
9 hari yang lalu...
Xavier begitu panik karena tidak melihat Jamie, Dino dan Ghiea muncul ke permukaan. Ia menggigit jari nya seperti waria yang sedang menggoda pria tampan, namun beda nya raut wajah Xavier begitu tegang.
"Aduh, apa aku harus lompat ya?" monolog nya.
"Dino..." Xavier berteriak, namun tak ada tanggapan.
"Jamie...." ia kembali berteriak, namun tak ada tanggapan.
"Ghiea...." sekali lagi ia berteriak, namun hasil nya masih sama.
Xavier menarik nafas dalam dalam, ia melepaskan jas nya dan bersiap melompat. Namun ia urungkan niat nya itu, seluruh tubuh nya begitu lemas dan gemetar membayangkan betapa dingin nya air sungai itu dan pasti sangat dalam. Namun ia teringat dengan Ghiea nya, akhir nya...
"BYUUURRRRRR"
Xavier melompat dengan berani, demi cinta sejati nya walaupun sebenar nya dia tidak bisa berengan.
Sementara itu, Ghiea sudah berenang ke tepi, Dino dan Jamie mencari Ghiea dan menemukan Ghiea sudah duduk manis di tepi sungai sembari memeras rambut panjang nya dan bersamaan dengan itu, terdengar seperti ada yang jatuh ke sungai.
"Itu Pasti Pak Xavier" ujar Jamie yang membuat Ghiea langsung melompat kembali ke dalam sungai tanpa fikir panjang. Dino dan Jamie pun mengikuti Ghiea.
Mereka menemukan Xavier yang sudah hampir kelelep air dan itu justru membuat Ghiea terkekeh.
"Dasar, electric. Gaya aja selangit, berenang seperti kodok saja tidak bisa" Ghiea menarik tangan Xavier dengan di bantu Jamie dan Dino, mereka menepis ke tepi sungai. Dan Xavier tidak sadarkan diri.
"Tekan dada nya..." seru Ghiea dan Jamie pun menekan dada Xavier berulang kali hingga Xavier kembali sadar dan memuntahkan air sungai yang di telan nya sangat banyak. Xavier terbatuk batuk, semenetar ketiga manusia di depan nya langsung bernafas lega.
Xavier menoleh setelah mendapatkan kesadaran nya secara penuh dan ia langsung memeluk Ghiea dengan erat.
"Oh Tuhan..." gumam nya penuh rasa syukur karena Ghiea baik baik saja.
"Kau baik baik saja, sweetheart. Kau selamatkan" ia berkata penuh haru.
"Justru kamu yang hampir mati" kata Ghiea sambil terkekeh, ia membalas pelukan Xavier dan seketika Ghiea merasakan euforia dalam hati nya.
"Aku sudah tahu semua nya" kata Ghiea lirih sembari melerai pelukan mereka.
"Tapi aku masih tidak mengerti apapun, kenapa rumah ku terbakar? kenapa aku hilang ingatan? kenapa kamu tidak bersama ku selama lima tahun ini? kenapa kamu tidak menemani ku dan membantu ku mengingat masa lalu kita? Kenapa kamu pura pura tidak kenal sama aku padahal aku bekerja di perusahaan mu selama dua tahun?" Xavier yang di cecar dengan berbagai pertanyaan seperti itu oleh Ghiea hanya bisa membuka mulut nya. Ia sudah ingin menjawab, dan jawaban dari semua pertanyaan Ghiea itu sudah ada di dalam kepala nya namun entah kenapa lidah Xavier menjadi kelu dan suara nya tertahan di tenggorokan nya.
"Kenapa, Xavier? Aku bingung..." kata Ghiea lirih sembari memegang kepala nya yang kembali terasa pusing dan sakit, apa lagi saat ia mencoba memutar ingatan masa lalu nya.
"Kita pulang dulu, sweetheart. Aku janji akan menjelaskan semua nya sama kamu nanti, dari awal sampai akhir" ujar Xavier akhir nya, apa lagi ia melihat Ghiea yang sudah kedinginan.
"Tapi sebelum..." Ghiea memegang perut nya "Aku lapar" perut nya keroncongan, ia merengek pad Xavier Dan itu membuat Xavier terkekeh "Mereka menculik ku dan tidak memberi ku makan, aku benar benar sudah sangat lapar" lanjut nya.
