
"Aku juga ingin mengajukan keluhan yang sama" tiba tiba Diana menimpali yang membuat Max melotot terkejut. Keringat dingin sudah mengucur deras dari pelipis nya, ia menelan ludah nya dengan susah payah sambil mengelap keringat nya dengan punggung tangan nya
Sementara Melissa, Ghiea dan Xavier yang mendengar itu hanya bisa melongo dan langsung menatap Diana tak percaya.
"Siapa yang melecehkan mu, Di?" tanya Ghiea terlihat marah, ia tak terima jika sahabat sahabat nya di lecehkan oleh siapapun "Katakan siapa orang nya, biar aku potong burung nya" geram nya yang membuat Max secara refleks langsung memegang anak burung nya itu.
Sementara Diana, ia masih melirik Max dari ekor mata nya.
"Dia..."
"Diana..." Max langsung menarik tangan Diana setelah mengumpulkan keberanian "Ayo, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu" kata Max dan ia membawa Diana keluar dari ruangan Xavier. Sementara Xavier, Ghiea dan Melissa hanya bisa saling melempar tatapan penuh tanda tanya.
"Diana di lecehkan juga?" tanya Ghiea merasa tak percaya.
"Tapi rasa nya tidak mungkin, Ghe" jawab Melissa "Kamu kan tahu sendiri, Diana itu galak sama cowok. Mana mungkin ada yang berani melecehkan nya"
"Terus kenapa tadi dia bilang di lecehkan?" tanya Xavier.
"Mungkin dia hanya bercanda" jawab Melissa "Jadi Bagaiamana, Pak? Beneran kan mau melaporkan Alan ke polisi?" tanya Melissa ingin memastikan.
"Iya" jawab Xavier datar. Mulut nya berkata iya, namun otak nya melayang kemana mana mencari cara bagaiamana agar masalah ini tidak sampai ke polisi karena sebagai sahabat, Xavier tak mau melaporkan sahabat nya sendiri ke polisi apa lagi hanya karena hal seperti ini.
...
Sementara itu, Max terus menarik tangan Diana membuaat langkah Diana sampai terseok seok apa lagi dengan high heels yang tingginya 5 cm yang membalut kaki indah nya.
"Max, lepaskan aku!" seru Diana mencoba memberontak namun Max tak mengindahkan teriakan Diana. Ia terus menarik Diana menuju toilet pria di lantai itu, di jam segini biasa nya semua orang pada fokus bekerja dan jarang ada yang pergi ke toilet. Karena itu lah Max membawa Diana ke toilet.
"Max, kenapa kamu membawa ku ke toilet pria?" pekik Diana kesal, namun Max masih tak mendengarkan nya.
"Max..." teriak Diana sambil menghempaskan tangan Max dengan kasar "Apa mau mu, huh?" Diana berteriak tepat di depan wajah Max, nafas nya memburu dan dada nya naik turun.
"Aku cuma mau minta maaf" seru Max mencoba tegas. Nafas nya juga memburu berat dan ia menatap Diana dengan begitu sendu, tatapan itulah yang membuat Diana tak bisa berkata kata. Tatapan sendu Max seperti sebuah sihir yang merasuk ke dalam hati Diana dengan begitu mudah.
"Apa lagi kamu juga bilang, ciuman itu bisa jadi pelecehan kalau pria nya memaksa dan wanita nya merasa keberatan. Tapi saat itu aku tidak memaksa mu, Di. Dan aku juga tahu kamu tidak keberatan" tukas nya yang membuat pupil mata Diana melebar, tak menyangka dengan apa yang pria culun ini lakukan.
"Jaga bicara mu, Max" seru Diana lantang.
"Apa aku berkata salah?" balas Max tak kalah lantang nya "Aku yakin kamu tidak keberatan saat aku mencium mu, bukti nya kamu membalas ciuman ku bahkan kamu menyebut nama ku beberapa kali"
PLAAAKKKKK
Wajah Max langsung terhempas ke samping saat Diana menampar nya dengan begitu keras, Max menatap Diana sendu dengan mata yang sudah memerah.
"Aku meminta maaf dan kamu menampar ku?" desis Max, sementara Diana juga tampak terkejut dengan tindakan yang baru saja ia lakukan dan ia tak bermaksud ingin bermain kasar pada Max, Diana menatap telapak tangan nya yang terasa panas.
"Max, ak..... Ehmmmpp" kedua bola mata Diana langsung melotot sempurna saat tiba tiba bibir Max membungkam mulut nya. Max menekan tengkuk Diana guna memperdalam ciuman nya itu, sementara Diana yang mencoba mendorong Max di halangi oleh Max. Max melepaskan tautan bibir nya, kemudian menyatukan tangan Diana yang terus memberontak dan mengunci nya di atas kepala Diana. Membuat Diana tak bisa lagi memberontak ketika Max kembali menyerang bibir nya.
Max melahap bibir penuh Diana itu dengan begitu rakus, tergesa gesa dan juga terkesan menuntut. Ia memutar kepala nya ke kanan dan ke kiri guna mencari titik ternikmat di bibir si gadis rambut pirang ini. Sementara Diana yang tadi terus memberontak kini hanya bisa pasrah, meskipun tak menyambut ciuman Max, namun ia juga tak menolak nya. Menyadari hal itu, Max memperlembut ciuman nya. Ia juga melepaskan tangan nya yang mengunci tangan Diana, tangan Diana jatuh lemas di sisi tubuh nya dan sudah tau ada lagi keinginan memberontak. Karena sebenarnya Diana menyukai sentuhan Max.
Max memberikan kecupan kecupan lembut nan ringan di setiap inci bibir Diana, dan hal itu sungguh menggelitik rasa dalam hati Diana, memercikan sebuah hasrat membara dalam jiwa muda nya.
Max mengangkat tangan nya, ia membelai pipi Diana dengan lembut, tatapan kedua nya bertemu. Tatapan sayu yang menyiratkan sebuah hasrat yang terusik, nafas kedua nya memburu dengan dada yang naik turun.
Masih mengunci tatapan nya dengan tatapan Diana, Max mendekatkan wajah nya dengan wajah Diana hingga kedua nya bisa merasakan nafas yang berhembus di wajah mereka. Bibir mereka pun begitu dekat, kurang dari senti dan secara otomatis Diana langsung menutup mata nya bersamaan dengan Max yang menyentuhkan bibir nya ke bibir Diana. Max memanjakan bibir Diana dengan kecupan, ciuman dan lumattan yang membuat Diana melenguh nikmat.
Dan setelah beberapa menit melakukan hal itu, Max menjauhkan diri nya dari Diana. Diana membuka mata dan kembali kedua nya beradu pandang.
"Di..." lirih Max "Lihat sendiri kan tadi? Aku tidak memaksa mu, dan kamu bahkan menyukai ciuman ku. Itu artinya aku tidak melecehkan mu" ucap Max yang membuat Diana tercengang dan otak nya terasa blank seketika.
Max sungguh penuh kejutan....
Tanpa mereka sadari, Alan ada di salah satu bilik toilet itu dan merekam aksi mereka sambil senyum senyum.
"Si culun ternyata jantan juga, ganas lagi"