My Possessive Boss Is My Husband

My Possessive Boss Is My Husband
Episode 104



"Anak wanita malam..."


"electric.."


"Ibu nya adalah seorang pelacur..."


"Will you marry me?"


"I love you..."


"Dia gadis kampungan..."


"Jangan jangan dia akan jadi seperti Ibu nya.."


"Aku mencintai mu apa ada nya"


"Aku suka ada di danau ini, aku ingin punya rumah di tepi danau..."


"Electric, jangan menyentuh bokong ku..."


"Aku hamil..."


"Bayi nya sudah jadi..."


"Aku sangat mencintai mu, Ghiea"


"Mama..."


"Dasar wanita malam..."


"MAMA ..." Ghiea tersadar dari pingsan nya dan ia langsung duduk tegak, pandangan nya menyesuri ke seliling ruangan yang serba putih itu. Nafas Ghiea begitu memburu dan keringat dingin membasahi seluruh tubuh nya, Ghiea mengusap wajah nya kemudian memijat kepala nya yang teras begitu sakit seperti di hantam benda keras, ia mencoba mengingat apa yang terjadi Karena saat ini ia berada di Ruang rawat rumah sakit.


"Ghiea..." pintu terbuka dan menampilkan sosok Xavier yang tentu saja langsung bergegas menghampiri Ghiea dengan langkah lebar nan cepat.


"Sweetheart, akhir nya kamu sadar juga" kata Xavier bernafas lega dan tiba tiba Ghiea melompat turun dari bangsal nya dan ia langsung berhambur ke dalam pelukan Xavier, tentu saja Xavier langsung mendekap sang istri degan sangat erat.


Ghiea tampak ketakutan dan bahkan seluruh tubuh nya bergetar, Xavier bisa merasakan hal itu dan itu membuat nya merasa cemas dengan kondisi sang istri.


"Ada apa, Sweetheart?" tanya Xavier dengan lembut, ia membelai rambut sang istri degan begitu lembut dan mengecup ubun ubun nya beberapa kali.


"Mama..." lirih Ghiea kemudian "Aku bermimpi Mama, Honey" lirih Ghiea dan ia mulai terisak, mimpi yang hadir tentang masa lalu nya begitu menakutkan.


"Aku...."


"Shhssst, itu hanya mimpi, Sweetheart" kata Xavier masih membelai rambut sang istri.


"Tapi, Xavier. Mimpi nya menyeramkan sekali, aku juga melihat mu di mimpi ku, aku melihat kita di sana..." kata Ghiea dan ia tahu itu bukan sekedar, Ghiea semakin terisak saat mengingat apa yang di katakan orang orang dalam mimpi nya


"Mereka... Mereka memanggil Mama ku wanita malam, Xavier... Hiks hiks..." tubuh Xavier menegang mendengar apa yang di ucapkan sang istri, masa lalu nya kembali menghantui nya namun kali ini Xavier takkan menghalangi Ghiea mengingat nya.


"Bayi ku..." kata Ghiea kemudian sembari memegang perut nya.


"Bayi kita selamat dan baik baik saja, Sweetheart. Kamu pingsan karena kamu sangat panik" kata Xavier lembut, kemudian ia menggendong Ghiea dan membawa nya kembali ke bangsal nya.


"Tapi, Mama..." Ghiea menatap sang suami dengan tatapan yang begitu sendu, air mata mengalir bebas di pipi nya saat mengingat kepingan memori masa lalu nya yang hadir dalam mimpi nya.


"Mama sudah baik baik saja di surga sana, Sweetheart. Dan Mama bukan wanita malam, beliau wanita baik baik dan terhormat dan itu lah Mama mu" tegas Xavier sembari menghapus air mata Ghiea.


"Jangan tinggalkan aku, aku takut..." rengek Ghiea kemudian.


"Tidak akan, Sweetheart. Aku di sini...." kata Xavier, ia duduk si samping Ghiea dan Ghiea kembali memeluk nya, Ghiea menyandarkan kepala nya di dada sang suami.


