My Possessive Boss Is My Husband

My Possessive Boss Is My Husband
Episode 146



"Oh, Max... Jangan di tekan..."


Erangan Diana itu membuat jiwa nakal Max justru ingin melakukan sebaliknya, dan hal yang sudah umum apa saja yang di peringatkan 'Jangan' justru akan membuat orang penasaran dan ingin melakukan nya.


Begitu juga yang di lakukan oleh Max, ia justru semakin penasaran dan menekan tangan nya di sana. Kemudian dengan polos nya ia bertanya


"Apakah juga berdenyut?" tanya Max yang membuat fikiran Diana blank seketika, bukan hanya berdenyut melainkan ia seperti ingin di jelajahi oleh Max. Max memperhatikan setiap inci wajah sang kekasih yang saat ini sudah membuka mata, tatapan nya begitu sayu, nafas nya terdengar memburu dengan dada yang naik turun hingga tiba tiba ada seseorang yang masuk ke ruang ganti


"Ops, maaf..." ucap orang itu yang segera keluar, ia masuk karena berfikir ruang ganti kosong.


Sementara Max kini melangkah mundur dan ia juga terlihat terkejut karena kedatangan orang itu.


"Baby, aku rasa ehem ehem..." suara Diana terdengar serak dan ia pun berdeham, apa lagi kini jantung nya yang berdetak lebih cepat seolah ingin melompat dari tempat nya.


"Kita pulang yaaa..." ucap Diana, Max langsung mengerucutkan bibir nya dengan pandangan yang semakin sayu.


"Tapi aku masih ingin di sini, Baby" rengek nya "Aku suka melihat wajah mu seperti tadi, membuat perasaan ku seperti tergelitik" akunya yang membuat Diana terkekeh.


"Iya, nanti lagi. Apa lagi kalau sudah menikah, kamu akan sering melihat ku begitu" ucap Diana yang terdengar sebagai janji manis di telinga Max.


"Bener ya?" tanya nya ingin memastikan.


"Iya, Baby. Sebaiknya kita pulang sekarang ya"


"Okey,


..........


"Jadi kamu tidak mau menikahi Melissa?" tanya Om George pada putra nya itu, ia melemparkan tatapan tajam nya pada Alan yang justru sibuk bermain game.


"Bukan nya engga mau, Dad. Cuma kan belum jodoh" jawab Alan santai.


"Mana mungkin Daddy melakukan itu, kan aku satu-satu nya ahli waris mu" jawab Alan sambil tersenyum puas.


"Kan bisa Daddy sumbangkan harta Daddy ke panti asuhan atau kemana begitu" ujar nya yang tentu saja membuat Alan langsung melotot terkejut.


"Yah, jangan begitu lah, Dad. Kita hidup kan butuh harta"


"Ah, masak? Bukan kah kamu cuma butuh wanita yang bisa menghangatkan ranjang mu?"


"Ya mereka mau mana mau pergi ke ranjang ku kalau aku tidak punya harta, Dad"


"Nah, itu sadar...." tukas Ayah nya kemudian ia beranjak meninggalkan Alan yang kini terdiam mematung. Dan memang benar, tak akan ada wanita yang mau mendekati nya jika ia tidak punya harta.


"Sistem kehidupan itu ternyata begini ya, orang tidak mau jika tak ada keuntungan..." gumam Alan dan kemudian ia teringat dengan Melissa. Ia tidak mendapatkan keuntungan apapun dari Melissa begitu juga sebaliknya nya.


"Tapi kenapa aku justru merasa nyaman dekat sama dia ya? Bahkan dia engga pernah mau mencium ku, apa lagi pergi ke ranjang ku..."


..........


Sementara di sisi lain, Ghiea dan Xavier kini pergi ke apartement mereka dan selama berada dalam lift. Xavier terus menggenggam tangan Ghiea, ia teringat dengan kejadian terakhir kali di lift itu. Mereka pulang untuk mengemasi barang barang mereka yang akan di bawa untuk bulan madu.


"Aku tidak akan apa apa... " kata Ghiea menenangkan suami nya itu.


"Kita pindah rumah saja ya, apartemen ini jadikan property saja, bukan tempat tinggal. Bahaya, Sweetheart" kata Xavier yang membuat Ghiea terkekeh.


"Iya, terserah kamu saja, Honey"


"Kita pindah ke rumah ku, itu juga sudah menjadi atas nama ku. Nanti aku ganti menjadi atas nama mu"