
Keesokan harinya...
Max menatap diri nya sendiri di cermin sebelum berangkat pergi bekerja. Ia sudah siap untuk pergi bekerja namun Max masih belum mengancingkan semua kancing kemeja nya, alasan nya cuma satu, Max masih suka memperhatikan bekas lipstik Diana yang masih menempel di pundak nya. Max sengaja tidak menghapus lipstik itu karena ia menyukai nya, bahkan Max sengaja tidak menyabuni bagian pundak nya saat mandi karena takut bekas lipstik nya hilang.
"Aku suka Diana, apa aku ajak dia pacaran saja ya?" monolog nya. Pipi Max selalu merah merona setiap kali ia mengingat ciuman Diana yang membuat seperti ada gelungan ombak di perut nya.
"Max..." terdengar teriakan Mommy nya dari bawah, membuat Max sedikit terkejut. Dengan cepat ia mengancingkan kemeja nya dan berlari turun.
Nyonya Leona memicingkan mata nya saat melihat putra nya itu senyum senyum sendiri dan wajah nya juga tampak merona.
"Kamu kenapa, Max?" tanya Nyonya Leona sembari mengambil satu lembar roti, mengoleskan nya dengan selai cokelat kesuksaan Max dan kemudian meletakkan nya di piring Max.
"Tidak apa apa, Mom" jawab Max kemudian meminum susu yang juga sudah di persiapkan oleh Mommy nya.
"Hem begitu..." gumam Nyonya Leona namun ia masih menatap curiga pada putra nya itu.
..........
Ghiea baru saja terbangun dengan tubuh yang terasa berat, karena Xavier memeluk nya dengan begitu erat dan lengan kekar nya itu melingkari perut Ghiea.
"Egh..." Ghiea melenguh sembari mencoba menyingkirkan tangan Xavier dari perut nya.
"Xavier..." seru Ghiea dengan suara parau nya khas bangun tidur "Bangun, sudah jam 8..." kata Ghiea namun Xavier hanya melenguh pelan dan semakin mengeratkan pelukan nya pada Ghiea.
Ghiea pun tak lagi membangunkan pria aneh ini, ia berbalik dan kini diri nya berhadapan dengan Xavier.
Ghiea mengangkat tangan nya dan menelusuri wajah tampan Xavier dengan jari jari lentik nya, Ghiea menatap Xavier lekat lekat dan sudut bibir nya tertarik membentuk sebuah senyum samar. Xavier begitu sempurna, alis nya tebal, bulu mata nya lentik, hidung nya mancung, bibir nya tidak tipis dan tidak tebal, bulu bulu halus tumbuh di rahang nya dan itu yang paling Ghiea sukai. Ghiea menatap sendu boss besar nya ini, yang kemungkinan besar memiliki hubungan dengan Ghiea di masa lalu.
"Kenapa kita seperti, Xavier? Tidur satu ranjang, satu selimut bahkan aku tidur di pelukan mu. Dan itu terjadi setiap malam tanpa ada perasaan bersalah pada diri kita, karena bagaimana pun, kamu bukan milik ku tapi milik wanita lain"
"Kenapa kita seperti sepasang suami istri yang sempurna? Yang saling mencintai dan membutuhkan. Ya, Xavier. Aku merasa membutuhkan mu, tak perduli seberapa banyak kamu berbohong pada ku, aku bahkan sampai bingung yang mana kejujuran mu dan yang mana kebohongan mu. Tapi hati kecil ku selalu ingin mempercayai mu... "
"Aku tahu aku tampan..." tiba tiba terdengar suara Xavier yang menyadarkan Ghiea dari lamunan nya dan Ghiea dengan cepat menjauhkan diri dari Xavier.
"Kau sudah berjanji akan menceritakan tentang masa lalu ku..." Ghiea menagih tak perduli bahwa baru saja mereka terbangun dari tidur mereka.
"Iya, Sweetheart. Aku janji akan menceritakan semua nya sama kamu, emmmh tapi sekarang cium dulu..." pinta nya manja membuat Ghiea mendelik.
