
Saat pagi hari, Nyonya Leona melakukan aktifitas nya seperti hari hari sebelum nya. Namun pagi ini ia memasak lebih banyak di karenakan ada putra sulung nya dan juga menantu nya di rumah nya.
Kedua tangan Nyonya Leona sibuk mengolah makanan namun fikiran nya melayang pada putra bungsu nya, Nyonya Leona merasa ada yang tak beres dengan putra nya itu namun tak mungkin juga ia mengintrogasi nya. Max sudah dewasa meskipun terkadang ia memang masih sangat memanjakan nya seolah sang putra masih anak anak.
"Good morning, Mom..." suara Ghiea yang menyapa nya sedikit mengejutkan Nyonya Leona yang sejak tadi melamun , namun ia segera menyunggingkan senyum pada menantu nya itu.
"Morning, Dear. Bagaiamana tidur mu? Nyenyak?" tanya Nyonya Leona masih menyunggingkan senyum.
"Yeah, Xavier memeluk ku sepanjang malam. Tentu saja aku tidur nyenyak" kata Ghiea dan ia membuka kulkas guna mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut nya yang sudah lapar setelah muntah lagi tadi. Ghiea menemukan jeruk dan ia pun mengambil nya, setelah mencuci buah segar itu Ghiea pun langsung mengupas nya dan menikmati nya sembari memperhatikan Ibu mertua nya yang tampak memikirkan sesuatu.
"Apa ada masalah, Mom?" tanya Ghiea penasaran.
"Tidak" jawab Nyonya Leona namun raut wajah nya mengatakan hal yang lain.
"Raut wajah mu mengatakan sebalik nya, Mom" kata Ghiea "Aku tidak tahu Bagaiamana rasa nya punya Ibu, emm apakah seorang Ibu bisa membagi masalah dengan putri nya?" tanya Ghiea yang membuat Nyonya Leona langsung menoleh dan menatap Ghiea dan sendu.
"Dear, aku adalah Ibu mu juga dan yeah sebenarnya aku punya sedikit tekanan" kata Nyonya Leona lirih sembari melirik pintu dapur.
"Tekanan apa? Katakan saja pada ku, Mom. Siapa tahu aku bisa membantu" kata Ghiea penuh harap.
"Emmm begini..." Nyonya Leona sekali lagi melirik pintu dapur seolah ia takut ada yang masuk.
"Sejak tadi kau terus melirik ke pintu, ada apa?" tanya Ghiea penasaran.
"Max dan Xavier dimana?" tanya Nyonya Leona setengah berbisik.
"Xavier sedang tidur dan Max belum keluar kamar seperti nya" jawab Ghiea dengan raut wajah yang semakin bingung dan penasaran.
"Emmm begini, Dear. Tapi jangan beri tahu Xavier ya" Nyonya Leona kembali berbisik dan Ghiea hanya bisa mengangguk "Max, semalam dia bertingkah aneh sekali. Saat aku masuk ke kamar nya, dia sedang sibuk dengan ponsel nya sambil senyum senyum"
"Hem terus?"
"Mommy takut, dia... Dia membaca cerita dewasa"
"Huh?" Ghiea tentu langsung melongo mendengar keluhan sang ibu mertua yang sedikit konyol namun bisa di maklumi. Ibu mana yang tidak takut jika fikiran anak anak nya tercerami hal hal yang berbau hal dewasa seperti itu? "Tapi kenapa Mommy berfikir seperti itu?" tanya Ghiea ingin memastikan.
"Karena pas Mommy tanya dia sedang apa, dia jawab nonton kartun. Orang nonton kartun itu pasti tertawa, bukan senyum senyum seperti orang gila" keluh sang Ibu mertua lagi.
"Mungkin Max memang membaca, Mom. Dan mungkin juga cuma cerita biasa yang memang lucu atau romantis" kata Ghiea berharap Ibu mertua nya tidak memikirkan hal yang negatif lagi.
"Semoga saja, Mommy sampai tidak bisa tidur memikirkan Max" Ghiea tidak tahu harus menertawai sang Ibu mertua atau merasa kasihan, namun Ghiea merasa senang dengan kasih sayang yang di berikan Nyonya Leona pada Max, bagi nya yang tak ingat merasakan rasa punya seorang ibu, itu begitu mengharukan.
"Morning, Mom. Sweetheart" sapa Xavier yang masuk ke dapur sambil menguap, rambut nya acak acakan dan itu justru terlihat tampan dan seksi di mata sang istri.
