
Max turun dari mobil sport nya yang tadi pagi baru di kasih oleh Xavier, sebagai penunjang gaya nya agar semakin terlihat sempurna, kata nya. Sementara Ghiea dan Xavier menggunakan mobil mereka sendiri
Dan saat Max turun dari mobil nya, semua mata tertuju pada nya, baik mata lelaki maupun mata perempuan. Ghiea yang melihat itu hanya tersenyum samar, hal ini sudah ia duga pasti akan terjadi, tapi dimana wanita yang menjadi penyebab Max ingin merubah penampilan nya? Ghiea tak melihat batang hidung wanita itu...
"Sweetheart..." Xavier melingkarkan tangan nya di pinggang sang istri dengan posesif, apa lagi ada beberapa mata pria yang tertuju pad Ghiea tentu karena Ghiea juga merubah penampilannya dan terlihat lebih seksi.
"Aku antar kamu ke meja kerja mu ya..." kata Xavier dan Ghiea hanya tersenyum sambil menggumam.
Ghiea, Xavier dan Max pun melangkah bersama memasuki gedung kantor dan sepanjang perjalanan, mereka bertiga selalu menjadi pusat perhatian.
Kini ketiga nya masuk lift, namun baru saja lift tertutup, seseorang datang dan membuat lift kembali terbuka. Mata Max langsung terbelalak dan ia hampir saja menunduk malu kemudian saat orang itu juga menatap nya namun Ghiea dengan cepat menegur adik ipar nya itu.
"Max, angkat wajah mu!" tentu saja Max langsung mengangkat wajah nya dan tatapan nya kembali bertemu dengan tatapan sang wanita yang selalu mampu membuat jantung nya berdebar hebat.
"Kenapa malah diam, Di? Masuk yuk..." kata Ghiea karena ia melihat sahabat nya itu hanya diam mematung di depan lift.
"Oh, I.. Iya" kata Diana gelagapan, mata nya sejak tadi tertuju pada Max yang berubah menjadi pangeran tampan. Dan pantas saja tadi Diana mendengar bisik bisik karyawan yang membicarakan Max.
"Kamu baru datang? Tas mu mana?" tanya Ghiea setelah Diana masuk ke dalam lift dan berdiri tepat di depan Max, sedangkan Ghiea berdiri di depan Xavier dan Xavier melingkarkan kedua lengan nya di perut Ghiea serta mengaitkan dagu nya di pundak Ghiea.
"Aku sudah datang dari tadi, cuma charger ku ketinggalan di mobil" kata Diana sembari memperlihatkan charger yang di pegang nya.
"Hemmm begitu..." gumam mGhiea sembari melirik Max yang tampak senyum senyum sendiri. Lift sudah berjalan naik, dan ke empat orang itu hanya diam saja. Xavier menikmati kemesraan nya dengan Ghiea sementara Max mati matian menahan perasaan gugup nya.
Diana menatap bayangan Max dari pantulan pintu lift di depan nya, hati Diana juga berdebar kencang dan bagi nya perubahan Max ini memang membuat Max terlihat sangat tampan namun entah kenapa Diana tak suka. Diana merasa Max bukanlah max yang dia kenal seperti dulu, yang punya ciri khas dengan penampilan nya.
Ting..
Lift berhenti di lantai tempat Diana dan Ghiea bekerja.
"Tidak perlu mengantar ku sampai meja kerja, aku sama Diana saja, Honey" kata Ghiea sambil berbalik badan.
"Hem, tapi ingat jangan terlalu lelah ya" kata Xavier dan ia pun menyambar bibir Ghiea sebagai salam perpisahan, Ghiea tak menolak nya seperti yang dulu dia lakukan, justru kini ia membalas nya dengan mesra. Membuat Max dan Diana merasa kepanasan sendiri, Diana pun melangkah keluar dari lift dan Ghiea segera menyusul sambil mengelap bibir nya yang basah.
"Xavier suka sekali menggigit bibir ku, nanti lipstik ku luntur" gerutu Ghiea sambil berkaca di ponsel nya.
Sementara Xavier dan Max masih dalam lift karena ruang kerja mereka ada di lantai paling atas gedung itu.
"Kenapa kamu diam saja tadi, Bung?" tanya Xavier yang melihat adik nya tak menunjukan langkah apapun untuk mendekati sang pujaan hati.
