My Possessive Boss Is My Husband

My Possessive Boss Is My Husband
Episode 73



^^^Masih 7 hari yang lalu.^^^


"Kau merindukan ku?" tanya Xavier dengan suara serak, tatapan nya sudah begitu gelap dan pusat diri nya sudah berkedut merindukan rumah nya.


Ghiea tersenyum nakal, menatap Xavier bak wanita penggoda. Dan ya, ia tak masalah menjadi wanita penggoda suami nya sendiri. Ghiea menaiki tubuh Xavier dan menduduki tepat di bagian pusat diri nya yang sudah menegang itu, Xavier meringis saat Ghiea menggerakkan pinggul nya dengan sensual dan bagi Xavier ini sangat tidak adil, diri nya sudah polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh nya, sementara Ghiea masih berpakaian begitu lengkap dan Ghiea memakai celana Jeans yang ketat. Yang sudah pasti tidak bisa Xavier robek begitu saja meskipun diri nya sudah tak sabar lagi ingin membenamkan pusat diri nya pada goa milik sang istri.


"Sweetheart, kau menyiksa ku..." lirih Xavier frustasi, hal itu justru membuat Ghiea berseringai puas.


"Memang apa yang kau ingin kan, Honey?" tanya Ghiea sembari sedikit membungkuk, jari jari lentik nya menelusuri pelipis Xavier, turun ke rahang nya, turun ke leher nya, dan mendarat di dada bidang nya, dan itu membuat Xavier semakin frustasi.


"Aku ingin masuk, Sweetheart. Rasa nya sudah tidak tahan..." Xavier mengerang tertahan.


"Kau ingin masuk, hm?" goda Ghiea dan ia membuat gerakan gerakan abstract di dada sang suami.


"Yes, Sweetheart. He miss yours" kata Xavier yang kini memegang pinggul Ghiea supaya berhenti bergerak.


"Tapi aku ingin memastikan satu hal dulu, Honey" kata Ghiea lagi "Ini ranjang mu dan Clara?" tanya Ghiea dan Xavier mengangguk lemah.


"Kalian pernah bercinta di sini?" tanya Ghiea lagi dan Xavier dengan cepat menggelengkan kepala nya beberapa kali.


"Bohong" tuduh Ghiea tak percaya "Kalian sama sama dewasa, sama sama punya hasrat"


"Aku tidak memiliki hasrat pada siapapun selain pada mu, Sweetheart" kata Xavier dengan suara yang semakin parau.


"Lalu bagaimana jika dia menginginkan nya?" tanya Ghiea lagi.


"Dia oh...." Xavier mengerang saat tiba tiba Ghiea menunduk dan menggigit gemas titik hitam yang ada dada kanan Xavier


"Jawab, Honey..." pinta Ghiea dan ia menarik tangan Xavier ke atas kepala Xavier dan mungunci nya di sana.


"Dia pergi pada Jamie saat menginginkan nya..." jawab Xavier dengan satu tarikan nafas, suara nya terdengar berat karena menahan gejolak gairah yang semakin tinggi "Dan itu juga yang membuat ku tak ingin menyentuh nya..." Xavier melepaskan tangan nya dari tangan Ghiea dengan mudah, ia menyelipkan kedua tangan nya di punggung Ghiea dan langsung berguling ke samping, kini Ghiea berada di bawah kungkungan tubuh Xavier.


"Kau menggoda ku, Sweetheart. Akan ku buat kau berteriak nikmat..." erang Xavier yang membuat Ghiea terkekeh, Xavier segera menunduk dan menyerang leher sang istri, kedua tangan nya langsung merobek kaos yang di kenakann Ghiea, membuat Ghiea memekik. Tak lupa dua kain seperti kaca mata yang membungkus kedua gunung indah itu Xavier robek, dan ia buang secara asal.


"Clara memang tidur di ranjang ini, Sweetheart. Tapi kami tidak pernah melakukan apapun, aku lebih banyak menghabiskan waktu ku di ruang kerja, kadang aku juga tinggal di apartement atau tidur di kantor" jelas Xavier sembari berusia membuka celana jeans Ghiea. Ghiea mengangkat bokong nya guna mempermudah Xavier menarik celana nya itu.


"Kau yakin?" tanya Ghiea masih tak percaya.


"Aku sangat yakin, kamar ini menjadi saksi bahwa aku begitu setia pada mu" kata Xavier sembari menjatuhkan tubuh nya hingga menindih tubuh Ghiea. Bak magnet, kedua bibir itu kembali menyatu.


Ghiea mengalungkan lengan nya di leher Xavier, ia memejamkan mata menikmati setiap cumbuan sang suami yang begitu memabukan. Tangan Xavier menelusuri pinggang sang istri yang masih ramping, hingga jari jari nya itu menemukan karet kain yang mengungkus mahkota sang istri, bagian favorit Xavier.


