My Possessive Boss Is My Husband

My Possessive Boss Is My Husband
Episode 71



Di pesta...


Seorang pria tampan datang ke pesta, pria itu tersenyum pada Xavier dan Ghiea yang sudah duduk di kursi mereka sembari menikmati es krim. Pria itu berjalan mendekati Ghiea dan Xavier setelah Ghiea melambaikan tangan pada pria itu.


Sementara itu, Melissa berjalan mundur sambil mengobrol asyik dengan Diana, mereka menggosipkan beberapa klien Xavier yang masih sangat muda dan yang pasti tampan, bahkan ada yang baru berusia 25 tahun. Mellisa terus mundur dan ia hendak duduk di kursi yang ada di hadapan Ghiea namun bersamaan dengan itu, pria yang tadi justru lebih dulu duduk di kursi yang sama sehingga kini Melissa duduk di pangkuan nya.


Ghiea dan Xavier langsung tertawa melihat hal itu, sementara pria itu justru tersenyum misterius dan tampak tak masalah dengan Melissa di atas pangkuan nya, beda hal nya dengan Melissa yang begitu terkejut dan ia langsung menoleh. Hal itu justru membuat pipi nya menempel di bibir sang pria, sontak Melissa langsung berdiri dengan wajah yang merah padam.


"Kau..." pekik Melissa.


"Suara mu nyaring sekali manis" ujar pria itu santai "Apakah akan senyaring itu jika kita bergemul di atas ranjang, hm?" goda nya sambil terkekeh yang tentu saja membuat Melissa menggeram tertahan.


"Selain menjadi polisi gadungan, kepala sekolah gadungan, ternyata kamu juga pria mesum ya" pekik Melissa marah.


"Aku hanya berbicara sedikit tentang ranjang dan kau bilang mesum?" tanya pria itu "Ah, kalau begitu mari praktik langsung di lapangan dan kita tidak perlu bicara, hanya perlu mendessaah dan mengerang lirih..." lanjut pria itu yang membuat Melissa bergidik ngeri "Em, membayangkan nya saja sudah membuat milikku berdenyut sakit sakit enak"


"Cih, pria cabul"


"Mejijikan sekali"


"Sudah sudah..." seru Xavier menengahi "Pesta nya sudah mau selesai, Alan. Untuk apa lagi kamu kesini?" tanya Xavier kemudian.


"Hanya mendatangi sahabat ku, siapa tahu kalian mau memberi ku hadiah sebagai ucapan terima kasih atas bantuan ku yang begitu besar" kata Alan.


"Ah ya, kamu benar" kata Ghiea "Kamu memang berperan sangat penting, Alan"


"Ghiea, apa kamu mengingat ku?" tanya Alan kemudian, Ghiea menatap sendu pria yang kata nya sahabat Xavier ini dan ia menggeleng sedih


"Ah tidak apa apa, Ghiea. Tolong jangan bersedih hati. Meskipun kepala mu itu tidak mengingat kami, tapi aku yakin aku masih punya tempat di hati mu. Datang lah pada ku jika Xavier tak cukup memuaskan mu"


"HEYYY" teriak Xavier marah namun Alan justru menikmati hal itu.


"Pria ini memang cabul" sambung Melissa yang kini menarik kursi lain dan duduk di samping Ghiea, sementara Diana pergi ke toilet sendirian.


"Laki laki sejati adalah laki laki yang selalu memikirkan kenikmatan duniawi seperti itu" kata Alan yang membuat Melissa bergidik ngeri, raut wajah nya tampak risih dan hal itu tidak luput dari pantauan Alan "Hey, dari raut wajah mu, aku bisa memastikan kamu masih perawan"


"Hey, jaga mulut mu" desis Melissa tajam. Sungguh ia tak menyangka Alan akan berbicara tentang keperawanan dengan begitu nyaring dan tanpa beban.


"Kenapa? Aku benar kan?" tanya Alan yang masih tak menyadari dosa nya "Mau melakukan nya bersama ku? Aku akan menikahi mu jika kau hamil" kata Alan lagi dengan lancar nya.


"Lebih baik aku jomblo seumur hidup dari pada memberikan keperawanan ku pada pria cabul seperti mu" desis Melissa


Sementara Xavier dan Ghiea hanya diam sambil saling menyuapi es krim, mereka menjadi penonton yang menikmati adu mulut sahabat mereka ini.


"Honey..." kata Ghiea kemudian.


"Yes, Sweetheart?"


"Dulu, kamu ambil keperawanan ku sebelum atau sesudah menikah?" Xavier tertawa kecil mendengar pertanyaan istri nya itu.


"Tentu saja setelah menikah, karena sebelum menikah fikiran mu benar benar kolot. Jika aku memegang bokong mu, kamu marah dan mengadu pada Mama mu, kata nya itu pelecehan" Ghiea dan Xavier sama sama tertawa.


"Seperti nya kita punya masa remaja yang sangat indah, aku ingin sekali mengingat nya" kata Ghiea lirih. Xavier langsung menggenggam tangan Ghiea dan mengecup nya dengan kecupan kecupan kecil yang begitu mesra.


"Masa lalu mu, masa depan mu dan masa dimana kamu hidup adalah aku, Sweetheart" Ghiea tersenyum dan pipi nya merona mendengar kata kata manis suami nya itu. Sekarang Ghiea sudah tak sabar ingin memberi tahu berita kehamilan nya ini pada Xavier.


