
Setelah pesta berakhir, Ghiea dan Xavier pergi ke kamar hotel mereka.
Mereka begitu senang dan kini bernafas lega karena apa yang mereka rencanakan berhasil, bahkan ini jauh lebih baik dari yang Xavier harapkan dan yang Xavier rencanakan tanpa Ghiea selama lima tahun ini. Setelah ia bersama Ghiea, semua nya terasa mudah nan indah.
Ghiea melepaskan gaun nya, membersihkan make up nya sebelum akhirnya ia bergegas ke kamar mandi untuk berendam. Xavier pun mengikuti nya, mereka berendam dalam bathtub yang di penuhi air hangat. Aroma lavender dari sabun yang tadi Ghiea tuangkan ke dalam bathtub memenuhi indera penciuman mereka.
Ghiea bersandar ke dada bidang Xavier dan Xavier pun memijat kedua pundak istri nya itu dengan lembut.
"Sweetheart..." Xavier berkata lirih sembari mendaratkan kecupan kecupan mesra nya di pundak Ghiea. Membuat Ghiea mengerang lirih dan semakin menempelkan tubuh nya ke tubuh Xavier.
"Aku ingin masuk lagi..." rengek Xavier manja "Lihat, dia keras kan" kata nya yang membuat Ghiea terkekeh.
"Jangan, Honey" kata Ghiea, ia menolehkan kepala nya dan mengecup rahang Xavier "Ada yang ingin aku katakan pada mu..." kata Ghiea lagi. Kini ia berbalik badan, sehingga duduk berhadapan dengan Xavier. Ghiea menarik tangan Ghiea dan membawa nya ke perut nya.
"Ada apa, Sweetheart? Kamu sakit perut?" tanya Xavier yang membuat Ghiea terkekeh.
"Ada bayi kita di perut ku..." lirih Ghiea yang langsung membuat Xavier tercengang dengan ekspresi yang tak bisa di tebak. Hal itu membuat Ghiea merasa gugup, ia sangat takut Xavier tak bisa menerima bayi dalam kandungan nya ini. Ghiea hanya bisa diam memperhatikan Xavier yang masih tercengang bahkan sampai satu menit kemudian.
Hati Ghiea sudah dag dig dug tidak karuan, ia ingin berbicara tapi lidah nya kelu, hingga tiba tiba Xavier berdiri dan keluar dari buthtub dengan tergesa gesa, Ghiea mulai berfikir Xavier tidak menginginkan bayi nya dan pemikiran itu membuat dada nya terasa sesak dan mencolos.
Sementara Xavier, tak perduli dengan tubuh nya yang tanpa penutup apapun, juga busa sabun yang masih menempel di sebagian tubuh nya. Xavier segera bergegas keluar kamar mandi, ia mengambil ponsel nya yang ada di atas ranjang dan mencari kontak Ibu nya. Kemudian Xavier langsung melakukan video call tanpa fikir panjang, beberapa saat kemudian terlihat wajah sang Mommy yang tampak nya sangat lelah di layar ponsel nya. Xavier melangkah kembali ke kamar mandi.
"Ada apa, Xavier? Kenapa video call jam segini?" tanya sang Mama yang tampak nya sedang membersihkan make up nya.
"Mom, aku akan jadi Daddy, Mom..." teriak nya tiba tiba yang sampai terdengar ke dalam kamar mandi, Ghiea yang mendengar itu sedikit terkejut, ia hendak berdiri namun tiba tiba Xavier muncul dengan ponsel di tangan nya.
Sementara itu, Nyonya Leona terlihat sangat terkejut karena melihat Ghiea yang berada dalam bathtub.
"Kalian berada dalam kamar mandi?" pekek Nyonya Leona yang membuat Diana langsung menenggelamkan diri nya ke dalam ke dalam buthtub.
"Xavier, kamu video call Mommy?" tanya Ghiea sembari menutup dada atas nya dengan tangan nya.
"Iya, Sweetheart. Aku tidak sabar mau memberi tahu Mom kalau kamu hamil" kata Xavier yang membuat Ghiea dan Mommy nya sama sama tercengang dengan kegilaan Xavier.
"Memang nya tidak bisa menunggu nanti sampai kita selesai mandi?" pekik Ghiea.
