My Possessive Boss Is My Husband

My Possessive Boss Is My Husband
Episode 56



Saat ia membuka pintu kamar mandi nya, Ghiea tercengang.


Melihat Xavier yang entah datang dari mana dan sejak kapan berada di kamar nya, apa lagi kini Xavier sedang menatap tajam pada nya dengan kemeja Max yang sudah robek di tangan nya. Ghiea hanya bisa menelan saliva nya dengan susah payah, terkahir kali ia hampir mati karena karena Max numpang buang air kecil di apartement nya. Dan sekarang?


"Mati aku..."


Ghiea menatap takut Xavier, apa lagi ketika Xavier melangkah lebar mendekati nya dengan tatapan bak pemburu yang sudah mendapatkan buruan nya dan siap melepaskan anak panah nya.


Ghiea melangkah mundur, ia kembali menelanan saliva nya apa tatapan Xavier yang ia rasa seolah akan menguluti nya hidup hidup.


"Siapa?" tanya Xavier mendesis tajam.


"M... Max..." Jawab Ghiea tergugu dan Xavier terlihat langsung sangat murka.


"Kamu..."


"Bukan... Bukan begitu cerita nya!!!" teriak Ghiea sembari berlari saat Xavier hendak menangkap nya.


"Apa nya yang bukan begitu cerita nya?" tanya Xavier masih mendesis tajam.


"Itu... Dino..." jawab Ghiea masih tergugu, dan sontak jawaban nya yang setengah setengah itu membuat Xavier makin geram. Ia mengepalkan tangan nya dan melempar kemeja itu dengan kasar, ia mendekati Ghiea seolah ingin menerkam nya. Ghiea pun sontak berlari menjauh dan berusaha keluar dari kamar, namun keberuntungan tidak berpihak kepada nya saat Xavier bisa dengan mudah menangkap nya dan mengurung nya dalam dekapan nya.


"Xavier... Dengerin dulu penjelasan ku..." teriak Ghiea sembari berusaha memberontak, namun yang ada Xavier mengunci pergerakan kaki Ghiea dengan kaki nya, mengunci tubuh atas Ghiea dengan lengan nya. Ghiea menggeliat...


"Ah, Xavier... Lepaskan!!!!" Ghiea berontak saat Xavier mengangkat tubuh Ghiea ke pundak nya. Xavier memikul Ghiea seperti sekarung beras, Ghiea menendang nendangkan kaki nya ke udara dan juga memukul mukul punggung Xavier dengan sekuat tenaga, namun Xavier seolah tak merasakan apapun.


Xavier membawa Ghiea ke ranjang nya, ia menarik kedua tangan Ghiea ke atas kepala nya kemudian melepaskan dasi yang di pakai nya dan mengikat tangan Ghiea, membuat Ghiea semakin panik.


"Xavier, dengar..."


"Agh, Xavier!!!!" teriak Ghiea saat Xavier melepaskan bathrobe yang Ghiea pakai, Ghiea mencoba menendang Xavier namun Xavier justru mengikat kedua kaki Ghiea dengan jas yang tadi di kenakan nya.


"Xavier, jangan...!!!!" teriak Ghiea namun Xavier seolah tuli. Ia membungkuk, menelusuri setiap inci kulit istri nya itu dengan tatapan yang begitu dalam dan teliti seolah ingin mencari sebuah petunjuk tersembunyi di kulit sang istri.


Sementara Ghiea bergerak gelisah, tatapan Xavier seolah membakar tubuh nya hingga ke tulang tulang nya.


Tak sampai di sana, Xavier bahkan mebuka paha dalam Ghiea dan memeriksa nya, membuat Ghiea menahan nafas tanpa sadar. Jantung nya berdebar hebat seperti drum yang di tabuh, nafas nya kian memburu dan tatapan nya seperti rabun.


