
Jika kedua sahabat nya sibuk menghabiskan waktu liburan bersama pasangan masing masing, Ghiea dan Xavier justru lebih memilih tetap berada di kamar mereka. Apa lagi dua hari lagi mereka akan segera berangkat ke Paris, sementara besok Ghiea ada janji dengan Dokter kandungan nya. Mereka menonton film legend, yang romantis nya tak lekang oleh waktu. Titanic.
Saat ini, Ghiea sedang rebahan di atas ranjang dengan kepala yang ia letakkan di pangkuan sang suami. Sedangkan Xavier duduk bersandar di kepala ranjang, tangan nya sejak tadi tidak berhenti mengelus perut Ghiea yang mulai sedikit membuncit.
Meskipun sudah menonton film itu beberapa kali, namun Ghiea tetap berderai air mata saat menonton nya lagi dan lagi.
"Hiks... Hiks..." Ghiea mulai terisak saat adegan kedua pemeran itu berpisah. Sementara Xavier hanya meringis, ia tahu adegan itu memang sangat sedih namun itu tak berarti membuat Xavier ingin menangis.
"Honey..." Ghiea merengek sembari menarik tangan Xavier yang sejak tadi mengelus perut nya.
"Iya, Sweetheart..." jawab Xavier.
"Kenapa kisah cinta mereka sedih sekali? Kenapa meraka harus di pisahkan?" tanya Ghiea di sela isak tangis nya.
"Ya aku tidak tahu, Sweetheart. Tanya saja sama penulis skenario nya" jawab Xavier.
"Tapi itu kisah nyata, Honey" ucap Ghiea lagi.
"Hem berarti memang begitu takdir nya, kan tidak ada yang bisa melawan takdir" jawab Xavier lembut.
"Tapi kenapa takdir nya tidak adil, Honey? Kan kasihan sekali meraka, hiks hiks...." Xavier terkekeh dengan tingkah menggemaskan istri nya itu. Ia menunduk dan mengecup gemas ujung hidung Ghiea.
"Terus aku harus tanya pada siapa? Tanya sama Tuhan?" tanya nya yang membuat Ghiea mendengus.
"Sweetheart..." ucap Xavier kemudian sembari menghapus air mata Ghiea.
"Nanti kalau anak kita perempuan, kasih nama siapa ya?" tanya Xavier.
"Hem kasih nama Rexanne, bagaimana? Yang berarti ratu, aku ingin dia menjadi ratu dari pasangan nya kelak. Seperti kamu yang menganggap ku ratu mu, dan kamu adalah raja ku" kata Ghiea yang membuat Xavier terkekeh.
"Rexanne, hem nama yang bagus. Rexanne Anson"
.........
Alan menatap Melissa yang saat ini masih asyik memakan pentol goreng nya dengan lahap. Sementara Alan yang tak pernah memakan jajanan pinggir jalan pun hanya bisa terus memegang pentol nya tanpa berniat memakan nya.
"Sugar, tadi kamu bilang kalau bayarin makanan atau bayarin belanjaan pacar itu normal kan? Berarti hmm memang benar dong, kalau yang paling wanita butuhkan dari pria itu adalah materi..." tutur Alan yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Melissa. Terkadang Melissa tak habis fikir, kenapa Alan memiliki fikiran yang sangat buruk tentang wanita.
"Jadi menurut mu semua wanita itu materialistis?" tanya Melissa namun tentu Alan tak berani menjawab nya di hadapan Melissa atau ia akan terkena jawaban yang menohok lagi.
"Alan, itu bukan materialistis. Itu hanya realistis. Kamu bayangin saja, kita pergi makan, terus kita bayar sendiri-sendiri. Kan aneh, atau misal nya kamu ajak aku belanja. Tapi aku yang bayar, kan engga masuk akal. Kamu kalau bayarin pacar, itu tanda nya kamu sayang dan perduli. Tapi kalau kamu mau balasan nya di atas ranjang, lalu apa beda nya dengan seorang pelacur, hm? Sampai sini faham kan? "
.........
*💞 Ada yang masih belum mampir ke karya baru SkySal yang berjudul A DREAMER?
Atau ada yang masih baca diam diam tanpa meninggalkan jejak? Like, comment, gift, vote. Sangat Sky harapkan dari pembaca Sky. Dan terima kasih banyak yang sudah mengikuti karya Sky sampai di sini. Love you all 💋💞*