My Possessive Boss Is My Husband

My Possessive Boss Is My Husband
BonChap - MaxDi



Pernikahan adalah sesuatu yang sangat di impikan oleh sepasang kekasih yang saling mencintai, dan mereka siap membangun rumah tangga dengan pasangan yang karakter nya sangat jauh berbeda dari diri nya atau bahkan bertolak belakang. Namun cinta membuat mereka yakin bahwa mereka bisa menjalin hubungan dalam perbedaan itu, sehingga mereka berani memutuskan sesuatu yang sangat sakral.


Seperti yang di lakukan Max dan Diana. Siapa yang sangka kedua manusia dengan karakter yang bertolak belakang itu Ternyata bisa menyatu dalam urusan hati. Diana sang pembully dan Max yang di bully, bagaimana bisa ada kisah cinta di antara pelaku dan korban?


Cinta, memang akan selalu menjadi sesuatu yang tidak akan pernah memiliki jawaban.


Dan malam ini, setelah satu bulan melakukan persiapan, akhir nya kedua nya sah menjadi pasangan suami istri, yang siap menemani dalam segala keadaan, berjanji akan saling menjaga satu sama lain dan berjanji akan setia hingga maut memisahkan.


Resepsi pernikahan mereka pun di gelar dengan sangat mewah, apa lagi ada dua pengantin yang dalam satu resepsi itu.


"Ck, seharusnya aku duluan" gerutu Alan yang tampak sangat iri melihat Diana dan Max, Ghiea dan Xavier yang sedang berdiri di pelaminan bak raja dan ratu.


"Ya gantian dong, Alan. Kan Diana duluan yang merencanakan pernikahan, masak iya aku dahului" jawab Melissa sembari mencoba menarik tangan nya yang sejak tadi di genggam erat oleh Alan.


"Ya kenapa kita tidak gabung saja menikah nya sama mereka? Biar sekalian ramai" gerutu Alan sembari semakin mengeratkan tangan nya yang menggenggam tangan Melissa.


"Ya nanti tidak ada bridesmaid nya" jawab Melissa.


"Tidak usah pakai bridesmaid, yang penting sah kan?" ucap Alan "Kamu kenapa sih tarik tangan mu terus?"


"Ya dari tadi kamu genggam terus"


"Biar kamu tidak di lirik pria lain, kalau aku genggam tangan mu begini kan mereka jadi tahu kalau kamu milik aku"


"Ish, cowok ini..."


Berbeda dengan Melissa dan Alan yang masih sempat berdebat, Max dan Diana justru tampak sangat bahagia.


Namun di tengah kebahagiaan nya itu, Max terlihat cemas sembari melirik gaun pengantin Diana yang ternyata belakang nya memakai kancing kancing kecil.


"Bagaiamana cara bukanya nanti ya? kalau kancing begitu kan susah" pertanyaan itu sejak tadi terus terngiang dalam benak Max.


"Kenapa, Baby?" tanya Diana karena ia menangkap kecemasan di mata Max.


"Gaun mu..." Max berbisik di telinga Diana, membuat Diana meremang saat merasakan nafas hangat Max.


"Kenapa dengan gaun ku?" tanya Diana juga berbisik.


"seharus nya tidak pakai kancing, biar nanti gampang buka nya" bisik Max lagi yang hampir saja membuat Diana tertawa namun ia segera menahan nya.


"Ini hanya kancing, Baby. Bukan di lem, masih bisa di buka" Diana juga berbisik.


"Aku capek berdiri terus, kapan selesai nya ini?" rengek Max lagi.


"Capek berdiri atau memang itu nya sudah berdiri, hm?" goda Diana sembari menarik turunkan alis nya, membuat wajah Max bersemu merah.


"Kalian kenapa mesem mesem begitu? Sudah seperti pengantin baru saja" tukas Xavier yang membuat Ghiea terkekeh.


"Mereka kan memang pengantin baru, Honey. Justru kita yang sudah pengantin lama, sudah ada baby lagi di perut ku" tukas Ghiea.


"Tahu, kalau iri bilang saja" sambung Max. Xavier pun mendekati Max dan berbisik di telinga nya.


"Aku yakin kamu yang iri sama aku, karena aku bisa membuat Ghiea berteriak horor. Kamu bisa tidak membuat Diana begitu?" Max langsung menatap Max sambil meringis.


"Aku tidak akan menyakiti Diana apa lagi sampai membuat Diana berteriak horor begitu" jawab Max yang membuat Xavier langsung tergelak.


Adiknya ini memang sangat polos, tidak heran, Mommy nya selalu menjaga pergaulan Max sejak kecil, mengawasi semua aktifitas Max dan benar benar tidak memberikan Max celah untuk mengenal dunia dimana para pemuda sudah mengenal nya bahkan sudah menikmati nya.