"Xavier..." Ghiea bahkan tanpa sadar mengerang lirih saat hari Xavier menelusuri paha bagian dalam nya dengan jari jari nya.


"Apa yang... Eghh..." Ghiea tak bisa lagi berkata kata.


"Aku ingin tahu, apa ada bekas nya" kata Xavier dengan suara berat nya yang kian parau, sekuat tenaga Ghiea berusaha tetap pada kesadaran nya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun tentu Ghiea kesulitan, jangan kan untuk berbicara, untuk bernafas saja rasa nya kesulitan.


"Pintar sekali, tidak meninggalkan bekas apapun" geram Xavier dengan tatapan yang masih begitu tajam dan terlihat sekali ia sedang sangat marah, namun Ghiea juga melihat seperti ada luka dan rasa sakit di mata Xavier, itu membuat nya merasa bersalah dan tidak tega. Hati nya tidak mau melihat Xavier terluka dan sakit, Ghiea menatap sendu pria aneh di depan nya ini.


"Ini..." Ghiea berusaha berbicara "Tidak seperti yang kamu fikiran, Max dan Diana... Mereka" Ghiea tentu kesulitan menyusun kata katanya, apa lagi suasana nya begitu canggung dan ia merasakan atmosphere kamar nya itu begitu panas padahal AC nya menyala.


"Max? Diana? Dino?" tanya Xavier yang tak mengerti.


"Apa maksud mu? Apa yang kalian lakukan di sini saat aku pergi?" tanya nya dingin.


"Clara..." kata Ghiea lirih, Xavier terkejut mendengar Ghiea menyebutkan nama Clara.


"Clara? Kenapa dengan nya?"


"Dia datang... Egh, Xavier..." Ghiea menggeliat tidak nyaman dengan posisi nya sekarang "Dingin, aku butuh selimut..." bohong nya, padahal ia merasa kepanasan. Meskipun Xavier tak menyentuh tubuh nya, namun tanpa sehelai benang pun di atas ranjang dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat membuat Ghiea seperti akan gila.


Xavier menatap Ghiea, harus ia akui, jiwa lelaki nya bergejolak melihat Ghiea begitu pasrah tak berdaya di atas ranjang. Namun Xavier harus menemukan jawaban dari kebingungan nya, dan kenapa bisa ada kemeja Max yang robek, ikat pinggang bahkan celana Max ada di kamar nya.


Xavier menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh Ghiea, hanya sampai perut nya dan itu tidak cukup untuk Ghiea.


"Xavier..." lirih Ghiea, ia sangat malu karena bagian tubuh atas nya terpampang jelas di depan mata Xavier..


"Jelaskan!!!!" bentak Xavier yang membuat Ghiea terkesiap.


.........


"Kenapa pakaian mu beda?" tanya Nyonya Leona saat Max datang dengan celana dan kemeja yang berbeda.


"Cerita nya panjang, Mom..." kata Max dengan senyum samar yang coba ia tahan, pipi nya memerah dan terasa panas setiap kali mengingat Diana mencium nya.


Max langsung berlari ke kamar nya, membuat Nyonya Leona mengernyit bingung.


Di kamar nya, Max berdiri di depan kaca sembari memegang dada nya yang masih berdebar hebat. Bibir nya kini menyunggingkan senyum yang lebih jelas, kemudian Max memegang bagian bawah perut nya.


"Kenapa saat Diana mencium ku, seperti ada yang bergerak di perut ku ya?"


"Seperti ada ombak..." kemudian Max memegang kedua pipi nya yang semakin terasa panas.


Kini Max melemparkan tubuh nya ke ranjang, menyembunyikan wajah nya yang merona di bantal.


"Aduh, kenapa jantung ku seperti drum ya" ia menggumam. Kemudian ia tidur terlentang, tatapan nya lurus menatap langit langit kamar nya dan ia teringat saat diri nya mencium pundak Diana.


"Kulit Diana benar benar lembut, aku suka..."