
"Terus kenapa Alan berlutut di depan kamu?" tanya Xavier "Kamu sudah jatuh cinta sama Melissa? Sudah taubat?"
"Xavier...." geram Alan karena sahabat nya itu sudah seperti Ghiea dan kawan kawan, cerewet dan selalu mau tau.
"Dia cuma memakaikan gelang kaki ku kok" kata Melissa.
"Ciye, sudah seperti tuan puteri saja ya" goda Ghiea "Sekarang di pakaikan gelang kaki, besok di pasangkan cincin di jari manis tuh" lanjut nya yang membuat wajah Melissa merona.
"Apa sih, Ghe..." bisik Melissa.
Sementara itu, para wanita yang sejak tadi memandang Alan dengan tatapan menggoda akhir nya menyerah juga setelah tak mendapatkan respon apapun dari Alan.
Candaan mereka pun berlangsung satu sama lain sampai mereka makan malam, dari menggoda Alan dan Melissa sampai menggoda Max dan Diana. Apa lagi para pasangan itu memiliki karakter yang bertolak belakang.
"Saat malam pertama nanti, siapa yang akan berteriak lebih kencang? Melissa atau Diana?" akhir nya Candaan Ghiea sampai pada titik dimana membuat semua orang tertawa terbahak-bahak sementara yang di goda hanya merona, namun tiba tiba Alan bersuara..
"Seperti nya Max yang akan berteriakp paling kencang" ujar nya dan tentu hal itu membuat orang semakin tertawa terpingkal-pingkal, sementara Max langsung merengut dengan wajah yang memerah.
"Sudah sudah, jangan menggoda tunangan ku" kata Diana "Dia malu tahu"
"Ciye, yang di belain" goda Ghiea pada adik ipar nya itu.
...
"Aku rasa kita bisa pindah ke luar kota dan aku mau menikah dengan mu" kata Clara pada Jamie yang tentu saja membuat Jamie langsung tercengang. Saat ini kedua nya sedang makan malam bersama di rumah Jamie, dan seperti janji Jamie pada Xavier, Jamie benar benar menjaga Clara dan tidak mengizinkan nya mendekati Xavier dan Ghiea. Tentu sekarang Clara sendiri lah yang ingin menjauh dari mereka semua namun Clara masih menginginkan satu hal, yaitu kebebasan Ibu dan Nenek nya.
"Kamu serius?" tanya Jamie kemudian.
"Iya, Jam. Tapi sebelum itu aku mau minta tolong sama kamu, tolong bebaskan juga Mama dan Granny" lirih Clara memelas yang langsung membuat raut wajah Jamie berubah, karena ia tahu permintaan Clara itu sangat tidak mudah bahkan hampir mustahil.
"Tapi, Clara. Itu engga mungkin, kamu tahu betapa benci nya Xavier pada Nenek nya, dia menutup semua akses Nenek nya untuk mendapatkan bantuan, apa lagi kamu tahu sendiri, Nenek mu itu masih tidak mau berubah" tutur Jamie panjang lebar, ia tak mau berurusan lagi dengan Xavier hanya untuk menyelamatkan mereka.
"Aku mohon, Jam. Bagaimana pun juga mereka kan Mama sama Nenek aku, aku janji aku akan jaga mereka dan engga akan membiarkan mereka menyakiti siapapun lagi" bujuk Clara "Aku kan juga sudah bilang, kita pindah keluar kota, kita bisa memulai hidup baru di sana. Aku janji aku juga akan bekerja dan membantu kamu" lanjut nya. Jamie hanya memandang Clara tanpa tahu harus berkata apa, di satu sisi ia kasihan melihat Clara yang memelas seperti ini tapi di sisi lain Jamie masih tak punya keberanian lagi untuk menghadap Xavier apa lagi sampai meminta kebebasan orang orang yang sangat Xavier benci.
"Please, Jam..."
"Aku engga berani lagi jika harus berurusan dengan Pak Xavier, Clara" jawab Jamie lirih.
"Aku yang akan bicara dengan dia, kalau perlu aku akan bersujud di depan dia tapi aku mohon kamu bawa aku ke dia ya"