
Dokter Liya, seorang Psikiater yg menangani Ghiea 5 tahun lalu pasca Ghiea sadar dari koma nya, mendapati diri nya adalah wanita sebatang kara dan kehilangan sebagian besar ingatan nya karena sebuah kecelakaan yg menimpa nya.
Dokter Liya langsung bergegas ke apartement Ghiea setelah mendapatkan kabar dari Xavier.
Sementara Xavier saat ini duduk di sisi Ghiea yg masih pingsan, ia menggenggam tangan nya dengan sangat erat. Hingga perlahan ia merasakan pergerakan tangan Ghiea, kelopak mata nya bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Sweetheart, ayo bangun..." seru Xavier bernafas lega, ia mengecup tangan Ghiea berkali kali sambil terus meminta Ghiea bangun.
"Ghiea..."
"Ayo bangun, Sayang..."
Suara Xavier seperti sebuah panggilan yg Ghiea kejar, ia memaksakan mata nya terbuka dan hal pertama yg ia lihat adalah Xavier yg tersenyum pada nya.
"Syukurlah, Sayang. Kamu bangun juga akhirnya..." ia bernafas lega, bahkan Xavier mengecup kening Ghiea berkali kali. Ghiea mengernyit, sambil memegang kepala nya yg terasa sakit.
"Xavier..." lirih nya sambil berusaha duduk.
"Iya, Sayang..." Xavier membantu Ghiea duduk, bola mata Ghiea menyorot ke sekitar nya dengan alis yg bertaut. Seperti seseorang yg kebingungan di tempat asing.
Suara bel pintu terdengar, Xavier tahu itu pasti Dokter Liya.
"Tunggu sebentar.." kata Xavier beranjak dari duduk nya namun Ghiea menahan tangan Xavier dengan sebelah tangan nya, sementara tangan yg lain masih memegang kepala nya.
"Aku... Kenapa?" tanya nya yg membuat Xavier tercengang. Ia menatap Ghiea dengan begitu sendu, kecemasan dan kesedihan terpancar jelas di mata nya namun Xavier memaksakan bibir nya tersenyum.
"Tidak apa apa, Sweetheart. Tadi kamu pingsan, tunggu dulu ya. Ada Dokter di depan" kata Xavier lembut. Ghiea membiarkan nya saja, ia memutar ingatan nya pada kejadian sebelum pingsan, namun Ghiea tidak ingat apapun.
"Hai, Alesha..." sapa seorang wanita cantik yg memakai jas kedokteran nya.
"Sweetheart, ini Dokter Liya" kata Xavier yg membuat Ghiea mengernyit bingung, ia seperti tidak asing dengan wanita cantik bernama Dokter Liya ini.
"Aku rasa aku tidak apa apa, kenapa kamu memanggil Dokter?" tanya Ghieai lirih pada Xavier.
"Aku hanya ingin memeriksa keadaan mu, Ghiea. Tadi kata Xavier kau pingsan" ujar nya.
Ghiea menatap Xavier dengan tatapan berbeda, Ghiea merasa Xavier dan Dokter ini sudah lama kenal, apa lagi Dokter Liya memanggil Xavier dengan panggilan biasa.
"Apa yg kau rasakan sekarang? Apa kau ingat sesuatu?" tanya nya lembut. Ghiea menggeleng, membuat Xavier dan Dokter Liya menghela nafas berat seketika.
"Apa saat pingsan kau bermimpi sesuatu? Atau mungkin terbayang sesuatu?" tanya nya lagi. Ghiea tak menjawab, ia menatap Xavier dan Dokter Liya bergantian. Ghiea merasa, dari pertanyaan yg di ajukan nya, Dokter ini bukan Dokter umum, melainkan spesial dan mungkin spesial kesehatan mental. Beberapa kali Ghiea mendatangi psikiater, dan Dokter Liya seperti seorang Psikiater.
"Ya" jawab Dokter Liya sambil tersenyum, seketika Ghiea memperlihatkan raut tidak suka nya.
