
Diana memegang bibir nya dengan tatapan yang lurus menatap langit langit kamar nya, fikiran nya kembali melayang pada ciuman nya dan Max yang benar benar membakar gairah nya. Dan tadi sahabat sahabat nya itu justru kembali memancing gairah Diana dan membicarakan bibir Max, Diana merasa tidak suka jika sahabat sahabat nya itu membayangkan bibir Max.
Diana bahkan seolah masih merasakan sentuhan bibir Max di bibir nya, hangat, basah dan...
"Di...." Diana terlonjak kaget mendengar teriakan Mama nya yang menggelegar di telinga nya di saat ia membayangkan ciuman Max.
"Di, turun makan, Di" Mama nya kembali berteriak karena Diana tak merespon panggilan nya.
"Iya, Mama..." Diana balas berteriak dan segera turun dari kamar nya. Ia melangkah malas ke meja makan dan di sana Mama nya sudah menikmati makanan yang di masak nya sendiri.
Diana hanya tinggal berdua dengan Mama nya yang bernama Dessy di rumah ini, kedua orang tua nya bercerai karena sang Papa ketahuan selingkuh dan karena itulah Diana tidak pernah mau dekat dengan pria mana pun, jika pun dekat paling Diana hanya mengerjai seperti yang ia lakukan pada Max dan sikap nya yang terkesan bar bar juga akibat dari perceraian kedua orang tua nya.
"Bagaiamana pekerjaan mu, Di? sejak kemarin Mama lihat kamu murung, kamu capek ya?" tanya Mama nya lirih yang membuat Diana langsung mengembangkan senyum di bibir nya, Mama nya ini memang tidak bekerja dan biaya hidup mereka berdua hanya di tanggung Diana. Namun Diana tidak masalah sama sekali meskipun Mama nya terkadang merasa bersalah pada Diana.
"Sedikit, Ma. Mama jangan khawatir.." ucap nya kemudian ia mulai menyantap menu makan malam nya.
"Mama tidak menyangka lho, ternyata sahabat kamu itu istri nya bos besar" kata Mama nya lagi "Enak kali ya kalau punya menantu orang kaya begitu, Di"
"Enak kenapa nya? Karena kaya nya?" tanya Diana mendelik "Ma, aku tidak mau kita menggantungkan hidup pada orang lain. Lebih baik kita hidup begini, pas pasan tapi hasil keringat sendiri. Dari pada kaya raya tapi punya orang"
"Tapi kan kalau sudah menikah, harta suami harta istri, Di"
"Ish, Mama. Fikiran nya kesana terus. Nanti deh aku cari suami orang kaya, biar Mama senang" gurau nya yang membuat Mama nya tertawa.
...
Sementara di rumah Max, Nyonya Leona, Ghiea, Xavier dan Alan sedang membicarakan Max dan Diana. Alan serta Xavier sangat percaya kedua nya memiliki perasaan yang sama, namun beda hal nya dengan Ghiea dan Nyonya Leona yang masih tak percaya dengan apa yang di lihat nya tadi.
Nyonya Leona merasa sangat mengenal putra nya dan ia merasa tidak mungkin putra bungsu nya yang polos nan lugu bisa menyerang gadis bar bar seperti Diana.
Begitu juga dengan Ghiea yang merasa sangat mengenal sahabat nya, Diana. Ia sangat yakin Diana tak mungkin mau di serang begitu saja oleh pria yang selama ini selalu di Bully nya.
"Kalau menurut aku ya, kita harus merubah penampilan Max. Apa lagi dia sudah menjadi bagian penting di perusahaan mu" kata Alan pada Xavier.
"Tidak tidak..." sanggah Xavier "Aku tidak mau Diana menerima Max hanya karena Max terlihat tidak culun lagi, Diana harus menerima Max apa ada nya" kata Xavier.
"Yang kita rubah penampilan nya, bukan karakter nya" balas Alan.