...


Nyonya Leona saat ini mendandani Ghiea supaya terlihat seperti mayat, bahkan dia sampai memanggil teman nya yang adalah seorang MUA supaya membuat Ghiea tampak seperti mayat yang mati tenggelam di sungai. Harus membuat tubuh Ghiea sedikit membiru juga.


Sementara Xavier memanggil Alan dan meminta Alan berpura pura menjadi polisi, Xavier juga mengambil surat surat yang sudah dia persiapkan selama ini. Yaitu surat pengalihan seluruh harta kekayaan keluarga Anson menjadi milik Xavier dan Ghiea.


Xavier juga menyewa seorang Dokter palsu yang akan membantu nya menjalankan misi nya ini. Ah, jangan lupa juga sahabat sahabat Ghiea harus di beri tahu. Mereka tidak perlu melakukan apa apa, hanya perlu mengeluarkan air mata buaya saat Ghiea di makam kan dan berpura pura sedih setelah kematian Ghiea.


Jadi, setelah lima jam kejadian di sungai. Mereka kembali bereaksi.


Xavier pura pura terlihat putus asa dan pasrah, ia datang ke rumah Nenek nya dan pura pura menyerah.


Saat ia hendak menandatangani surat cerai, Alan menelpon nya dan Xavier berteriak.


"TIDAK MUNGKIN!!!


"Xavier, ada apa?" tanya sang Nenek terkejut karena teriakan Xavier. Dalam hati Xavier bersorak kena kau...


"Ghiea... Ghiea di temukan tewas tenggelam di sungai" lirih Xavier berpura pura cemas dan panik. Saat Nenek nya ingin bertanya lagi, Xavier tak memberi nya kesempatan. Segera Xavier menarik Nenek nya ke dalam mobil, tak lupa Xavier menyetir seperti sedang balapan supaya totalitas akting nya, raut wajah nya masih menampilkan kecemasan dan kepanikan padahal dalam hati, ia menikmati perjalanan ini, bahkan ia teringat masa kecil nya saat bermain balap balapan dengan mobil mobilan nya. Bahkan kini hati nya bersuara layak nya mobil di jalan raya


"Ngeng.... Ngeng.... Ngeng..."


Sesampainya dirumah sakit, Alan yang sudah berpura pura menjadi polisi langsung menyambut Xavier dan membawa Xavier ke kamar mayat.


Tangan Xavier pura pura bergetar saat hendak membuka kain yang menutupi tubuh Ghiea, sementara di balik kain itu, Ghiea menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya perlahan. Berusaha tidak tertawa supaya rencana mereka tidak gagal. Saat Xavier menyentuh kain itu, Ghiea menahan nafas dan memejamkan mata nya.


"TIDAAKKKKK" Ghiea sedikit meringis dalam hati mendengar teriakan dramatis Xavier. Gendang telinga nya seperti akan pecah apa lagi Xavier berteriak di samping telinga nya.


"GHIEEAAAAAA" Xavier kembali berteriak, ingin rasa nya Ghiea bangun dan menyumpal mulut Xavier dengan kain kafan nya itu namun Ghiea tetap tenang.


"Sok dramatis" batin nya mengejek.


"Maaf, Ibu keluarga nya mayat ini?" tiba tiba seorang Dokter lelaki datang dan bertanya pada Granny Kelly.


Granny Kelly bingung harus jawab apa, sementara Xavier masih menangisi kematian Ghiea.


"Xavier..." Granny Kelly menyentuh pundak Xavier.


"Ghiea... Oh Ghiea, kenapa kamu meninggalkan ku" racau Xavier.


"Maaf, Bu. Ini sangat penting dan harus di tanda tangani oleh keluarga mayat yang sudah mati" kata Dokter itu yang membuat Xavier dan Alan harus menahan tawa nya.


"Mayat yang sudah mati? Memang ada mayat yang belum mati"


"Baik" kata Granny Kelly dan ia pun menandatangani satu lembar surat itu.


"Ada lagi, Bu. Di sini" kata Dokter itu.


"Apa lagi ini?" kata Granny Kelly "Surat yang menyatakan bahwa anda mengakui mayat memang mati karena tenggelam di sungai, Bu" kata nya. Granny Kelly menghela nafas berat, ia hendak membaca surat itu namun Alan yang menyadari itu langsung mengiterupsi.


"Mohon lakukan dengan cepat, Bu. Karena urusan ini berkaitan dengan kepolisian, ini pembunuhan" kata Alan. Granny Kelly pun menandatangani surat itu tanpa berfikir lebih banyak, kemtian Ghiea juga membuat nya shock karena ini bukan bagian dari rencana nya.


"Dan saya juga perlu tanda tangan anda, Bu" kata Alan kemudian "Yang menyatakan bahwa Anda tidak terlibat dalam konspirasi pembunuhan ini dan juga satu surat lagi yang menyatakan kalau anda menyetujui kasus ini di tangani oleh polisi"


Tentu Granny Kelly hanya bisa berfikir pendek di situasi seperti ini dan ia fokus pada kata 'tidak terlibat' sehingga ia langsung menandatan surat surat itu juga.