
Xavier, Ghiea, Melissa dan Alan berjalan beriringan keluar dari ruangan Xavier untuk mencari Max dan Diana. Hal itu pun menjadi perhatian para karyawan di sana, apa lagi raut wajah Xavier yang terlihat sangat marah.
"Xavier..." seru Alan mencoba menghentikan langkah Xavier yang masih mencari Max.
"Xavier, mereka hanya ciuman. Kenapa kamu marah?" tanya Alan yang membuat Xavier langsung menghentikan langkah nya.
"Mereka berciuman?" tanya Xavier mengulang ucapan Alan dan Alan mengangguk begitu saja. Yah, tadi Alan hanya mengatakan kalau Max dan Diana membicarakan tentang pelecehan dan itu hanya setengah kebenaran, karena Alan belum memberi tahu bahwa mereka berciuman juga.
"Sialan" geram Xavier "Diana pasti merayu Max sampai mereka ciuman, dia menodai adik ku" Alan tentu langsung melongo mendengar hal itu, karena dia melihat dengan mata kepala nya sendiria, Max lah yang pertama kali menarik bibir Diana dan melahap nya..
"Hey..." seru Ghiea yang mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Xavier tentang sahabat nya "Diana bukan orang seperti itu, Honey. Jangan asal tuduh pada sahabat ku" pekik Ghiea tak terima.
"Tapi kamu kan tahu sendiri Max seperti apa, Sweetheart. Tidak mungkin dia melecehkan Diana, dan jika sampai mereka berciuman, itu pasti karena Diana yang mulai" kata Xavier, apa lagi selama ia mengawasi Ghiea, secara tidak langsung ia juga mengawasi kedua sahabat nya dan Xavier melihat beberapa kali Diana sering mengganggu Max, menggoda nya bahkan mengatakan ingin mencium Max.
"Honey, jangan menilai buku dari sampul nya saja, kata pepatah itu kan?"
"Aku tahu, Sweetheart. Tapi..."
"Tunggu tunggu...." Alan menengahi perdebatan suami istri itu yang seperti nya sudah salah faham "Di sini seperti nya kalian salah faham" ujar nya.
"Salah faham bagaimana?" tanya Melissa yang masih memendam amarah pada Alan "Jangan jangan ini cuma akal akalan kamu ya, untuk mengalihkan perhatian kita dari kasus mu" tuduh Melissa.
"Tunggu..." kata Melissa setelah ia menyadari sesuatu "Nama ku Melissa, bukan gula. Jadi berhenti memanggil ku Sugar, mr. Pervert!!!" tegas nya.
"Tapi kan kamu memang manis, seperti gula..." sanggah Alan.
"Dasar gombal" desis Melissa.
"Lebih baik sekarang kita cari Max dan Diana..." seru Ghiea sebelum perdebatan berlanjut lebih lama "Biar kita kita bisa mengadili Max dan Alan secara bersamaan" tukas nya.
"Ayo, Honey..." Ghiea merangkul lengan Xavier dan kembali melangkah, Max tidak ada ruangan nya, jadi sekarang mereka mencari Diana ke meja kerja nya.
Dan benar saja, Diana ada meja kerja nya dan sedang sibuk dengan pekerjaan nya. Lebih tepat nya, berusaha menyibukkan diri, jari jari Diana menari lincah di atas keyboard, dan sesekali tangan nya terangkat untuk menghapus bulir bening yang meluncur dari sudut mata nya.
Diana terus terngiang ngiang dengan perkataan Max di kamar mandi, Diana merasa malu namun ia juga tahu apa yang di katakan Max benar. Itu bukan pelecehan karena Diana memang menyukai saat Max mencium nya, apa lagi kalau ciuman Max itu begitu ringan dan lembut. Membuat Diana merasa itu lah Max yang sebenarnya, tapi ciuman nya yang menggebu dan menuntut juga Diana suka. Air mata kembali mengalir begitu saja di pipi nya, dan saat Diana hendak menghapus air mata nya tiba tiba tangan Ghiea memegang pundak nya dan membuat Diana menoleh.
"Di, kamu menangis???" pekik Ghiea yang melihat Diana berderai air mata. Diana hanya diam, namun bibir nya sudah mencebik dan hidung nya sudah kembang kempis.
"Di, kamu kenapa, Sayang?" tanya Melissa. Diana berdiri dan kedua sahabat nya langsung memeluk nya. Dan tiba tiba tangis Diana pecah.
"HUAAAAA AAA AAA"