"Tidak mau..." Xavier masih kekeh dengan pendapat nya "Kalau Diana menerima atau menolak Max hanya karena penampilan, maka Diana tidak pantas untuk nya"
"Diana itu seperti nya benar benar punya ego yang tinggi, semnatara Max tipe pria yang tak percaya diri" kata Alan memikirkan perbedaan yang begitu signifikan itu.
"Kalau begitu Diana harus menurunkan ego nya untuk Max" kata Xavier.
"Max yang harus belajar percaya diri dan maju mendekati Diana" sanggah Alan.
"Kenapa kalian Tidak sekalian membuka yayasan perjodohan?" tanya Ghiea tiba tiba, Alan dan Xavier langsung menatap Ghiea "Lagi pula itu kan urusan pribadi mereka, kenapa kalian ikut campur? Mereka juga sudah dewasa, jadi mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Kenapa kalian jadi beradu pendapat di sini?"
"Ya juga ya..." gumam Alan "Aku melakukan ini karena aku merasa gemas saja sih dengan dua manusia beda tabiat itu" lanjut nya.
"Kalau kamu, Honey?" Ghiea menatap Xavier "Kenapa kamu mau menjodohkan mereka seperti ini?"
"Karena mereka pernah membantu kita, Sweetheart. Berkat mereka juga rencana kita lancar dan sekarang kita bersama, jadi aku hanya ingin membantu mereka agar bersama orang yang mereka cintai" kata Xavier yang membuat Ghiea terharu.
"Oh, so sweet.." Ghiea berkata dengan tatapan yang manis sekali "Tapi aku tidak yakin kalau Diana mencintai Max, Diana bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta, apa lagi dulu orang tua nya bercerai karena ayah nya selingkuh, jadi Diana seperti takut mengalami apa yang di alami Mama nya" tutur Ghiea yang membuat semua orang jadi prihatin.
Semnetara itu, Max yang tadi sudah pergi ke kamar nya hendak turun lagi karena ia merasa haus dan air di kamar nya sudah habis, namun saat di tangga, ia mendengar ucapan Ghiea dan seketika Max merasa kasihan pada Diana.
"Kasihan sekali..." gumam Nyonya Leona kemudian ia menatap Xavier "Nasib nya sama seperti Xavier, sama sama anak broken home" Ia berkata lirih dan penuh penyesalan.
"Tentu saja beda, Mom. Kamu di jebak dan aku juga tidak trauma akan hal itu, aku mengerti" jawab Xavier bijak.
Max kembali ke kamar nya membawa kembali botol yang kosong, Max meletakkan botol nya di atas meja dan ia melemparkan tubuh nya ke ranjang King size nya itu.
Max menatap langit langit kamar nya Sementara ingatan nya kembali berputar pada ciuman nya dan Diana, Max memegang bibir nya yang seolah masih bisa merasakan lembut nya bibir Diana.
Max juga teringat dengan apa yang di katakan Alan tadi, ia memang bukan tipe orang yang percaya diri apa lagi jika berurusan dengan perempuan.
"Terus aku harus bagaimana? Aku rasa aku benar benar menyukai Diana, jantung ku selalu berdebar debar setiap kali aku mengingat nya" gumam Max.
"Apa aku rubah saja penampilan ku agar Diana juga menyukai ku seperti yang di katakan Alan?" ia bertanya tanya pada diri nya sendiri.
"Tapi benar apa yang di katakan Xavier, kalau begitu Diana tidak akan tulus menyukai ku, dia hanya akan menyukai penampilan ku saja, tapi..." Max berkata dengan cemberut, kemudian ia beranjak duduk. Menekuk kedua lulut nya dan melingkar kan lengan nya di lutut nya.
" Tidak apa apa jika dia hanya menyukai penampilan ku, asalkan dia bahagia bersama ku, itu sudah lebih dari cukup. Tidak apa apa dia tidak tulus pada ku, aku akan tetap tulus menyukai nya. Aku yakin Diana wanita yang baik"