"Minta cium sama istri mu sana..." seru Ghiea dan ia merangkak turun dari ranjang. Sementara Xavier terkekeh sembari menyenderkan punggung nya di kepala ranjang.
"Jadi malam nya memeluk Ghiea dan pagi nya mencium Clara, begitu? Hm?" goda Xavier yang kembali membuat Ghiea mendengus.
"Terus sekalian saja siang nya bercinta sama istri mu itu" tukas nya secara asal yang membuat Xavier kembali terkekeh.
"Menjijikan...." desis nya.
..........
Clara pergi ke kantor seperti biasa dan ia sangat terkejut dengan kedatangan Xavier yang tiba tiba.
Apa lagi Xavier mengadakan meeting mendadak dengan semua staf staff penting perusahaan nya, termasuk Clara dan Jamie di wajibkan hadir.
"Seharus nya dia kan masih di luar kota, kenapa bisa ada di sini?" Clara hanya bisa bertanya tanya dalam hati.
"Jadi, semua nya sudah berkumpul?" Xavier duduk duduk di kursi kebesaran nya, ia melirik Clara dengan sinis dan senyum miring tercetak di bibir nya.
"Terkejut kau, Clara..." seru batin nya puas, apa lagi Xavier sudah mendapatkan semua informasi dari Jamie dan bagaimana Clara bisa tahu apartement Xavier dan Ghiea.
"10 hari aku ulang tahun, aku ingin mengadakan acara ulang tahun sekaligus ulang tahun perusahaan" kata Xavier yang membuat semua orang tampak sangat antusias.
"Dan aku ingin, semua investor kita, semua klien kita, semua rekan bisnis kita di undang" kata Xavier kemudian.
"Karena itu juga akan menjadi pesta pernikahan ku dan Ghiea" kata Xavier dalam hati.
Hari ini, ia berniat akan memberi tahu Ghiea tentang masa lalu mereka, tak hanya itu, Xavier juga akan memberi tahu Max bahwa mereka saudara seibu dan beda Ayah. Xavier ingin Max menjadi pemilik sebagian perusahaan nya juga, karena Ayah Max yang juga Ayah tiri adalah pemilik 35% saham di perusahaan Xavier tanpa ada yang tahu. Lebih tepat nya, memang di rahasiakan terutama deri Granny Kelly.
.........
Diana menatap pantulan diri nya di cermin, saat ini ia sudah berada di kantor nya namun Diana justru mengurung diri di toilet, bukan karena apa, tapi karena ia merasa takut bertemu Max. Ah, lebih tepat nya merasa gugup.
Diana teringat bagaimana ia dan Max berakting di depan Clara dan Nenek nya Xavier, Diana dan Max benar benar tampak seperti pasangan yang sedang di mabuk asmara. Diana bahkan seolah masih merasakan lingkaran tangan Max dan perut nya, ciuman Max di rahang dan pundak nya dan juga hembusan nafas Max di leher nya.
Diana bahkan merinding mengingat semua itu.
"Diana..." Diana terkesiap mendengar teriakan Melissa, dengan cepat ia mencoba menetralkan ekspresi wajah nya dan bersamaan dengan itu, Melissa muncul dengan dua gelas kopi di tangan nya.
"Astaga, Di. Aku fikir kamu pingsan, lama sekali di toilet nya" gerutu Melissa.
"Tadi make up aku berantakan" jawab Diana asal "Sudah, ayo.." Diana mengambil satu gelas kopi yang di pegang oleh Melissa dan kedua nya pun melangkah pergi ke ruang kerja mereka.
Saat berjalan menuju meja kerja nya, Diana melirik Max dan kebetulan sekali Max juga melirik nya. Max tampak tersipu begitu juga dengan Diana, namun Diana justru kembali memperlihatkan raut wajah judes nya. Membuat wajah Max langsung berubah masam dan tertunduk sedih.
.........