"Baiklah, kita pulang dulu..." ajak Xavier "Kalian berdua juga ikut dengan ku, kita harus memikirkan rencana selanjut nya"
...
Xavier membawa Ghiea, Dino dan Jamie ke rumah Nyonya Leona. Dan Nyonya Leona bernafas lega saat melihat Ghiea baik baik saja, ia langsung memeluk Ghiea dan mencium seluruh wajah Ghiea, membuat Ghiea cekikikan.
"Aku sudah siapkan makanan yang banyak dan sehat untuk menantu cantik ku ini" kata Nyonya Leona, ia sudah tahu apa yang terjadi karena Xavier sudah menghubungi nya tadi dan memberi tahu apa yang terjadi.
"Aku juga sudah memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan kalian" lanjut nya "Dan kamu ikut Mom Ghiea, kamu harus mandi air hangat dan berganti pakaian sebelum makan"
"Kalian bertiga juga..." seru nya karena Jamie, Dino dan Xavier juga basah kuyup.
Ghiea di bawa ke kamar di lantai dua, ia segera mandi air hangat, setelah mandi, ia mengenakan baju yang sudah di siapkan Ibu mertua nya. Xavier juga mandi bergantian dengan Ghiea.
Bersamaan dengan itu, seorang Dokter datang atas panggilan Nyonya Leona.
"Dok, periksa menantu saya baik baik ya. Dia di lempar ke dalam sungai oleh orang jahat" kata Nyonya Leona pada dokter nya itu.
"Baik, Nyonya. Jangan khawatir" kata sang Dokter, Ghiea merebahkan diri nya di ranjang dan Dokter memeriksa nya.
"Apa ada keluhan, Bu?" tanya Dokter itu "Cuma kepala saya sering pusing dan mual, Dok" kata Ghiea.
"Apakah selera makan Ibu normal?" tanya dokter itu lagi.
"Masih normal, Dok. Cuma terkadang saya mudah lelah dan mengantuk" jawab Ghiea.
"Kemungkinan Ibu cuma masuk angin, tapi jika memang ibu mudah mengantuk dan mudah lelah, itu ciri ciri orang hamil, Bu?"
"Hamil?" pekik Ghiea Nyonya Leona bersamaan.
"Dari pemeriksaan saya, seperti nya Ibu Ghiea memang sedang mengandung. Namun untuk mengetahui kepastian nya, atau keadaan janin nya atau pun usia berapa janin nya, sebaik nya Ibu periksakan diri ke Dokter kandungan"
Ghiea masih melongo tidak percaya dengan berita yang di dengar nya itu, tatapan nya lurus ke depan dan bibir nya sedikit terbuka. Namun beda hal nya dengan Nyonya Leona yang tampak sangat bahagia dan kegirangan. Ia bahkan kembali mencium seluruh wajah Ghiea tanpa ada yang terlewat.
"Oh Tuhan, akhir nya..." ujar Nyonya Leona "Aku akan segera menjadi Nenek, Xavier pasti senang" seru nya.
"Benarkah?" lirih Ghiea tiba tiba, ia memegang perut nya yang masih rata itu, Ghiea memang tahu kisah cinta nya dan Xavier namun Ghiea tidak benar benar ingat akan sosok Xavier di mas lalu. Rasa nya Ghiea tidak siap jika hamil sekarang, sementara memori tentang ayah dari janin nya hanya berupa potongan seperti puzzle.
"Emm, Tante..." lirih Ghiea dan ia menarik tangan Nyonya Leona.
"Kenapa, Sayang? kamu mau makan? kamu ngidam? ngidam apa? pengen apa? bilang saja sama aku ya" Ghiea meringis melihat binar kebahagiaan di wajah wanita yang masih tampak asing bagi nya ini, namun hati kecil Ghiea tidak bisa di bohongi, ia juga merasa sedikit senang.
"Emmm itu, bisakah Tante..."
"kok Tante? Mom, panggil aku Mom, Sayang"
"Eh iya, Mom. Bisakah kau merahasiakan ini dari Xavier?"
"Kenapa?" Ibu mertua nya bertanya dengan raut wajah bingung.
"Em aku ingin menjadikan berita ini kejutan untuk nya"
"Hem baik lah" kata Nyonya Leona pasrah.