
Bahagia? Tentu saja Manda bahagia, seberapa dia membenci Jasson, lelaki itu tetaplah pemilik hatinya.
Sasya menasihati Manda panjang lebar hingga keduanya ketiduran. Tidak menyangka Sasya menjadi perempuan yang bijak setelah dirinya menjadi dokter.
“Mereka tidur, paman.” Lapor Boy pada Jasson. Beberapa menit yang lalu Jasson menyuruh Boy untuk mengecek Sasya dan Manda.
Jasson geleng-geleng kepala, bisa-bisanya Manda dan Sasya ketiduran. “Biarkan saja mereka, ayo kita juga tidur, Boy!” Ajaknya pada Boy yang diangguki bocah kecil itu dan langsung meraih uluran tangan Jasson pergi ke kamar tamu untuk beristirahat.
**
“Pagi..” sapa Jasson sambil nyengir tanpa dosa. Lelaki itu baru saja bangun dan membersihkan dirinya lalu menyusul yang lainnya di ruang makan.
Manda yang sibuk membuat susu menoleh sekilas dan bersikap sinis pada Jasson. “Kenapa kau masih disini? Apakah seorang Presdir sepertimu tidak mempunyai rumah sampai-sampai harus menumpang tidur di apartemen orang lain?” Sindir Manda pada Jasson. Yang disindir nya pun cuek tanpa dosa.
“Jangan dengarkan Manda, Jasson. Karena hati dan ucapan seseorang itu kadang beda.” Sahut Sasya sambil meletakan roti tawar di meja pantry. Manda melotot kesal pada Sasya yang tidak membelanya malah mendukung Jasson.
“Yah , sudah ku duga Sya. Seseorang yang sedang merindu sering kali bersikap sinis.” Menarik bangku dan duduk disana.
“Lebih baik kau segera pergi.” Meletakan segelas susu di hadapan Jasson. Jasson tersenyum manis, “Terimakasih sweetie.” Ucap Jasson menyeruput susu putih hangat buatan Manda.
“Hoek..” Sasya merasa mual dengan sikap Jasson yang dianggapnya Lebay, “sweetie, tidak kan panggilan itu terlalu berlebihan?”
“Tidak Sya. Itu panggilan yang tepat untuk Amanda ku tersayang.”
“Hentikan omong kosong mu, makan dan pergilah!” Usir Manda semakin kesal pada Jasson yang terus-terusan menggoda dirinya.
“Dimana Boy?” Jasson mengalihkan pembicaraan karena tidak mau Manda mengusirnya lagi. Ia celingukan mencari sosok keponakan tampannya.
“Masih tidur.” Jawab Sasya.
“Hah? Kenapa tidak di bangunkan, anak laki-laki harus bangun pagi.” Jasson mendorong kursi nya dan berdiri lalu melangkah menuju kamar Manda. Dini hari tadi Boy meminta tidur dengan Manda, Jasson terpaksa mengantarkan Boy untuk tidur bersama Manda dan Sasya.
Jasson kembali ke ruang makan dengan menggendong Boy yang sudah mandi pagi namun masih terlihat mengantuk. Sepertinya Jasson memaksa Boy untuk bangun. Sampi di ruang makan Boy meminta Jasson menurunkannya. Bocah itu berlari kerah Manda dan naik ke pangkuan Manda.
“Wanginya keponakan tampan bibi.” Menciumi Boy dengan gemas.
“Aku masih mengantuk bibi.” Protes Boy.
“Anak laki-laki harus bangun pagi Boy, agar terbiasa saat dewasa.” Kata Jasson kembali duduk di kursinya.
“Boy masih terlalu kecil, Jasson. Tidak apa-apa bangun siang.” Sasya ikut menimbrung dalam obrolan.
“Justru karena masih kecil harus dibiasakan, Sya.” Jasson mendebat ucapan Sasya. Sementara Boy menatap Manda meminta pembelaan. Manda mengusap rambut kepala Boy dengan lembut.
“Sudah-sudah, kenapa kalian ribut. Cepat makan!” Hanya Manda yang bisa menghentikan Jasson. Nyatanya lelaki itu langsung diam dan melanjutkan sarapannya.
Semua orang pergi ke aktivitas masing-masing setelah sarapan. Sasya pergi ke rumah sakit, Manda pergi ke butik bersama Boy sementara Jasson pergi ke kantornya.
