My Possessive Boss Is My Husband

My Possessive Boss Is My Husband
Episode 74



"Sial, Clara dan Granny sudah pulang" ujar Xavier panik yang membuat Ghiea juga panik, Ghiea hendak mendorong Xavier dari atas tubuh nya namun Xavier masih bertahan.


"Tunggu, belum keluar semua nya" ujar Xavier yang membuat Ghiea meringis, Xavier mengejan dan tubuh nya bergetar, Ghiea masih merasakan semburan panas di sana.


"Banyak sekali, rasa nya panas..." kata Ghiea saat menikmati rasa hangat itu.


"Kau suka?" tanya Xavier dan ia mengecup kening Ghiea sebelum mencabut pusaka nya.


"He'em" Ghiea hanya bisa menggumam.


Xavier segera bangkit dari tubuh Ghiea, kemudian mereka bekerja sama membersihkan ranjang dan menyusun bantal dengan rapi masih dalam keadaan tanpa busana. Setelah itu, Xavier menarik dua kaos dan boxer dari lemari nya. Ia memberikan satu kaos nya untuk Ghiea. Sementara Ghiea saat ini masih mencari satu barang nya yang hilang.


"Cepat sembunyi, Sweetheart..." seru Xavier.


"Barang ku masih belum ketemu" kata Ghiea sembari memasang kaos nya.


Xavier dan Ghiea mangedarkan pandangan nya, mencari kain segitiga yang sudah robek itu. Xavier menemukan nya di dekat sofa, ia segera mengambil nya dan memasukkan nya ke dalam saku.


"Xavier, berikan itu pada ku" kata Ghiea.


"Ssshhtt, cepat masuk ke dalam lemari" Xavier tak mengindahkan ucapan Ghiea, ia mendorong Ghiea ke dalam lemari pakaian nya yang sangat besar, cukup untuk Ghiea santai santai di sana.


Xavier pun duduk di tengah ranjang, ia pura pura merenung sedih, tatapan nya lurus ke lemari karena ia takut ketahuan bahwa Ghiea bersembunyi di sana.


Sementara Clara kini sudah masuk ke kamar nya, Clara memanggil Xavier dan duduk di pangkuan nya, tentu saja Xavier marah. Ghiea yang mengintip dari balik lemari juga kesal.


Perdebatan antara Xavier dan Clara pun terjadi, sehingga pada akhirnya Xavier mendorong Clara keluar kamar.


Setelah itu, Xavier langsung mengunci kamar nya dan Ghiea keluar dari lemari.


Sementara di luar terdengar teriakan Clara yang menggedor gedor pintu seperti orang gila.


"Ish, berisik sekali wanita ular itu..." gerutu Ghiea.


"Tahu" jawab Xavier memberengut, ia duduk di tepi ranjang dan Ghiea pun duduk pangkuan nya.


"Honey, aku ingin di sini. Biar selalu sama sama kamu terus" kata Ghiea manja.


"Hem kalau begitu kita harus mengusir Clara dari sini..." kata Xavier sembari membelai rambut Ghiea.


Ah, mereka merasa merasa seperti orang jahat yang menzolimi istri sah.


"Tapi kan dia istri mu..." kata Ghiea lagi.


"Mantan istri, lagi pula dia istri hanya di atas kertas" tegas Xavier.


"Hem kalau begitu, ayo singkirkan barang barang wanita ular itu, biar dia tidak masuk lagi ke sini..." seru Ghiea antusias.


"Ayok..." Xavier berkata lebih antusias, kedua nya seperti anak anak yang janjian mau main bersama.


Ghiea segera ke kamar mandi untuk mengambil barang barang Clara, sementara Xavier mengambil koper yang paling besar supaya semua barang barang Clara bisa mereka masukan.


Kemudian Ghiea dan Xavier dengan cepat memasukan barang barang Clara ke dalam koper, terutama make up make up nya. Sekarang meja rias Clara sudah bersih.


Setelah itu, Xavier membuka pintu dan langsung melempar koper itu keluar.


