
Melissa pergi ke kantor seperti biasa, dan seperti biasa juga Alan mengikuti nya yang tentu saja membuat Melissa benar benar merasa kesal namun ia tak bisa apa apa. Mengusir pria itu juga akan percuma saja.
"Jika pembunuhan itu tidak hukum, aku pasti sudah membunuh mu ribuan kali" gerutu Melissa pada Alan yang terus mengekori nya bahkan ketika ia sudah masuk ke kantor. Saat ini kedua nya sedang berada dalam lift dan dengan santai nya Alan bersender di di dinding sembari menatap Melissa dengan begitu intens. Ia menyilangkan kaki nya, menampilkan sesuatu yang menonjol di bawah sana. Kedua tangan nya ia lipat di dada, menampilkan lengan kekar nya karena lengan kemeja nya ia lipat.
"Kamu itu kalau banyak bicara terlihat sangat cantik lho.." goda Alan dengan santai nya padahal raut wajah Melissa sejak tadi sudah di tekuk dan tentu sekarang semakin di tekuk.
"Bibir mu itu, bergerak gerak, jadi gemas dan ingin..."
Cup
"Hey..." teriak Melissa karena Alan dengan sangat tidak sopan nya langsung mengecup bibir nya yang sudah ia polesi lips gloss itu.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Melissa.
"Cuma nge cek" kata Alan sembari mengusap bibir nya yang terasa lengket karena terkena lips gloss Melissa.
"Nge cek apa?" teriak Melissa.
"Rasa bibir mu, Hem rasa nya lengket" kata Alan yang membuat Melissa melongo "Dulu waktu aku mencium mu, lipstik mu tidak menular begini"
"Menular? Kamu fikir ini penyakit?" Melissa kembali berteriak kesal dan bersamaan dengan itu pintu lift terbuka.
"Bukan begitu maksud ku, Sugar" kata Alan dan kini ia mengikuti Melissa yang hendak pergi ke meja kerja nya "Waktu aku mencium mu, lipstik mu tidak seperti ini"
"Karena waktu itu aku pakai lipstik yang mate" jawab Melissa.
"Terus kalau sekarang?" tanya Alan lagi.
"Lips gloss" ketus Melissa namun ia masih menjawab pertanyaan Alan.
"Aku suka yang ini, bibir mu jadi basah dan mengkilappp emp...." Alan langsung membungkam mulut nya saat Melissa langsung menatap nya dengan tajam.
"Pergi sana..." usir Melissa "Kata nya punya perusahaan juga, tapi kerjaannya tidak jelas" gerutu nya dan Melissa mempercepat langkah nya.
Sementara Alan justru terkekeh, ia kembali masuk ke dalam lift dan ia memang ada pertemuan penting hari ini. Namun entah mengapa, Melissa tampak lebih menarik bagi nya di bandingkan pertemuan penting nya yang bisa menghasilkan ratusan juta.
Beda hal nya dengan Melissa yang mengawali hari nya dengan rasa kesal, Diana justru mengawali hari nya dengan senyum sumringah dan mata yang berbinar. Pagi ini ia merasa matahari bersinar lebih terang, udara pagi terasa lebih segar dan semangat Diana untuk menjalani hari hari nya lebih menggebu gebu.
Tak hanya itu, Diana bahkan berpenampilan sangat berbeda hari ini. Bahkan Melissa yang melihat nya sampai tercengang sambil mengucek mata nya yang ia kira salah lihat atau bahkan rabun.
"Ini kamu, Di?" pekik Melissa tak percaya, ia memperhatikan penampilan Diana dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Ta hanya itu, Diana memakai dress berwarna baby pink dengan panjang sampai di bawah lutut, dress itu menempel sempurna di tubuh Diana namun dari pinggang ke bawah dress itu mengembang dan di pinggang nya ada tali yang di ikat ke belakang dengan simpul berbentuk pita, penampilan Diana semakin menggemaskan dengan flat shoes yang berwarna senada dan juga dengan hiasan pita.
