
Di pesta...
Dian yang sedang mencuci tangan di wastefel di kejutkan dengan kehadiran Max yang berani masuk ke toilet wanita.
"Max, kamu gila ya? Di sini tuh toilet wanita" seru Diana.
"Aku tahu..." kata Max "Aku kesini mau bicara sama kamu, Di" Max berkata dengan raut wajah yang begitu serius, tatapan nya begitu sendu menatap ke dalam iris mata cokelat Diana.
"Mau bicara apa? Penting? Memang nya tidak bisa besok saja pas di kantor" kata Diana ketus.
"Kamu itu kenapa sih selalu ketus sama aku, Di" ujar Max sedih.
"Ketus bagaimana? Kayaknya biasa saja" jawab Diana dan ia hendak melewati Max namun Max langsung menarik lengan Diana dan memojokan nya ke dinding, hal itu berhasil membuat jantung Diana dag dig dug. Apa lagi ketika Max mengurung tubuh mungil nya dengan lengan Max, wajah kedua nya begitu dekat, Diana bisa merasakan nafas hangat Max dan aroma mint dari mulut Max, hal itu berhasil mengobrak abrik perasaan Diana dan ia merasakan getaran yang berbeda dalam diri nya.
"Aku suka kamu, Di..." kata Max lirih yang tentu saja membuat kedua bola mata Diana langsung melotot sempurna. Mendapatkan ungkapan tak romantis sama sekali seperti itu berhasil membuat isi kepala nya blank, namun tak bisa Diana pungkiri Max juga berhasil membuat dada nya berdebar.
Max memperhatikan Diana lekat lekat, dan tatapan nya turun ke bibir Diana yang sedikit terbuka, tanpa fikir panjang Max langsung melahap nya, hal itu membuat kepala Diana semakin blank. Diana hanya bisa terpaku di tempat nya bahkan saat Max menjilati bibir Diana yang terasa manis itu.
Meskipun tak mendapatkan balasan, Max cukup senang setidaknya ia tidak mendapatkan penolakan.
Ciuman yang begitu lembut awal nya itu kini perlahan berubah menjadi ciuman yang menuntut dan menggebu. Bahkan tanpa sadar Diana mengerang saat Max menggigit sensual bibir bawah nya dan menyelipkan lidah nya ke dalam mulut Diana.
Diana memejamkan mata, hasrat dalam diri nya menyambut gelora yang di percikan oleh pria culun ini.
Ah, ya. Pria culun...
Diana kembali membuka mata nya setelah menyadari apa yang sedang terjadi, otak Diana meneriaki Diana agar menolak Max, meninggalkan Max. Tapi respon tubuh nya justru berbanding terbalik dengan apa yang sedang di fikirkan nya. Tangan Max yang dulu begitu polos tanpa dosa kini telah ternoda kala tangan itu bergerliya di paha Diana, meremas nya pelan dan mesra meskipun masih terhalang gaun, hal itu juga berhasil membuat Diana melenguh dalam ciuman nya. Sementara tangan Max yang lain nya ia selipkan di belakang kepala Diana, ia menarik rambut Diana pelan dan itu semakin mengobarkan hasrat dalam diri Diana.
Diana mengalungkan kedua lengan nya di leher Max, menancap kan ke sepuluh jari nya di rambut Max dan menjambak nya pelan. Guna melampiaskan gelora indah dalam jiwa nya. Merasakan jambakan di rambut nya oleh jari jari lentik Diana, ternyata memberikan percikan yang berbeda bagi Max. Ia menyukai cara Diana menarik rambut nya dan ia menyukai sensasi yang ia rasakan.
Tangan Max kini tak lagi suci tanpa noda, karena sekarang ia berhasil mengangkat gaun Diana dan menyelipkan tangan nya di balik gaun itu, sehingga telapak tangan nya yang panas bersentuhan secara langsung dengan kulit paha Diana yang begitu mulus.
Lagi lagi Max meremas nya...