Kedua nya pun sama sama diam, sesekali isak tangis Ghiea yang teredam dada sang suami masih terdengar, getaran tubuh nya juga perlahan berhenti. Sementara Xavier dengan begitu mesra membelai rambut dan punggung sang istri, sentuhan ringan yang menyalurkan rasa nyaman dan aman pada diri Ghiea.


.........


Sementara itu, Nyonya Leona baru saja sampai ke rumah sakit dimana tempat Ghiea di rawat. Setelah mendapatkan kabar bahwa Ghiea terjebak di lift dan masuk rumah sakit, Nyonya Leona langsung bergegas pergi ke rumah sakit tanpa buang buang waktu lagi.


Saat ini ia berjalan tergesa gesa menuju ruang rawat sang menantu.


Setelah menemukan kamar yang di tuju, ia pun masuk ke dalam dan ia melihat putra nya yang sedang menenangkan istri nya.


"Ghiea, Dear..." lirih Nyonya Leona, Ghiea mendongak dan ia menatap sedih sang Ibu mertua. Ibu mertua nya itu pun langsung menghampiri Ghiea dan mengusap kepala nya dengan sayang.


"Ada apa? Kenapa sedih? Bayi kalian baik baik saja kan?" tanya Nyonya Leona.


"Iya, Mom. Syukurlah bayi kami baik baik saja..." kata Xavier lirih.


"Seharus nya kalian tidak tunggal di apartement, lebih aman tinggal di rumah, Xavier. Dan sebaik nya kalian tinggal di rumah ku, agar aku bisa memastikan menantu ku ini baik baik saja..." kata Nyonya Leonan yang tentu saja langsung di setujui oleh Xavier begitu juga dengan Ghiea.


"Apa kata Dokter tadi, Xavier? Apa Ghiea perlu di rawat inap?" tanya Nyonya Leona lagi


"Kata nya di suruh menunggu beberapa waktu jam lagi, Mom. Untuk memastikan keadaan Ghiea dan janin kami"


"Yah, itu lebih baik. Sebaik nya kita juga pindah ke ruangan VIP supaya Ghiea beristirahat dengan tenang dan nyaman"


"Iya, Mom. Aku akan urus itu" kata Xavier kemudian ia menatap Ghiea dan mengecup kening nya "Jangan khawatir, kami di sini" kata nya yang membuat senyum Ghiea terbit walaupun hanya sangat sedik.


.........


Apa yang terjadi pada Ghiea sungguh memacu adrenaline Xavier, begitu juga dengan apa yang terjadi pada Max dan Diana. Hal yang sering mereka bicarakan dan jadikan bahan candaan dulu kini sudah di praktikan oleh Diana dan Max. Kedua nya kini sudah tidak berada di lift lagi melainkan berada di atap.


Kedua nya sama sama diam namun tangan kedua nya saling bertaut erat seolah tak ingin saling melepaskan. Tatapan kedua nya juga lurus menatap ke depan sana namun sesekali kedua nya saling mencuri pandang dari ekor mata masing masing.


Sudah hampir 30 menit mereka berada dalam keadaan yang sama dan kedua nya menikmati itu, apa yang terjadi di life tadi dan apa yang terucap dari bibir kedua nya sudah cukup memberikan petunjuk bahwa ternyata kedua nya memiliki perasaan yang sama.


"Em, Di...." akhir nya Max membuka suara setelah sekian lama terdiam.


"Hm..." Diana menanggapi dengan malu malu, apa lagi mengingat kali ini ia yang menyerang Max di lift tadi, bahkan Diana juga tahu tadi ada beberapa orang yang melihat kelakuan mereka di jam kerja.


"Kamu cemburu sama Sekretaris ku?" tanya Max lirih tanpa menatap Diana secara langsung, ia hanya berani melirik dari ekor mata nya.


"Kamu sendiri cemburu sama Alan?" Diana balik bertanya karena ia masih belum siap menyingkirkan ego nya.


"Iya, karena aku suka sama kamu, Di"