Tawa Xavier rupa nya menyita beberapa tamu, termasuk Mommy nya yang langsung melemparkan tatapan penuh tanda tanya pada Xavier, namun Xavier hanya menggelengkan kepala dan langsung menghentikan tawa nya. Sementara Ghiea dan Diana yang tadi mendengar ucapan Max hanya bisa mengulum senyum samar.


Pesta pun kembali berlanjut, semua tamu yang hadir menikmati hidangan yang di sajikan, melakukan sesi pemotretan bersama para pengantin dan juga tentu ada sesi berdansa.


Dan saat acara selesai, Max dan Diana pun langsung pergi ke kamar pengantin mereka.


Diana memegang jantung nya yang berdebar kencang karena malam ini ia akan melakukan penyatuan cinta dengan Max. Sama hal nya yang di rasakan Max, jantung nya sungguh berdebar membuat Max panas dingin.


"Baby, mau mandi dulu?" tanya Diana berusaha mencairkan suasana yang entah mengapa membuat nya seperti orang yang akan demam.


"Iya, biar segar" jawab Max "Kita mau mandi bersama?" tanya Max malu malu "Dulu kamu bilang, kalau sudah menikah kita bisa mandi bersama" lanjut Max yang membuat Diana semakin tergelitik akan hasrat.


"Em baik lah" jawab Diana kemudian "Tapi, aku tidak bisa membuka gaun ini sendiri, Baby" lirih Diana yang entah mengapa terdengar seperti undangan yang menggelitik hasrat nya.


"Bi_bisa, Baby" jawab Max gugup. Ia pun berdiri di belakang Diana, tangan nya gemetar saat ia menyentuh kancing gaun istri nya itu.


"Jantung ku seperti mau meledak, jangan sampai aku pingsan di malam pernikahan ku" teriak Diana dalam hati.


Max mulai membuka satu persatu kancing gaun Diana dengan susah payah, dan Diana meringis lirih saat tangan Max entah sengaja atau tidak menyentuh kulit punggung nya. Sementara Max, ia merasa pusing saat melihat punggung mulus istri nya yang seolah memanggil nya untuk di sentuh.


"Baby, aku rasa..." Max berkata dengan suara berat nya, bahkan nafas nya sudah memburu dengan dada yang sudah naik turun "Kita tidak perlu mandi, dan robek saja gaun mu ya"


.........


......Hai, kalian suka cerita ini?......


...Jangan lupa tap ❀️, kemudian tekan like, tinggalkan comments, dan aku sangat mengharapkan gift serta vote dari kalian ☺️....


...Jangan lupa juga follow SkySal supaya tidak ketinggalan Novel menarik lain nya....


...Aku tunggu jejak nya di setiap episode ya, thank you and I love you, all. 😘...


Episode ini masih berlanjut, tunggu episode selanjutnya yang pasti engga kalah seru nya ya... 😘


Judul: Genius Bride Duda Depresi


Penulis: Ridz


Sinopsis:


*Apel menolak berhubungan badan dengan tunangannya sehingga hubungannya harus kandas ditengah jalan, ditengah keterpurukan dan titik terendahnya Apel bertemu dengan sosok Andro.


Seorang Genius Pengacara yang ternyata malah merebut kehormatannya dan menghancurkan dirinya lebih dalam saat Apel berada dititik terendahnya.


Karena dendam dan mengetahui bahwa Andro adalah sosok anak dari Ayah Tiri Apel yang sudah menghancurkan Ibu Apel, akhirnya Apel membuka identitas rahasianya sebagai Boss dari Andro, dan menjebak Andro dalam belenggu pernikahan neraka.


Namun siapa sangka, pernikahan itu harus berakhir perceraian karena Apel gagal mengontrol perasaannya sehingga membuat mereka kembali ke kehidupan masing-masing.


Andro kembali menata hidupnya dan dia merasa kehilangan pijakan hidupnya sementara Apel malah harus menanggung sendiri kenyataan bahwa dirinya hamil setelah perceraian itu*.


Cuplikan BAB:


"*Astaga! Apa yang terjadi!?"


Teriakan Apel didalam kamar hotel itu terdengar kencang namun tidak dapat membangunkan Andro dari mimpi indahnya.


Apel membuka matanya saat bias cahaya matahari yang merasuk masuk melalui sela-sela horden jendela kamar hotel tersebut menerpa wajahnya, awalnya dia tidak mengingat apapun sebelum ia menyadari bahwa ia tengah tertidur dalam kondisi telanjang bersama seorang pria yang jauh lebih tua dari nya di kamar hotel tersebut.


Apel menarik selimut untuk menutupi dirinya sebelum rasa ngilu yang berasal dari lobang sensitifnya membuat pikirannya terbang kemana-mana.