"Iya, Xavier. Kalian mandi dulu ya, Mom juga mau mandi. Nanti kita bicara lagi" ujar Mommy nya yang justru membuat Xavier terlihat memberengut.
"Astaga, Xavier. Tentu saja Mommy sangat senang, Mommy bahkan sudah tahu sejak awal kalau Ghiea hamil" ujar Mommy nya yang membuat Xavier kini tercengang. Ia menatap layar ponsel nya dan Ghiea secara bergantian.
"Jadi kalian sengaja menyembunyikan ini dari ku?" tanya Xavier.
"Aku hanya ingin memberikan kejutan untuk Mu, Xavier" kata Ghiea dan bersamaan dengan itu Nyonya Leona memutuskan sambungan telpon nya.
"Hem jadi surprise?" tanya Xavier kemudian dan Ghiea menunduk. Xavier meletakkan ponsel nya di tepi bathtub sebelum akhir nya ia kembali masuk dan bergabung dengan Ghiea ke dalam bathtub.
Xavier menatap Ghiea dengan tatapan yang dalam dan lembut, ia mengangkat kedua tangan nya dan menangkup pipi sang istri kemudian mencium kening Ghiea dengan mesra. Kedua nya memejamkan mata saat merasakan kehangatan dari ciuman yang begitu lembut itu.
Hati Ghiea bergetar begitu juga dengan Xavier, ia tak menyangka Xavier ternayata sangat menyambut kehamilan nya ini.
"Terima kasih, Sweetheart" lirih Xavier setelah melepaskan ciuman nya. Bibir nya begitu dengan bibir Ghiea, nafas hangat Xavier menerpa bibir nya.
"Aku pernah hamil kan sebelum nya" kata Ghiea dan Xavier mengangguk "Kita kehilangan bayi kita?" tanya Ghiea dengan suara tercekat dan Xavier menyunggingkan senyum lembut nya.
"Sekarang Tuhan mengganti nya, Sayang" kata Xavier dan Ghiea pun ikut tersenyum. Kedua nya berpelukan dalam bathtub yang penuh dengan busa itu, kebahagiaan yang tak pernah Ghiea duga dan cerita hidup juga cerita cinta yang tak pernah Ghiea bayangkan. Selama ini Ghie berfikir ia benar benar sebatang kara, namun ternyata Ghiea memiliki keluarga, suami, Ibu mertua dan adik ipar. Memang bukan keluarga yang sempurna namun bagi Ghiea mereka sudah lebih dari cukup.
....
Max juga berendam dalam bathtub nya, ia menyadarkan kepala nya dan memejamkan mata. Bayangan akan ciuman panas nya dengan Diana terbayang kembali dalam benak nya, tangan Max terangkat dan ia menyentuh bibir nya dengan lembut, Max sedang membayangkan bibir Diana lah yang menyentuh bibir nya dengan lembut.
"Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" batin nya bertanya tanya. Ia sungguh bingung bagaimana cara menghadapi Diana nanti.
...
Sementara itu, Diana yang sudah berada di atas ranjang sejak sejam yang lalu belum bisa memejamkan mata nya. Ia terus terbayang akan aksi ciuman panas nya dan Max di toilet tadi. Diana bahkan tidak pernah menyangka ciuman pertama nya begitu menggebu dan panas. Padahal, selama ini dia selalu membayangkan akan ada pria tampan yang datang pada nya dengan sebuket bunga dan sebatang cokelat, berlulut di hadapan nya dan menyatakan cinta nya dengan romantis, kemudian Diana menerima nya dan kedua nya akan berciuman bibir dengan pelan, lembut, mesra, seperti yang oppa oppa korea lakukan pada wanita nya di film film yang ia tonton. Tapi yang Max lakukan?
Itu sangat jauh berbeda dengan apa yang ia bayangkan, ciuman Max terasa begitu panas, seperti membakar setiap aliran darah Diana, apa lagi ketika Max meremas paha Diana.
"Oh, Sialan...." teriak Diana sambil melempar bantal secara asal.
"Dasar pria culun, tunggu saja pembalasan ku ya!!!!"
"Berani nya kamu melecehkan seorang Diana!!!"