"Kita benar benar kejam" kata Ghiea kemudian "Semoga saja tidak kena azab"


"Azab hanya datang pada orang jahat" kata Xavier dan ia menarik Ghiea kembali ke atas ranjang nya. Kedua nya kembali bergemul di atas ranjang dan Xavier kembali merobek kaos yang di pakai Ghiea, dimana di balik kaos itu Ghiea tidak memakai apapun apa lagi.


"Tapi masih pengen..." rengek Xavier sembari menelusuri perut rata Ghiea dengan bibir nya.


"Besok lagi, sekarang aku masih lelah" kata Ghiea.


"Baiklah" kata Xavier kemudian ia menjatuhkan diri nya di samping Ghiea, ia menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua.


"Aku rasa aku butuh kaos lagi" kata Ghiea.


"Selama di kamar ini, kamu tidak perlu pakaian lagi" kata Xavier.


"Hem, tapi bagaimana dengan skincare ku?"


"Itu gampang..."


Ghiea menguap, ia memang lelah setelah pergumulan panas tadi. Itu benar benar menguras tenaga nya.


"Tidurlah..." kata Xavier sembari membelai rambut Ghiea, Ghiea mendesakan tubuh nya ke tubuh Xavier dan perlahan ia memejamkan mata nya.


Kedua nya tinggal di kamar itu selama beberapa hari, Xavier memang tidak pergi bekerja supaya ia terus bersama Ghiea. Xavier bekerja dari rumah. Sementara untuk acara pesta, memang Granny Kelly dan Clara yang mengurus nya. Namun tanpa mereka sadari, ada rencana lain yang Xavier siapkan di sana.


Xavier menyiapkan nya bersama Mommy nya, di bantu Max yang selalu di wanti wanti agar rencana ini tidak bocor, di bantu Alan, Melissa dan Diana tentu nya.


Xavier juga bekerja sama dengan pelayan rumah nya, supaya mengantarkan makanan dua porsi ke kamar nya.


Itu lah alasan Xavier tidak keluar, tidak perduli bahwa Clara dan Nenek nya berfikir Xavier hanya butuh waktu sendiri.


.....


Di Pesta..


Ghiea, Xavier, Alan dan Melissa menikmati pestanya. Mereka duduk di satu meja, kemudian Nyonya Leona dan Max datang bergabung.


Sementara Diana, ia keluar dari toilet setelah merapikan penampilan nya. Diana menghampiri Melissa dan mengajak nya pulang.


"Loh, kenapa mau pulang, Di? Pesta nya belum selesai" ujar Diana.


"Aku tidak enak badan, Ghe" ujar Diana bohong. Sementara Max menundukkan kepala nya dan pura pura sibuk dengan es krim nya, tentu hal itu membuat Diana begitu kesal dan merasa sangat di lecehkan. Setelah Max memercikan gairah nya di toilet tadi, sekarang Max berlaga sok polos dan tanpa dosa.


"Aku juga sudah mengantuk sebenarnya" kata Melissa.


"Ya udah, kami pulang dulu ya, Ghe" ujar Diana dan ia cipika cipiki dulu dengan Ghiea sebelum pergi, begitu juga dengan Melissa.


"Selamat menempuh baru juga, Bebs" kata Melissa.


"Thank you, girls. Besok ketemu lagi" kata Ghiea.


Diana dan Melissa juga pamitan pada Nyonya Leona, sementara Max tetap tak berani mengangkat wajah nya meskipun Diana melewati nya.


Dalam hati, Diana mengumpati Max dan mengeluarkan sumpah serapah nya. Sungguh Diana tak akan pernah memaafkan Max atas pelecehan yang dia lakukan tanpa pertanggungjawaban itu.


Sementara Max menghela nafas lesu setelah Diana tak lagi terlihat. Pesta masih berlanjut, namun Max merasa begitu kesepian dengan perasaan yang begitu gundah gulana.


Setelah kejadian di toilet tadi, Max begitu takut pada Diana. Max takut Diana marah, Diana membenci nya dan mungkin akan terus mengejek nya sebagai pria culun. Diana pasti tidak suka di sukai pria culun seperti Max, Diana pasti benci karena Max sudah mencium nya dan menyentuh paha nya.


Ah, memikirkan semua itu membuat Max merasa begitu frustasi.