
Di Penjara, sudah waktu nya untuk sarapan dan seperti hari sebelum nya, Granny Kelly, Fani dan Clara meringis menatap makanan di depan nya yang hanya nasi putih, orek orek tempe dan setengah telur rebus.
"Mana cukup protein segini buat kita..." keluh Clara
"Hey Nona mantan orang kaya, makan saja apa ada nya, syukuri, masih untung di kasih makan, noh di bawah jembatan sana banyak yang kelaparan kadang sampai dua hari tidak makan. Paham kau?"
Clara mengusap wajah nya dengan jijik, karena ketika bos sel tahanan ini berbicara, ludah nya muncrat sampai ke wajah Clara yang memang ada di depan nya. Wanita itu memang selalu menyuruh Clara duduk di depan nya karena Clara yang cantik dan kata nya menggemaskan, apa lagi kuku nya yang panjang, enak sekali di buat garukan kalau punggung atau paha nya terasa gatal.
"Kenapa di usap wajah nya Nona mantan orang kaya? Berminyak ya? Tidak bawa skincare ke sini?" tanya nya mengejek yang membuat Clara mendelik.
Sementara Granny Kelly dan Fani duduk di pojok sambil menikmati sarapan mereka yang seada nya, beda hal nya dengan Clara yang benar benar merasa tak ingin makan makanan itu. Apa lagi biasa nya ia sarapan buah, atau roti dengan berbagai selai yang enak dan yang pasti sehat.
Clara menoleh dan ia melihat Mama serta nenek nya yang sedang makan dengan lahap, membuat Clara mau tak mau harus ikut makan atau ia akan mati kelaparan.
Clara kembali menoleh dan sata itu juga tiba tiba wanita si bos tahanan itu langsung menyodorkan tangan nya yang penuh dengan nasi ke mulut Clara, membuat Clara bergidik ngeri dan mengusap mulut nya.
"Kenapa Nona mantan orang kaya? Kau tidak mau di suapi?" tanya wanita itu dan memakan nasi yang tadi di tangan nya, ia juga menjilat jari jari nya membuat Clara kembali merasa jijik.
"Aku mau makan sama Mama dan Granny..." cicit Clara dan ia sudah hendak berdiri, namun wanita itu menahan tangan Clara dan menarik nya hingga Clara kembali duduk di depan nya.
"Makan saja di sini, sini biar aku suapi..." wanita itu menyodorkan nasi ke mulut Clara namun tentu Clara langsung menolak nya.
"Tidak, aku bisa makan sendiri" kata nya dan Clara langsung memenuhi mulut nya dengan nasi.
"Oh Tuhan, sampai kapan aku akan di sini? Kulit ku sudah kering, wajah ku sudah kusam dan Berminyak, rambut ku sudah lepek" Clara hanya bisa menjerit frustai dalam hati nya sambil terus memakan makanan yang di depan nya, hingga ia teringat kembali dengan Jamie.
"Aku harus menghubungi nya, hanya dia yang bisa membantu ku"
Max turun dari atap setelah beberapa saat merenung, ia kembali ke ruang kerja nya dan melanjutkan pekerjaan nya. Selena datang dan membawa kopi susu untuk Max.
"Anda dari mana saja, Sir? Tadi Sir Xavier mencari anda" kata Selena sembari meletakkan segelap kopi susu di meja Max.
"Aku dari atap, Selena. Apa ada masalah penting?" tanya Max sembari membenarkan kaca mata segi empat nya yang setia bertengger di hidung nya.
"Sepertinya begitu, Sir. Tadi teman Bu Ghiea yang bernama Diana tampak menangis, seperti nya dia punya masalah" adu Selena yang membuat Max langsung melotot terkejut.
"Menangis? Apa dia baik baik saja?" tanya nya cemas, mendengar Diana menangis membuat hati nya terasa sesak.
"Siapa yang menangis, Max?" Max langsung mendongak saat tiba tiba mendengar suara Mommy nya.
"Mom, kenapa ke sini?" tanya Max dan langsung berdiri dari kursi kebesaran nya untuk menyambut Mommy nya itu.
"Tentu saja untuk melihat kedua putra Mommy bekerja sama memimpin perusahaan ini" kata Nyonya Leona berkata sembari mencium pipi kiri kanan Max.
"Hem, kami bekerja dengan baik, Mom" kata Max kemudian membawa Mommy nya duduk di sofa.
"Oh ya, Mom. Dia Selena..." Max memperkenalkan Selena pada Mommy nya yang membuat Mommy nya terkekeh.
"Aku tahu, Max. Aku yang merekomendasikan dia pada Xavier untuk menjadi sekretaris mu, dia pintar dan cantik" kata Nyonya Leona.
"Ah, terima kasih, Nyonya. Anda berlebihan" kata Selena malu malu "Saya akan membuatkan minuman untuk anda"
"Terima kasih, Selena"