My Possessive Boss Is My Husband

My Possessive Boss Is My Husband
Episode 77



"Max..."


Max yang mendengar teriakan Mommy nya mengerang kesal, ia menarik bantal dan menutup kepala nya dengan bantal.


"Max, ini sudah jam 8 lho..." terdengar suara Mommy nya yang kini lebih dekat, bahkan langkah kaki nya sudah terdengar di telinga Max, tak lama kemudian terdengar pintu yang terbuka dan Mommy nya itu tampak terkejut melihat Max yang masih bergelung dengan selimut nya.


" Max, kamu sakit, Sayang?" tanya Mommy nya yang tampak khawatir dengan kondisi Max, apa lagi sejak semalam Max terlihat lebih banyak diam dan seperti memikirkan sesuatu. Max tak menjawab pertanyaan Mommy nya, ia masih menutup kepala nya dengan bantal. Kemudian Mommy nya menarik bantal itu dan Max membiarkan nya saja, Mommy nya menempelkan punggung tangan nya di kening Max dan ia mengernyit bingung saat mendapati suhu tubuh anak nya itu seperti nya normal.


"Kamu sakit atau sehat, Max? Sudah waktunya pergi bekerja" tegas Mommy nya


"Aku tidak mau bekerja lagi, Mom. Mau pindah kantor saja" kata Max malas, ia menarik guling dan memeluk nya.


"Kenapa begitu, Max? Kamu punya saham di perusahaan Xavier, seharus nya kamu bekerja sama dengan Xavier, Max" tukas sang Mama yang seketika membuat Max langsung terduduk tegak. Ia bahkan baru teringat bahwa diri nya adalah adik Xavier dan pemilik 35% saham di perusahaan Xavier.


"Iya iya..." ujar nya kemudian, ia meraba raba kaca mata nya yang ada di atas nakas sebelum akhir nya melompat turun dari ranjang dengan kesal. Nyonya Leona yang melihat hal itu menjadi kebingungan dengan tingkah putra nya itu.


"Kamu kenapa sih, Max?" tanya Mommy nya saat Max masuk ke kamar mandi.


"Tidak apa apa" jawab Max ketus yang membuat Nyonya Leona mengernyitkan kening nya. Ia semakin bingung dengan tingkah putra bungsu nya itu.


Sekarang Max sudah ada dalam kamar mandi, ia melepaskan piyama nya dan setelah itu ia melempar piyama nya asal, kemudian Max menyalakan shower. Max meletakkan kaca mata nya di samping wastafel sebelum akhirnya ia berdiri di bawah guyuran air shower, Max mengusap wajah nya dan menyugar rambut nya yang kini sudah basah.


Sementara Nyonya Leona masuk dan duduk di atas closet, ada tirai yang menjadi pemisah dan menghalangi antara closet dan shower di kamar mandi Max.


"Kamu punya masalah, Max?" tanya Ibu nya yang masih sangat penasaran dengan tingkah Max.


"Tidak punya" jawab Max masih ketus.


"Terus kenapa kamu ketus?" tanya Mommy nya lagi.


"Tidak apa apa, Mommy" jawab Max berusaha tidak ketus, ada perasaan bersalah dalam diri nya karena ia malah berbicara ketus pada Mommy nya.


"Kamu ada masalah sama Diana ya?" tebak sang Mommy. Max terdiam, dan diam nya itu sudah memberikan jawaban pada Mommy nya.


"Gosok belakang telinga mu sama sela jari jari kaki mu, Max" tukas Ibu nya lagi.


"Hem" jawab Max, ia memang suka lupa menggosok bagian belakang telinga nya dan sela jari kaki nya.


"Jadi masalah mu dan Diana apa, Max?" tanya Mommy nya lagi.


"Masalah pribadi, Mom. Aku sudah dewasa" tukas Max yang membuat Ibu nya tercengang, namun kemudian terkekeh. Dari jawaban Max, seperti nya masalah mereka memang masalah dewasa.


..........


"Dimana bocah culun itu?"


"Kamu kenapa sih, Di?" tanya Melissa heran, karena sejak tadi Diana terus saja memasang wajah kecut nya.


"Tidak apa apa" jawab Diana ketus.


"Kamu itu seperti wanita yang habis di lecehkan, Di. Bawaan nya wajah mu itu kayak muram, kesal, kecut, pahit"


"Kamu fikir wajah ku jamu?" pekik Diana.


Ia pun melanjutkan pekerjaan nya seperti biasa, meskipun ia benar benar tidak fokus karena terus memikirkan Max.


Sementara itu, para karyawan juga berbisik bisik manja membicarakan Max yang ternyata adik Xavier. Apa lagi Xavier tidak menjelaskan bahwa Max adik tiri nya, Xavier hanya mengumumkan bahwa Max adik nya sehingga mereka fikir Max saudara kandung Xavier. Para cewek cewek mulai men stalking akun media sosial Max dan menggosipkan nya.


"Sebenarnya dia tampan ya.." kata salah satu karyawan wanita.


"Iya sih, justru penampilan nya yang seperti orang culun itu sebenarnya membuat dia terlihat kharismatik" sambung wanita yang lain nya.


"Tubuh nya tinggi ya, kalau di lihat lihat dia mirip Pak Xavier ya" yang lain menimpali dan masih banyak yang mereka bicarakan Max. Sementara para karyawan pria kini ada yang tampak iri pada Max, ada juga yang malu karena pernah memandang remeh Max, namun ada juga yang tak perduli.


Sementara itu, Max pergi ke kantor seperti biasa. Ia juga duduk di meja kerja nya seperti biasa, dan sejak saat ia masuk tadi, ia sudah menjadi pusat perhatian senja orang, Max berusaha mengabaikan tatapan dan bisikan bisikan yang di dengar nya. Sementara Diana, wanita itu menatap tajam Max seperti seekor elang yang menemukan anak ikan di permukaan laut dan hendak di lahap nya.


"Permisi, Sir..." tiba tiba seorang wanita berambut pirang datang menghampiri Max, wanita itu memakai blouse warna merah menyala dan rok sebatas paha nya berwarna putih, kaki jenjang nya terlihat indah dengan high heels warna putih yang membalut kedua kaki nya.


"Ya?" respon Max.


"Sir, perkenalkan nama saya Selena" wanita bernama Selena itu mengulurkan tangan nya dan Max tentu langsung menyambut nya dengan tenang, tanpa Max sadari, Diana menatap nya seolah ingin memakan Max saat ini juga. Apa lagi melihat Selena yang cantik dan berwajah bule dan seksi itu, ada percikan api cemburu di hati nya.


"Sir, saya sekretaris anda dan ruangan Anda sudah kami siapkan" ujar Selena kemudian yang membuat Max mengernyitkan kening nya bingung.


"Sekretaris? Ruangan?" tanya nya.


"Iya, Sir. Ini perintah Mr. Alexavier" ujar Selena lagi.


Max terdiam sejenak, seperti nya ini memang bagian dari rencana Xavier. Dan mengingat siapa diri nya sekarang, Max pun tak masalah dengan hal itu.


"Baiklah, ayo..." seru Max. Ia dan Selena pun meninggalkan ruangan para karyawan itu, tak ayal hal itu membuat Diana semakin kesal.


"Dasar buaya..." desis Diana "Sepertinya mangsa nya memang wanita berambut pirang"


Sementara itu, Max di berikan ruangan yang ada di sebelah ruangan Xavier, ruangan itu juga besar dengan dinding jendela dari kaca.


Selena mempersilahkan Max duduk di kursi nya, menjelaskan apa yang harus Max lakukan sesuai perintah Xavier.