My Dave

My Dave
Kakak bahagia



Keisya dan Jasson berbincang di ruang keluarga sambil menikmati camilan yang disuguhkan oleh pak Mo.


“Kak ceritakan padaku bagaimana kakak bisa menikah dengan Tuan Dave?” Tanya Jasson penasaran.


Keisya mulai menceritakan awal


mula ia bertemu Dave hingga akhirnya menikah. Jasson sangat tertarik dengan cerita kakaknya. “Apa kakak mencintanya?”


“Tentu saja, aku sangat mencintainya. Aku bahkan mengandung anaknya.” Jawab Keisya dengan berseri-seri.


“Aku bahagia jika kakak bahagia!” Seru Jasson tulus. “Bagaimana kabar ayah dan ibu?”


“Sangat baik. Pergilah mengunjunginya, aku yakin ayah dan ibu Merindukanmu.” Ujar Keisya. Tidak mungkin ayah dan ibu tidak merindukan Jasson. Saat James dan Juan mengunjungi mereka, hal pertama yang mereka tanyakan adalah Jasson.


“Aku akan mengunjungi mereka dalam waktu dekat. Apa kakak bisa menemaniku?” Pinta Jasson.


“Aku akan meminta izin kakak iparmu dulu, jika dia mengizinkan, aku akan pergi denganmu.” Balas Keisya. Semenjak penculikan terakhir Dave memang sangat ketat dan membatasi Keisya. Dave tidak mengizinkan Keisya keluar tanpa dirinya atau pengawalan yang ketat.


“Baiklah, kak.”


Suara kegaduhan mengganggu obrolan Keisya dan Jasson. Meskipun Keisya tau siapa pembuat kegaduhan di rumahnya jika bukan Manda dan Sasya atau si kembar. Hanya keempat bocah itu yang berani membuat ribut dirumahnya.


“Kakak, kami pulang.” Teriak Manda dan Sasya diikuti James dan Juan.


“Ada tamu, sepetinya lelaki tampan.” Sasya berbisik pada Manda saat melihat seorang laki-laki duduk dihadapan Keisya. Laki-lali itu memunggungi mereka, jadi Manda and the genk tidak bisa melihat wajahnya.


“Kenapa?Jika tampan apa kau akan berpaling dari Juan?” Balas Manda dengan baiiskan juga.


“Hei.. Mana mungkin dia lebih tampan dari Juan, My price is Juan. Tidak ada seorangpun yang bisa menggeser posisi Juan di hatiku.” Sasya kembali berbisik pada Manda tapi masih bisa terdengar oleh Juan yang berdiri di belakang mereka.


“Uhuukk.. Apa kalian sudah berbisik-bisik nya?” Sindir Juan.


Manda dan Sasya malah menoleh pada Juan dan memberikan tatapan melotot padanya.


“Sudah-sudah, kalian selalu saja ribut. Kalian pikir rumah kakak taman bermain?” Gerutu Keisya. “Kesini kalian, kakak akan mengenalkan kalian pada tamu kakak.” Keisya melambai pada keempat pembuat onar di rumahnya.


Manda and the genk pun mendekat. Tapi sang tamu malah berdiri dan berbalik menghadap keempat orang yang baru berjalan menghampiri Keisya.


Pyar..


Manda menjatuhkan ponsel yang tadi ia genggam begitu melihat siapa tamu Keisya. Meskipun bertahun-tahun tidak ketemu, Manda bisa mengenali dengan jelas siapa lelaki yang kini bediri di hadapanya.


“Kakak!” Teriak Juan dan James. Kedua bocah itu langsung menghambur Jasson dan memeluknya.


“Bagaimana kabar kalian?” Jasson membalas pelukan dua adik kembarnya.


Berbeda dengan Manda, ia masih berdiri mematung di tempatnya. Ada perasaan lega dan jengkel di dalam diri Manda. Manda merasa lega bisa melihat Jasson kembali, tapi ia masih sangat jengkel dengan sikap Jasson yang meninggalkannya tanpa pamit.


Keisya dan Sasya hanya menjadi penonton.


James dan Juan sudah melepaskan Jasson. Kini mereka bertiga menatap Manda yang masih mematung. Tanpa rasa berpisah Jasson tersenyum manis pada Manda.


Jasson mengangkat tanganya hendak meraih tangan Manda. “Manda apa-.”


Jasson tidak sempat melanjutkan perkataannya karena Manda lebih dulu berlari meninggalkan ruang keluarga.


.


.


.


Bersambung..


Selamat hari raya Idul Adha teman-teman..