
"Sebaik nya sekarang kita pulang ya, aku sudah sangat lapar" rengek Diana. Ghiea mengangguk dan melangkah keluar dari area sekolah, ia berpapasan dengan seorang wanita dan wanita itu tampak terkejut melihat Ghiea.
''Ghiea... " gumam nya
"Bu Guritno..." perhatian wanita itu teralihkan saat nama nya di panggil oleh seseorang, ia menoleh dan melihat anak didik nya yang kini sudah sukses berjalan menghampiri nya.
"Alan..."
Pria bernama Alan itu melirik Ghiea dan kedua sahabat nya yang kini sudah memasuki mobil "Kamu sedang apa di sini, Lan?" tanya Bu Guritno membuat Alan kembali mengalihkan perhatian nya pada wanita yang sudah berusia itu.
"Tadi ada sedikit urusan, soal donasi ke sekeloh" jawab Alan. Bu Guritno kembali menoleh dan memperhatikan mobil Ghiea yang sudah berjalan keluar .
"Lan, tadi ada wanita yang mirip sekali dengan Ghiea..." ujar Bu Guritno dengan wajah yang sangat serius.
"Ah masak sih, Bu? Ghiea kan sudah meninggal" ujar Alan.
"Lagian memang nya Bu Guritno masih ingat dengan wajah Ghiea setelah sekian lama?" tanya nya sembari mensejejarkan langkah nya dengan kepala sekolah nya ini yang berjalan masuk.
"Tentu saja aku sangat ingat dengan wajah Ghiea, bagaimana mungkin aku lupa dengan siswi SMP yang berani melamar siswa SMA di sekolah, di depan teman dan guru guru nya? Itu salah satu fenomena yang aku lihat dalam hidup ku" tutur Bu Guritno yang yang membuat Alan tertawa renyah.
"Kamu juga pasti masih ingatkan dengan pacar Xavier itu?"
"Tentu saja aku sangat ingat, Bu. Aku ikut menyoraki nya saat itu" sambung Alan. Ia teringat kembali dengan kejadian dimana Ghiea dengan berani nya melamar Xavier dan bahkan memanggil nya electric hanya karena Xavier selalu memakai apapun dengan warna yang sangat mencolok.
"Aku dengar Bu Guritno akan pensiun" ujar Alan kemudian.
"Itu benar, bahkan ini hari terakhir aku di sekolah ini" jawab nya sambil tersenyum.
...
Xavier kini sudah ada di dalam pesawat dan duduk di kursi first class, ia menghubungi seseorang yang bernama Alan di kontak nya. Setelah beberapa menit menunggu, ia mendapatkan jawaban.
"Bagaiamana?" tanya Xavier.
"Syukurlah semua nya terkendali" terdengar jawaban dari seberang telfon yang seperti nya juga bernafas lega.
"Tapi kenapa kamu tidak memberi tahu Ghiea saja, Xavier? Ini masa lalu nya, hidup nya, dia berhak tahu. Dia juga pasti sangat tersiksa karena tidak ada kenangan apapun yang tersimpan dalam memori nya selain dia yang terbangun sendirian di rumah sakit dan di hadapkan pada cerita karangan mu"
"Aku lakukan ini demi dia, kamu tidak tahu betapa histeris nya dia saat ada sedikit saja bayangan yang terbersit dalam benak nya tentang apa yang menimpa nya. Dia akan pingsan, dan saat sadar, dia bahkan tidak akan ingat apa yang membuat dia pingsan"
"Oh Tuhan, kasihan sekali Ghiea..."
"Aku juga ingin dia ingat masa lalu kami yang sangat indah..."
"Lalu kenapa kamu Tidak mencoba nya? Jangan ingatkan dia pada tragedi itu tapi ingatkan dia pada masa masa sekolah nya, ingatkan dia pada mu, pada kami"
"Menurut mu itu bisa? Tentu saja tidak bisa, aku dan psikiater nya sudah pernah mencoba nya saat Ghiea keluar dari rumah sakit. Dia akan merasakan deja vu, mungkin. Tapi terkadang dia tidak mau mengakui kalau itu ingatan nya"
"Dia semakin cantik, Dude..." tiba tiba Alan berkata sambil terkekeh, membuat Xavier langsung menggeram kesal.