"Oh, Max..." lenguh Diana yang juga berhasil mengembalikan kesadaran Max. Secara tiba tiba Max langsung menarik diri, kedua nya beradu pandang dengan tatapan yang sarat akan gairah yang tertahan. Nafas kedua nya memburu hebat dengan dada yang tampak jelas naik turun.
Penampilan kedua nya sudah begitu berantakan, rambut Max dan rambut Diana sama sama sudah tak lagi tertata. Gaun Diana sudah terangkat bagian bawah nya hingga ke paha.
Diana masih menyenderkan tubuh nya ke dinding, ia merasa lemas setelah Max merampok ciuman pertama nya. Yah, ciuman pertama Diana. Begitu berkesan, begitu panas menggelora.
Sementara Max, itu memang bukan ciuman pertama nya karena Ghiea pernah mencium nya. Tapi rasa nya sangat berbeda dengan ciuman Diana, darah Max seperti mendidih panas, jantung nya berdegup kencang, hati nya berdebar debar, lutut nya terasa begitu lemas, pandangan nya begitu gelap.
Kenapa?
Apa karena Max meninggalkan nya begitu saja?
Setelah membuat penampilan Diana seperti orang yang di lecehkan?
....
7 hari yang lalu...
"Honey...." Xavier yang saat ini baru selesai mandi di kagetkan dengan kepala Ghiea yang muncul di balik jendela. Xavier segera berlari ke arah jendela dan membuka nya.
"Sweetheart..." bisik Xavier sembari menoleh ke belakang, untuk memastikan pintu kamar nya tertutup.
"Aku mau masuk..." kata Ghiea.
"Cepat, Ghiea. Astaga, badan mu berapa kilo sih..." terdengar suara Alan yang meracau di bawah. Xavier terkekeh dan langsung menarik istri nya itu masuk, sementara Alan yang sejak tadi menahan bobot badan Ghiea di atas pundak nya kini bernafas lega. Ia memijit kedua pundak nya yang sakit karena di injak Ghiea.
Setelah Ghiea berhasil naik, ia dan Xavier langsung berciuman bibir tanpa memperdulikan Alan yang masih di bawah.
"Hey..." teriak Alan yang mengganggu ciuman mereka dan dengan sangat terpaksa Ghiea dan Xavier menyudahi bertukar saliva nya.
"Pulang gih..." kata Xavier setengah berbisik "Thank you ya, sudah mengantar Ghiea" ucap nya kemudian.
"Nikmati waktu kalian di rumah Nenek lampir ini, hati hati ketahuan" Alan memperingatkan.
Ghiea tersenyum pada Alan dan melambaikan tangan pada nya, mereka mengawasi Alan yang kini menyelinap keluar sama seperti saat menyelinap masuk. Alan memanjat pagar tembok itu.
Setelah memastikan Alan pergi dengan aman, Xavier segera menutup jendela nya. Kemudian ia dan Ghiea kembali saling melahap bibir, menggigit dan menghisap nya.
Dan saat ini, mereka memang ada di rumah Granny Kelly. Lebih tepat nya, di kamar yang selama ini menjadi kamar Xavier dan Clara.
Xavier menggiring Ghiea ke ranjang tanpa melepaskan tautan bibir mereka, tangan nakal Xavier bergerliya di tubuh sang istri. Ia bahkan memegang dada Ghiea dan meremas nya, membuat Ghiea memekik, dan kesempatan itu tak Xavier sia siakan. Segera ia susupkan lidah nya ke dalam mulut Ghiea, mencari lidah Ghiea dan mengajak nya menari bersama. Bertukar saliva yang semakin membangunkan hasrat yang menggelora. Sekarang Ghiea tak lagi malu apa lagi takut, Xavier memang milik nya dan ia milik Xavier.
Dengan nakal, Ghiea mendorong Xavier hingga Xavier terlentang di ranjang dengan kaki menjuntai ke lantai nya. Ghiea menarik lepas handuk yang melililt di pinggang Xavier dan menutupi bagian bawah tubuh nya.
"Kau merindukan ku?" tanya Xavier dengan suara serak, tatapan nya sudah begitu gelap dan pusat diri nya sudah berkedut merindukan rumah nya.