"Kenapa?" tanya Diana sembari meletakkan tas nya di meja nya.
"Kamu dapat dress mungil ini dari mana, Di?" tanya Melissa yang membuat Diana memberengut.
"Beli lah" ketus Diana dan ia mendaratkan bokong nya di kursi nya.
Melissa menatap Diana penuh curiga apa lagi sejak kemarin Diana memang menunjukan sikap yang berbeda, sementara Diana tak memperdulikan tatapan Melissa dan ia menyalakan komputer di depan nya masih dengan senyum yang mengembang di bibir nya.
...
Sesampainya Xavier di ruangan nya, ia langsung memberi kabar pada sang istri bahwa ia sudah sampai ke kantor dengan aman dan selamat. Tak lupa Xavier lagi dan lagi mengingatkan Ghiea agar tak kelelahan.
Setelah itu, Xavier membuka laptop nya dan memulai pekerjaan nya yang tertunda kemarin. Di tangah fokus nya Xavier dalam menjalankan pekerjaan nya, dering ponsel yang ia letakkan di atas meja tiba tiba mengejutkan nya. Xavier langsung menyambar ponsel nya itu yang ternyata dari nomor telepon penjara tempat Nenek nya di tahan.
"Halo..."
"Selamat pagi, Pak. Apa benar ini dengan Pak Xavier?"
"Iya, ada apa?"
"Saya mau mengabarkan kalau Mbah Kelly masuk rumah sakit, Pak..."
"Apa?"
..........
Ghiea dan Ibu mertua nya berziarah ke makam sang Mama, Ghiea mendoakan sang Mama dan mengungkapkan kerinduan yang ia rasakan pada sang Mama. Meskipun Ghiea tidak ingat seberapa dekat ia dan Mama nya, atau seberapa sayang sang Mama pada nya. Namun dari kepingan kepingan memori yang muncul dalam mimpi nya itu Ghiea sangat yakin sang Mama pasti sangat sayang pada nya.
"Andai saja Mama masih di sini, Mama pasti senang karena aku hamil" kata Ghiea sembari mengusap nisan yang terukir nama sang Mama, Gayatri. Itulah nama yang terukir di sana.
"Mama pasti senang juga karena punya menantu yang sangat kaya, seorang bos. Hehe" kata Ghiea lagi dengan mata yang berkaca kaca, mungkin bibri nya menyunggingkan senyum namun luka yang terlihat di sorot mata nya tak bisa di tutupi begitu saja. Sementara Nyonya Leona hanya bisa mengusap pundak Ghiea, seolah memberikan kekuatan untuk sang menantu yang pasti merasa sangat kehilangan.
Setelah selesaikan mendoakan sang Mama, Ghiea dan Nyonya Leona pun berziarah ke makam ayah Max dan Ayah Xavier, yaitu Steve dan Evan. Yang sengaja di makamkan berdampingan.
Nyonya Leona mendoakan ayah ayah dari kedua putra nya itu, namun tampak sekali yang di rindukan oleh Nyonya Leona adalah Steve, Ayah Xavier.
"Andai saja aku bisa ikut kamu, Mas" kata Nyonya Leona dan hal itu tentu membuat Ghiea tersentuh "Tapi aku harus bertahan demi anak kita, aku yakin di surga sana kamu pasti sudah bahagia dan bersahabat lagi dengan Evan. Kami tidak mengkhianati mu, Sayang. Aku fikir kamu tahu betapa aku mencintaimu dan hal yang sangat tidak mungkin jika aku bisa berpaling dari mu. Tapi Mama Kelly, dia mempermainkan permainan yang luar biasa menyakitkan. Bukan hanya pada kita tapi juga pada anak anak kita" Tapi kamu tenang saja, sekarag semua nya sudah aman. Xavier membaut semua nya jauh lebih baik"