"Morning, Honey" sapa Ghiea kemudian Xavier memberikan kecupan singkat di pipi sang istri. Nyonya Leona menatap Ghiea dan mengedipkan mata nya, memberi isyarat agar Ghiea tak memberi tahu Xavier apa yang tadi mereka bicarakan.
"Ada apa? Raut wajah kalian sangat serius, apa ada masalah?" tanya Xavier sembari menatap Ibu dan istri nya bergantian.
"Pembicaraan wanita, Honey" kata Ghiea sambil mengedipkan sebelah mata nya pada Xavier membuat Xavier terkekeh dan ia pun langsung mengecup bibir sang istri tanpa sedikit pun merasa malu pada Nyonya Leona.
"Hem, rasa jeruk" kata Xavier yang menjilat bibir Ghiea.
"Astaga, kalian ini..." gerutu Nyonya Leona dan ia pun memalingkan wajah nya dari sepasang suami istri itu.
Sementara Ghiea hanya bisa tersipu meskipun tak ia pungkiri, ia juga selalu suka dengan Xavier yang selalu bersikap mesra pada nya tanpa melihat tempat dan situasi.
"Aku mau mandi dulu, kau mau ikut?" tanya Xavier
"Tidak, aku mau membantu Mom memasak" jawab Ghiea yang tentu saja langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang suami.
"Ingat kata Dokter Merry, kamu tidak boleh lelah" Ghiea meringis mendengar apa yang di katakan Xavier, yang selalu membawa bawa Dokter dan melarang nya ini itu.
"Tapi, Honey..."
"Ghiea..." sambung Nyonya Leona "Tidak perlu melakukan apapun di rumah ini, Dear. Kamu bilang tidak tahu rasa nya punya Ibu kan? Nah, Ibu itu tidak akan membiarkan putri nya yang sedang mengandung bekerja. Jadi kembali lah ke kamar mu dan mandi lah" tukas Nyonya Leona yang tentu saja membuat Ghiea terharu.
...
Sementara di kamar nya, Max mengambil handuk dengan tangan kiri nya semtara tangan kanan nya memegang ponsel nya. Ia sudah bangun sejak tadi dan hal pertama yang ia lakukan saat bangun tidur adalah menyapa sang pacar lewat chat, menanyakan nya apakah sudah bangun atau belum. Tadi malam mimpi apa dan sebagai nya.
Sambil saling membalas pesan sang pacar, Max masuk ke kamar mandi.
Me
"Baby, aku mandi dulu ya. Sudah siang.."
^^^My Baby^^^
^^^"Iya, Baby. Aku juga mau mandi, tapi sekarang lagi masak"^^^
Me
"Aku jadi ingin mandi sama kamu.."
^^^My Baby^^^
^^^"Ih, malu..."^^^
Me
"Kenapa malu?"
^^^My Baby^^^
^^^"Kan mandi tidak pakai baju"^^^
Me
"Iya juga ya, aku juga malu kalau tidak punya baju"
Me
"Tapi kan nanti setelah menikah, kita akan melakukan pertama dan tidak pakai baju"
.........
Sementara di sisi lain, Diana sedang menggoreng telur dan tentu masih dengan ponsel di tangan nya. Bahkan hal itu membuat sang Mama sampai merasa heran, apa lagi saat Diana di ajak berbicara, Diana hanya menjawab nya dengan gumaman.
"Di, nanti telur nya gosong' kata sang Mama memperingatkan.
Hmmm" Jawab Diana sambil tersenyum dan wajah nya tersipu membaca pesan Max yang sudah mulai membicarakan malam pertama padahal belum 24 jam mereka resmi pacaran.
Me
"Jangan memikirkan malam pertama, malu"
^^^My Baby^^^
^^^"Baby kenapa malu terus? Aku kan sayang Baby Diana, jangan malu ya"^^^
Lagi lagi Diana tak bisa menyembunyikan senyum di bibir nya setelah membaca pesan sang pacar, Diana langsung terbayang wajah Max yang sudah pasti sangat menggemaskan saat mengatakan Baby Diana. Dan membayangkan nya saja sudah membuat darah Diana berdesir
"Diana, telur nya...." teriak Nyonya Dessy yang membuat Diana terlonjak kaget.
"Gosong, Mama" pekik Diana dan ia langsung mematikan kompor nya.
"Siapa suruh kamu tuh main hp terus..." seru sang Mama marah yang membuat Diana meringis
"Lagian kamu itu senyum senyum sendiri sama hp, sudah seperti orang gila kamu ini"