terus sekarang kita harus bagaimana, Ghe?" tanya Melissa.
"Kita akan laporkan hal ini ke Xavier dulu, biar dia tahu masalah nya dan dia akan berdiri di belakang kita sampai perjuangan ini berakhir" seru Ghiea lagi.
"Ya sudah, ayo kita temui Xavier sekarang" ujar Ghiea kemudian. Ketiga dara itu pun segera pergi ke ruangan Xavier yang ada di lantai Paling atas.
...
Sementara itu, Xavier mengajari Max bekerja. Karena Xavier ingin suatu saat nanti, Max bisa membangun perusahaan nya sendiri dan membanggakan Mommy nya.
Sementara Max, yang memang sebenar nya cerdas dan juga yang pasti ia tahu diri, Max belajar dengan sangat serius. Ia tak ingin mengecewakan Mommy nya apa lagi Kakak tiri nya yang sudah sangat baik pada nya dan Tidak sedikit pun membenci nya.
"Kamu fahamkan bagaimana cara nya bermain saham?" tanya Xavier dan Max mengangguk "Tapi itu bukan basic utama kamu bisa menjadi pemimpin, bermain saham itu bisa di pelajari dan di lakukan siapa saja, Max. Yang paling penting dalam menjadi pemimpin adalah mampu mengambil keputusan dalam segala situasi dan mampu mempertanggung jawabkan keputusan nya" jelas nya.
"Aku akan belajar lagi, terima kasih" kata Max tulus.
Pintu ruangan Xavier terbuka dan menampilkan tiga dara dengan raut wajah yang sudah memberi pertanda bahwa seperti nya badai akan datang.
"Ada apa, Sweetheart?" tanya Xavier dan ia segera beranjak dari kursi nya "Kamu lelah? Lapar? Mual? Mau pulang?" ia mencecar Ghiea dengan berbagai pertanyaan dan ia tampak cemas.
"Aku baik baik saja, Honey" kata Ghiea.
"Lalu kenapa kalian bertiga ke sini?" tanya Xavier lagi. Sementara Max sesekali mencuri pandang pada Diana, beda hal nya dengan Diana yang menatap Max terang terangan dengan tajam.
"Sahabat ku di lecehkan!" tegas Ghiea marah sambil mengepalkan tangan kanan nya. Max yang mendengar itu langsung melotot terkejut, tentu yang ia kira adalah Diana, Max fikir Diana pasti sudah mengadu pada Ghiea bahwa Max melecehkan nya. Memikirkan hal itu, Max begitu takut, apa lagi jika sampai Xavier tahu, Xavier pasti akan kecewa pada nya sebagai adik.
"Siapa yang di lecehkan? dan di lecehkan sama siapa?" tanya Xavier yang tentu saja juga sangat terkejut.
Max semakin gugup, detak jantung nya seperti detik detik bom yang akan meledak. Sementara waktu terus begitu lambat berjalan, seperti dalam mode slow motion.
"Bagaimana bisa?" pekik Xavier tak percaya.
"Ada bukti nya kok, Pak" seru Melissa "Ini, saya sudah menyalin rekaman cctv kemarin, di sini terlihat jelas kalau sahabat Pak Xavier itu melecehkan saya" ujar Melissa penuh amarah sembari menyerahkan sebuah USB pada Xavier. Xavier pun mengambil USB itu meskipun dengan wajah yang terlihat ragu, tentu ia tidak percaya kalau sahabat nya bisa melecehkan seseorang di kantor nya apa lagi orang itu sahabat istri nya.
Xavier mencolokan USB itu ke laptop nya, ia memutar rekaman CCTV yang sudah di saling Melissa.
Xavier, Melissa, Diana, Ghiea dan bahkan Max sama sama menonton itu. Hingga layar laptop menampilkan saat Alan memaksa mencium Melissa.
"Tuh kan, saya tidak bohong" seru Melissa. Sementara Xavier masih fokus menatap layar laptop itu, ia memutar rekaman itu beberapa kali dengan dahi mengkerut, seolah ia mencari sesuatu di sana. Sementara Max juga terkejut melihat rekaman itu, ia takut Diana melakukan hal yang sama, melaporkan nya pada Xavier. Apa lagi, ciuman Alan itu hanya di bibir dan tangan nya tidak bergerliya kemana mana. Sementara tangan Max?
Oh, mengingat saat saat itu bulu kuduk Max berdiri. Itu memang pelecehan.
"Dimana?" tanya Xavier tiba tiba yang membuat semua orang terkejut.
"Dimana apa nya?" tanya Ghiea.
"Pelecehan nya?" tanya Xavier dengan enteng nya yang membuat ketiga sahabat itu langsung melongo.
"Honey, kamu tidak katarak, kan?" tanya Ghiea "Jelas jelas Alan mencium Melissa dengan paksa" tukas Ghiea.
"Sweetheart, itu kan hanya ciuman" kata Xavier yang membuat ketiga wanita itu kembali melongo.
"Pak Xavier..." seru Diana dengan lantang "Meskipun cuma ciuman..." Diana berkata pada Xavier namun mata nya tertuju pada Max "Itu juga pelecehan jika pelaku nya memaksa dan wanita nya merasa tidak nyaman, merasa di lecehkan. Itu bisa di hukum pidana juga lho, Pak Xavier" seru Diana masih menatap Max. Membuat kedua kaki Max langsung gemetar.
Sementara Xavier, ia menghela nafas panjang dan tentu Xavier tidak merasa itu pelecehan, karena sejak sekolah dulu, Alan memang seorang player Dan para wanita dengan senang hati melemparkan diri pada nya. Sampai detik ini tidak pernah ada yang menolak Alan apa lagi merasa di lecehkan.
"Jadi mau kamu apa, Mel?" tanya Xavier.
"Mau melaporkan pria itu ke polisi" seru Melissa dengan tegas.
"Oh, ayo lah, Melissa. Kamu bisa bicara baik baik dengan Alan, aku akan memanggil nya dan meminta nya meminta maaf pada mu, okey? Kalau kasus ini di bawa ke polisi, urusan nya akan panjang. Atau mungkin memang akan pendek urusan nya karena Alan itu bukan orang sembarangan, dengan kekuasaan yang dia miliki, dia bisa menutup kasus ini hanya dalam satu kedipan mata" jelas Xavier.
"Tidak mau, aku mau membawa kasus ini ke polisi" kekeh Melissa.
"Aku akan mendukung sahabat ku" sambung Ghiea "Kalau kamu tidak mau membantu kami, tidak apa apa" ketus nya sambil mengelus ngelus perut nya, seolah memberi isyarat pada suami nya itu dan tentu saja Xavier langsung menyadari sesuatu.
"Tidak tidak...." seru nya "Aku yang akan mengurus nya, Sweetheart. Jangan sampai kamu banyak fikiran karena kasus ini, nanti bahaya untuk bayi kita" nya yang membuat Ghiea tersenyum samar.
"Jadi, mau melaporkan Alan ke polisi?" tanya Ghiea ingin memastikan.
"Iya, sweetheart. Jangan khawatir" Jawab Xavier pasti.
"Aku juga ingin mengajukan keluhan yang sama" tiba tiba Diana menimpali yang membuat Max melotot terkejut.