"Darah?"


Apel menatap segumpal tissu putih yang berbercak darah membuat pikirannya kembali terbang kemana-mana, air matanya perlahan menetes saat ia menyimpulkan kejadian semalam dengan hasil analisis-nya.


"Tidak! Ini tidak boleh terjadi," Apel bangkit dan mengusap air matanya.


Ia melihat pakaiannya tercecer dan segera memakai pakaian tersebut, setelah berpikir cukup lama ia sadar betul bahwa dirinya telah dilecehkan oleh pria yang memberinya tumpangan.


Mungkin tadi malam dia berada dalam titik terendah dari hidupnya, namun tidak pagi ini, dihancurkan oleh seorang pria berstatus tunangannya kemarin sudah sangat buruk, dan kali ini dia pastikan dirinya tidak akan diam.


"Harusnya kuberikan saja kepada Evan semalam, ini benar-benar tidak bisa dimaafkan, dia mencoba bermain-main denganku, dia belum tahu siapa diriku," monolog Apel berjalan ke celana Andro yang tercecer juga.


Ia mengangkat celana tersebut dan mengambil dompet milik Andro, ia mencari kartu pengenal dari sosok yang menodainya itu.


Berada dalam Titik terendah itu menyakitkan namun terpuruk bukanlah pilihan, setidaknya begitulah prinsip Apel sekarang.


Apel yang sudah mendapatkan kartu pengenal milik Android segera memasukkan benda tersebut kedalam tas-nya dan sekarang tinggal menyelesaikan sisa-nya.


Plak!


Sebuah tamparan dari Apel di wajah Android membuat pria berdarah Amerika-Prancis ini bangkit saat Apel memberikan tamparan diwajahnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Andro kesal saat melihat Apel berdiri melipat kedua tangannya.


"Pakai pakaianmu, Tuan Pengacara, kau tidak malu dalam kondisi telanjang begitu?" Apel melemparkan pakaian Andro ke Andro sendiri.


Andro menatap gadis yang baru saja dia nikmati tadi malam itu sembari memakai bokser, celana dan kemejanya.


"Rupanya kau sudah bangun, bagaimana rasanya semalam?" tanya Andro mengancing tiga kancing atas kemejanya.


Apel membuang muka dia menarik kerah Andro dan menatap tajam pria yang hampir berusia empat puluh tahun itu.


"Aku tidak ingin bertele-tele, Nikahi aku," ujar Apel yang membuat Andro mendorong tubuh Apel menjauh darinya.


"Tidak akan," jawab Andro mengambil kacamata dari atas nakas.


"Kalau aku memaksa, kau bisa apa Tuan? Kau sudah merebut apa yang berharga dari diriku yang sudah ku pertahankan dan itu tidak gratis," ujar Apel menggerai rambutnya dan menodong Andro dengan tatapan tajam.


"Kalau kau memaksa, aku akan menyebarkan video kita semalam dan tenang saja yang terlihat jelas disana hanya wajahmu," jawab Andro melirik handycam diatas meja tepat didepan ranjang.


Apel menggelengkan kepalanya dan berjalan ke arah meja handycam tersebut kemudian melemparkannya ke lantai.


"Handycam, ini, mati bodoh, jika kau punya rencana sebaiknya kau siapkan baik-baik, lagi pula tidak Ada memori didalam handycammu, itu," ujar Apel yang membuat Andro menelan ludahnya. "Kau salah bermain-main denganku, Tuan,"


Andro terdiam, dia benar-benar salah lawan, Apel bukanlah wanita sembarangan, Andro memutar kepala agar tidak terjebak dalam situasi ini.


"Aku tidak mau, aku membenci pernikahan, aku lebih suka bermain satu malam, dan aku tidak akan bertanggung jawab," ujar Andro mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar dollar kepada Apel.


Apel yang melihat itu mengambil tas-nya dan merogoh isinya. "Uangmu banyak, tapi orang kaya tidak hanya dirimu,"


Apel melemparkan uangnya kepada Android yang membuat Andro berpikir keras bahwa Apel akan benar-benar meminta pertanggungjawaban dari nya.


"Dengarkan aku! Aku tidak akan bertanggungjawab!" kesal Andro berjalan keluar dari kamar hotel tersebut meninggalkan Apel yang masih berdiri di dalamnya.


Apel terdiam dan mengeluarkan kartu pengenal Andro, ia membaca kartu tersebut dan menyeringai sinis. "Kau Singa sudah masuk ke perangkap tikus, bagaimana kalau aku yang menjebakmu dalam belenggu pernikahan?"


"Baris baru balas dendam ku, Tuan Andromeda," lanjut Apel sinis.


β€’


TBC*