Xavier menyentak, merobek kain itu dan melempar kain segitu berwarna putih secara asal, pandangan nya semakin menggelap saat menatap dengan lapar bagian paling indah milik istri nya itu, nafas nya memburu dan memberat, sementara sang istri hanya bisa tersipu dengan pipi yang sudah merah seperti tomat, nafas nya pun memburu, ia menutup kedua paha nya itu namun di tahan oleh Xavier.


"Biarkan saja, Sweetheart. Biarkan dia terbuka, aku merindukan nya. Sangat merindukan nya..." lirih Xavier yang kemudian menenggelamkan kepala nya di antara paha sang istri.


Ghiea hanya bisa menggeliat dan mengerang tertahan saat merasakan sapuan benda basah nan kenyal di bawah sana.


"Basah..." kata Xavier seolah memberi informasi tentang apa yang di temukan di bawah sini, hal itu membuat Ghiea semakin terbakar gairah. Ia menarik rambut Xavier, sebelum akhirnya menekan nya ke dalam. Seolah Ghiea meminta lebih, dan Xavier dengan senang hati akan melakukan hal itu.


Hingga beberapa detik kemudian, seluruh otot otot di tubuh Ghiea menegang. Ia merasakan gelombang dahsyat bergelung di bagian perut bawah nya, Ghiea semakin menekan kepala Xavier dan bersamaan dengan itu ia mengerang, melepaskan gelombang hangat dari tubuh nya. Seluruh tubuh nya kemudian terasa begitu lemas, ia terkapar dengan nafas yang putus putus dan tatapan yang begitu sayu.


Xavier merangkak dan mensejajarkan wajah nya dengan wajah Ghiea, Xavier kembali meraup bibir Ghiea, membagi rasa manis yang ia dapatkan dari bawah sana.


"Sudah saat nya, Sweetheart" kata Xavier serak, Ghiea yang teringat dengan kondisi diri nya yang sedang mengandung langsung meminta Xavier pelan pelan.


"Pelan pelan, Honey..." ucap nya serak.


"Akan aku usahakan" kata Xavier yang mengira mungkin milik Ghiea masih belum terbiasa dengan nya.


Xavier pun menurunkan panggul nya dan bersamaan dengan itu kedua nya mengerang nikmat.


"Kau masih selalu sama, Sweetheart. Membuat ku gila..." racau Xavier yang berusaha mendorong lebih dalam, Ghiea meringis antara enak dan sakit.


"Enak?" tanya Xavier sambil terkekeh.


"Sakit" rengek Ghiea.


"Kau merengek seperti gadis perawan saja" goda Xavier yang langsung membuat kedua pipi Ghiea bersemu merah.


"Auch...." Ghiea mengerang saat Xavier membenamkan pusaka nya itu seluruh nya, membuat Ghiea merasa penuh dan sesak.


"Ugh, enak nya..." racau Xavier yang membuat Ghiea terkekeh. Kedua nya terdiam dengan tatapan yang saling mengunci, menunggu inti Ghiea terbiasa dengan penghuni nya yang membuat Ghiea pening namun ia suka hal itu.


"Move..." lirih Ghiea saat inti nya terasa tidak nyaman dan mengganjal.


"As you wish, Sweetheart" kata Xavier dan mulai melajukan pusaka nya itu. Kini, di kamar itu hanya terdengar suara erangan tertahan kedua insan yang sedang memadu kasih itu. Suara percintaan mereka begitu indah menggema di telinga pasangan yang sedang di mabuk gairah itu. AC kamar menyala, namun kedua insan itu masih kepanasan dan terbakar gairah. Keringat sudah membasahi tubuh kedua nya, membuat tubuh yang sedang menyatu itu mengkilat indah.


Rambut Ghiea yang sudah berantakan dan sedikit basah karena keringat menempel indah di sisi wajah Ghiea, pemandangan yang semakin membakar gairah Xavier. Erangan sang istri bak melodi penyemangat bagi Xavier, sehingga tak peduli berapa kali Ghiea sudah mencapai puncak nya, Xavier terus memacu diri nya. Membuat Ghiea merasa akan gila dengan kenikmatan yang di berikan suami nya ini.


Hingga gerakan Xavier kian cepat dan cepat, ranjang ikut berderit menyaingi erangan kedua nya, seprei sudah tak berbentuk dan bantal sudah terlempar kemana mana.


Ghiea tahu suami nya akan menjemput puncak kenikmatan begitu juga diri nya, hingga satu gerakan terkahir dan Xavier membenamkan pusaka nya begitu dalam. Kedua nya melenguh nikmat tatkala ****** ***** sang suami memenuhi mulut kenikmatan sang istri.


Dan bersamaan dengan itu, terdengar suara klakson mobil dari bawah.


"Sial, Clara dan Granny sudah pulang" ujar Xavier panik yang membuat Ghiea juga panik, Ghiea hendak mendorong Xavier dari atas tubuh nya namun Xavier masih bertahan.


"Tunggu, belum keluar semua nya"