
"Ya sudah, coba sekali lagi. Kalau gagal lagi, mending kita tidur habis ini" gertak Melissa yang tentu saja membuat Alan langsung panik dan seketika ia langsung menyentak tubuhnya membuat Melissa berteriak sakit dan menarik rambut Alan.
"Sakit, Alan..." teriak Melissa tepat di telinga suaminya itu.
"Ya maaf" jawab Alan sambil meringis karena baru kali ini ia merasakan rambut nya di tarik.
Kedua nya terdiam, berusaha menyesuaikan keberadaan masing-masing. Namun beberapa menit kemudian Alan mulai bergerak gelisah di tempat nya, membuat Melissa yang berada dibawah nya pun ikut bergerak tidak nyaman.
"Sugar, maaf ya kalau ini sakit. Padahal aku merasa ini enak lho" kata Alan dengan santai nya yang membuat Melissa mendelik.
"Ya iyalah enak, kamu yang masuk aku yang di masukin" gerutu Melissa.
"Hehe, maaf ya. Karena kamu bukan wanita pertama ku sedangkan aku adalah pria pertama mu, tapi aku janji, kamu akan jadi wanita terakhir ku" lirih Alan sembari mulai menggerakkan tubuhnya. Melissa tersenyum dan mengangguk percaya, ia melingkarkan kedua kaki nya di pinggul sang suami dan kedua nya mulai bergerak seirama.
Gerakan yang awalnya lembut bagaikan tarian dansa kini perlahan mulai cepat dan seolah tak terkendali seperti tarian disko. Suara yang awal nya hanya sebatas rintihan lirih kini perlahan menjelma menjadi erangan liar yang terus terdengar dari bibir kedua insan itu. Tubuh yang awal nya hanya terasa hangat kini berubah panas bahkan kedua nya telah bermandikan keringat, membuat tubuh kedua nya mengkilap, lengket dan basah tak perduli dengan AC yang selalu menyala sejak tadi.
Permainan yang sangat di tunggu oleh Alan itu kini telah berlangsung hampir satu jam, sudah beberapa kali sang istri mempersembahkan puncak dari hasrat nya, sudah lemas, merasa tak lagi bertenaga namun Alan masih tetap tampak kuat, segar dan tentu sangat bertenaga untuk mengejar pelepasan nya sendiri. Hingga setelah beberapa kali sentakan kuat, dalam dan cepat yang membuat kedua nya menggeram akhir nya Alan mendapatkan pelepasan nya. Ia tampak begitu tegang namun raut wajah nya sungguh menggoda dan Melissa menyukai itu. Melissa memperhatikan setiap inci wajah suami nya saat sang suami mencapai puncak, Melissa tertegun.
"Ketampanan nya berkali kali lipat saat di mencapai puncak, pantas saja semua wanita nya ingin kembali pada dia. Tapi sekarang tidak lagi, aku tidak akan membiarkan wanita manapun mendekati suami ku"
Setelah menuntaskan apa yang ia tahan selama ini, Alan ambruk di atas tubuh sang istri. Ia menenggelamkan wajah nya di ceruk leher Melissa, menghembuskan nafas nya yang memburu disana di leher basah sang istri. Melissa meremang dan bergerak gelisah, di atas ia merasakan hembusan nafas hantar Alan, sementara di bawah ia merasakan sang suami masih berkedut didalam diri nya.
Namun Melissa membiarkan nya saja, ia tersenyum kemudian membelai rambut hitam Alan dengan lembut. Melissa juga mengecup pucuk kepala suami nya itu beberapa kali.
"Jangan merintih begitu, Sugar. Itu seperti suara panggilan untuk ku" lirih Alan yang kini mensejajarkan wajah nya dengan wajah Melissa, bibirnya tepat berada di bibir Melissa.
"Wajah mu juga seperti suara panggilan untuk ku, Hubby" jawab Melissa malu malu.
"Wajah ku?" tanya Alan bingung.
"Iya, wajah mu saat kamu berada di puncak. Sangat seksi, panas, aku bahkan... Akh" Melissa memekik saat Alan kembali bergerak di bawah sana. Alan terkekeh melihat wajah terkejut sang istri.
"Masih hidup, pantas saja masih terasa penuh meskipun sudah keluar isinya" lirih Melissa membuat Alan tergelak, ia mengecup gemas ujung hidung Melissa.
"Sepertinya akan hidup semalaman, Sugar. Aku ketagihan dengan rasa nya, sangat manis" Alan berkata sembari mempercepat gerakan nya, membuat tubuh Melissa bergerak teratur, seperti menari dan itu sangat menggoda.
"Baiklah, Hubby. Dengan senang hati"
.........
...***BonChap MelAn sudah selesai, tinggal Ghiea dan Xavier neh....
...Masih setia menunggu kan***? "...