"Hey, jaga mata mu atau aku akan mencokel nya"
"Haha, kau masih sama rupa nya"
....
Granny Kelly tidak tinggal diam, dia bertekad harus menemukan Ghiea hari ini karena Xavier besok sudah pulang. Granny Kelly harus memastikan siapa Ghiea yang di maksud oleh Clara.
Granny Kelly menggunakan kekuasaan nya untuk menggerakkan orang orang nya untuk mencari Ghiea, tak hanya itu, ia juga memeriksa semua properti milik Xavier dan dia sangat yakin bahwa Ghiea si selingkuhan itu pasti memiliki hal yang berhubungan dengan property Xavier atau mungkin menempati salah satu apartement milik Xavier.
"Lima tahun yang lalu Xavier pernah membeli sebuah apartement untuk Ghiea" gumam nya kemudian saat ia teringat akan hal itu namun sayang nya Granny Kelly tidak tahu apartement apa dan dimana dan atas nama siapa. Apa lagi setahu Granny Kelly, Xavier tinggal di sebuah perumahan yang kecil dan sederhana bersama Ibu mertua nya.
"Apa apartement itu atas nama Ghiea? tapi mereka tidak pernah menempati apartement itu..." monolog nya.
Granny Kelly keluar dari kamar nya dan ia menggeram marah saat mendapati Clara justru asyik bermain ponsel.
"Clara...." teriak nya yang membuat Clara sangat terkejut.
"Kamu itu ya, bukan nya cari tahu siapa selingkuhan suami mu, kamu malah sibuk main ponsel nya" seru nya yang membuat Clara hanya bisa menelan saliva nya dengan susah payah.
"Memang nya mau cari dimana lagi?" tanya Clara kemudian.
"Ke neraka sekalipun kalau memang di dunia ini tidak ada" ketus Nenek nya yang lagi lagi membuat Clara menelan saliva nya.
"Ayo ke kantor, kamu harus belajar mempertahankan milik mu, Clara" ujar nya lagi.
"Tapi ini sudah sore, Granny" ujar Clara.
"Mau tengah malam sekalipun, kita harus tetap bekerja sebelum Xavier pulang" tukas nya.
Mau tak mau Clara pergi ikut Nenek nya ke kantor entah untuk mencari tahu apa lagi.
Sesampai nya di kantor, Granny Kelly langsung pergi ke ruangan Xavier dan ia mengobar abrik ruangan Xavier untuk mencari apapun yang bisa memberi nya petunjuk tentang Ghiea. Dan apa yang mereka lakukan juga tak lepas dari pantauan Jamie, Jamie juga melaporkan hal itu pada Xavier.
Sementara Clara hanya diam seperti orang bodoh, karena ia tidak tahu harus mencari apa.
"Kenapa kamu diam saja, Clara?" teriak Nenek nya.
"Aku harus mencari apa?" tanya Clara bingung.
"Ya apapun kamu cari, yang bisa memberi kita petunjuk dimana Ghiea" gerutu nya.
"Xavier itu pernah membeli apartement, dan aku sangat yakin Ghiea selingkuhan Xavier itu ada di apartement itu..."
"Tidak mungkin Xavier membawa Ghiea tinggal di apartement semewah itu..." tukas Clara "Ghiea itu hanya selingkuhan" lanjut nya.
"Memang nya kamu tahu dimana apartement itu?" tanya Nenek nya dan Clara mengagguk.
"Tahu dari mana?"
"Dari Jamie, Jamie waktu itu kata nya pergi ke apartement teman nya dan melihat Xavier di sana" ujar Clara yang membuat Nenek nya tercengang.
"Kita ke sana sekarang..."