"Entahlah, aku tidak berkutik kalau sudah berhadapan dengan Diana" kata Max yang membuat Xavier tertawa.
"Dulu aku juga sama seperti mu..." Max langsung menoleh dan menatap Xavier "Ghiea dulu lebih bar bar dari pada Diana. Ghiea itu sering merayu ku bahkan di depan guru atau pun kepala sekolah. Dia bahkan juga melamar ku di halaman sekolah dengan di saksikan semua orang yang ada di sana"
"Awal nya aku kesal karena Ghiea saat itu masih SMP sedangkan aku sudah SMA. Bayangkan saja junior membully senior nya, harga diri terasa di injak injak.. Namun lama kelamaan aku dan Ghiea semakin dekat dan aku mulai merasa gugup jika berhadapan dengan nya, dan akhir nya aku memberanikan diri meladeni Ghiea. Sampai akhir nya kami pacaran dan menikah"
"Hmm" Max mengangguk anggukan kepala nya mengerti.
...
Sementara itu, Ghiea dan Diana sudah sampai di meja kerja mereka masing masing. Sementara Melissa yang sudah lebih dulu sampai justru asyik dengan ponsel nya, namun Melissa terlihat kesal bahkan ia mengetik di ponsel nya seperti memencet tombol yang macet.
"Kenapa sih, Mel?" tanya Ghiea yang membuat Melissa terlonjak kaget, karena saking serius nya dengan ponsel nya, Melissa sampai tidak menyadari kedatangan kedua sahabat nya.
"Ini sih Aa... Ghe, gaya rambut baru?" pekik Melissa yang membuat Ghiea tersenyum dan mengangguk, sementara Diana juga baru menyadari kalau sahabat nya itu punya gaya rambut baru karena sejak tadi ia sibuk menatap Max dan memikirkan Max.
"Bagus kan?" tanya Ghiea sambil memmuatar badan nya di depan sahabat nya itu dan mengibaskan rambut nya.
"Bagus banget, Ghe...." kata Melissa kagum.
"Aku baru sadar kalau kamu punya gaya rambut baru, Ghe" kata Diana dan ia memegang ujung rambut Ghiea 'Warna nya bagus, cocok sama kulit kamu"
"Padahal tadi kita naik lift bersama" sindir Ghiea "Memang tadi perhatian mu kemana, Di?" goda nya yang tentu saja membuat Diana langsung gelagapan.
"Aku punya banyak pekerjaan, girls. Aku rasa kalian juga harus bekerja , kemarin kita sudah bolos" tukas Diana mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Ketiga wanita itu pun duduk di meja nya masing masing namun tiba tiba Ghiea merasa mual, Ghiea pun langsung bergegas ke kamar mandi dan karena khawatir, Diana dan Melissa mengikuti Ghiea.
Di kamar mandi, Ghiea memuntahkan cairan bening dari mulut nya dan kemudian ia membersihkan mulut nya dan menyiram muntahan nya itu.
"Kalau kamu mual sebaik nya kamu di rumah saja, Ghe. Istirahat..." kata Melissa sambil merapikan rambut Ghiea ke belakang.
"Iya, Ghe. Kamu juga pucat" sambung Diana.
"Nama nya hamil muda, girls..." kata Ghiea sembari mengelap mulut nya yang basah "Tapi jangan kasih tahu Xavier ya kalau aku muntah, nanti dia suruh aku di rumah terus. Bosan" rengek Ghiea.
"Padahal enak lho, suami mu itu super prhatain" kata Melissa.
"Tapi memang nya tidak bosan kalau terlalu di kekang?" tanya Diana.
"Bosan sih tidak, cuma kadang kesal. Dan justru sikap posesif Xavier itu yang membuat aku sangat mencintai nya, karena aku merasa dia sangat menginginkan ku, sangat menjaga ku, kalau pasangan kita tidak posesif, ya rasa nya pasti hambar" kata Ghiea "Nanti kalau kalian sudah punya pasangan, kalian pasti mengerti apa yang aku maksud" lanjut nya yang membuat kedua sahabat nya itu terkekeh.
Kini ketiga nya kembali ke meja kerja mereka untuk melanjutkan pekerjaan mereka seperti biasa.