"Aku baik baik saja, Dokter. Aku juga tidak bermimpi apapun, tidak terbayang apapun. Aku hanya pingsan" tukas Ghiea ketus, kemudian ia menatap Xavier dingin.
"Apa kau fikir aku punya gangguan mental?" tanya nya dingin.
"Tidak, Sweetheart...." jawab Xavier dengan begitu lembut, ia duduk di samping Ghiea, merapikan rambut Ghiea yg berantakan di sisi wajah nya "Hanya saja tadi sebelum pingsan, kamu meracau tentang kecelakaan, aku fikir kau ingat dengan kecelakaan yg menimpa mu"
"Kecelakaan?" tanya Ghiea sambil memicingkan mata nya pada Xavier "Bagaiamana kamu tahu aku mengalami kecelakaan, Xavier?" ia bertanya dengan suara tertahan. Xavier yg baru menyadari bahwa ia telah keceplosan membuat nya sedikit bingung, Xavier memutar otak nya dengan cepat, mencari jawaban yg pas untuk pertanyaan Ghiea.
"Aku..."
"Kamu memata matai ku?" tanya Ghiea lagi.
"Ya, memang nya apa yg tidak bisa di lakukan Alexavier Anson" tukas Xavier kemudian, yg berhasil membuat Ghiea mendelik.
"Dokter..." seru Ghiea pada Dokter Liya "Yg butuh penanganan jiwa itu dia..." Ghiea menunjuk Xavier "Dia itu sudah gila, dia tinggal di rumah ku tanpa izin ku" adu nya yg membuat Dokter Liya menahan senyum. Tentu karena Dokter Liya sangat tahu apa yg terjadi pada Ghiea dan Xavier. Apa lagi Dokter Liya dulu adalah psikiater Ghiea, tapi seperti nya Ghiea lupa.
"Baiklah, jika kau baik baik saja, tidak apa apa. Tapi jika kau mengalami sesuatu, segera hubungi aku" ucap Dokter Liya.
Kemudian Xavier pun mengantar nya ke depan, setelah di depan apartement, Xavier bertanya pada Dokter Liya.
"Dia lupa kejadian sebelum dia pingsan, Dok...." ucap nya frustasi "Lalu bagaimana dia bisa mengingat kejadian sebelum Kecelakaan itu? Mengingat bahwa aku suami nya, dan dia pernah mengandung anak kami"
"Sebenarnya Ghiea bisa mengingat nya, Xavier. Hanya saja, tanpa Ghiea sadar, dia sendiri yg menghapus ingatan nya karena dia tidak sanggup mengingat nya. Kamu bisa melakukan beberapa hal yg bisa memancing ingatan nya kembali, asal kan dia mampu mengatasi nya. Jika seperti tadi, itu terlalu berbahaya untuk nya. Kasihan dia" tutur nya. Xavier tertunduk sedih.
Dokter yg menangani Ghiea dulu memang mengatakan sangat kecil kemungkinan Ghiea bisa ingat kembali pada nya, pada masa lalu mereka. Namun sekecil apapun kemungkinan itu, Xavier sangat berharap setidak nya ingat pada nya, ingat pada masa pacaran mereka, ingat saat pernikahan mereka.
"Terima kasih, Dokter Liya" ucap Xavier kemudian.
Sementara di dalam, Ghiea bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Ia mencipratkan air ke wajah nya, mengusap nya kasar dan menatap bayangan diri nya di cermin.
Ghiea mencoba mengingat kembali apa yg terjadi sebelum dia pingsan.
"Masak, aku memasak..." gumam Ghiea. Kemudian, dalam ingatan nya itu ada api yg berkobar, Ghiea langsung menggeleng kan kepala nya dan mengusir bayangan itu, ia melakukan itu secara naluriah.
Ghiea kembali mencuci muka, dan berfikir apa yg ada dalam bayangan nya itu hanya halusinasi nya semata. Seperti itu lah selalu, ini bukan pertama kali nya Ghiea di ingatkan akan masa lalu tragis nya, namun terkadang Ghiea menganggap nya mimpi, terkadang menganggap nya hanya sebatas halusinasi.