“Harry!” Panggil Jasson pada Harry sang asisten serba bisa.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
“Pesankan tiket di taman hiburan untuk 3 orang.” Jasson berniat mengajak Manda dan Boy pergi ke taman hiburan.
“Baik, tuan. Apakah perlu saya booking seluruh taman hiburan?”
Jasson melambaikan tangannya, “Tidak, aku akan mengajaknya berkencan seperti rakyat biasa.”
“Baik, Tuan.”
Berkencan ala rakyat biasa yang dimaksud Jasson adalah berbaur dengan pasangan-pasangan lain. Berada di keramaian tanpa reservasi baik tempat makan maupun tempat kencan.
**
“Apa kau tidak memiliki pekerjaan? Apakah seorang Presdir sesenggang itu?” Niatnya Manda ingin Jasson pergi tidak disangka Jasson menjawab dengan telak.
“Perusahaan itu sudah resmi milikku, aku bisa cuti kapanpun aku mau. Lagi pula Harry berada di kantor menggantikankku.” Jawabnya santai.
“Bibi, apa bibi masih lama? Boy ingin pergi ke taman hiburan, paman Jasson sudah menyiapkan tiketnya.” Cicit Boy sambil memperlihatkan tiga tiket masuk taman bermain. Jasson pun mengangguki nya.
“Hah.” Manda menghela nafas panjang. Lirikan matanya menajam pada Jasson yang tersenyum manis memandangnya.
“Baiklah, ayo kita pergi!” Manda merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja kerjanya dan menatanya rapi.
“Horeee.” Teriak Boy girang. “Ayo paman!” Menarik-narik ujung jas Jasson. Lelaki itu berdiri hendak mengikuti Boy namun di tahan oleh Manda.
“Tunggu!” Jasson menoleh. “Buka jas mu!” Perintah Manda pada Jasson.
“Disini?Sekarang?Tapi ada Boy.”
Manda geleng-geleng kepala, “Memang apa yang sedang kau pikirkan?Dasar mesum.” Sambil menepuk keras bahu Jasson.
“Kau memintaku membuka jas ‘kan?”
“Ya, aku memang memintamu membuka jas mu. Tapi kau berfikiran mesum. Kau yakin mau pergi ke taman hiburan dengan pakaian seperti ini? Kita mau ke taman hiburan bukan mau bertemu klien.” Manda menunjuk penampilan Jasson dari ujung kepala sampai kaki. Lelaki itu masih mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi dan sepatu pantofel.
Jasson sendiri menunduk dan memeriksa penampilannya. “Apa yang salah dengan penampilanku? Aku terlihat tampan dan keren.” Kata Jasson bingung.
“Tapi, kau terlalu formal. Tidak cocok denganku dan Boy. Bisa-bisa orang mengira kau Bodyguard kami.” Boy setuju dengan apa yang Manda ucapkan. Bocah lelaki itu menganggukan kepalanya.
Jasson memandang Manda dan Boy secara bergantian. Manda mengenakan dress pastel berwarna Cream sementara Boy mengenakan celana Chinos berwarna Cream dan kaos putih serta sepatu kets putih yang sama dengan Manda.
“Kalian benar.” Jasson mengambil ponselnya dari saku dan menekan angka berniat menghubungi seseorang.
“Apa kau akan merepotkan Harry lagi? Bukankah Harry sedang menggantikanmu mengurus perusahaan?” Tanya Manda.
“Menyela pekerjaanya sebentar bukan masalah.” Jawab Jasson sambil mendekatkan benda pipih bernama ponsel itu ke daun telinganya. Manda meraih ponsel Jasson dan menekan tombol merah end untuk mengakhiri panggilan telepon.
“Kenapa kau matikan?”
“Tidak bisakah kau mengurus dirimu sendiri? Harry memiliki pekerjaan yang lebih penting.”
“Aku lebih tau pekerjaan Harry penting atau tidak.” Kekeuh Jasson meminta ponselnya dari Manda. Manda memberikan ponsel itu pada Jasson.
“Ya kau lebih tau karena kau bos nya. Bos yang manja.” Cebik Manda melewati Jasson menuju ruang sebelah.
“Manja katanya, dia tidak tau seberapa gentelman seorang Jasson!” Puji Jasson pada dirinya sambil memainkan kerah kemejanya.
“Pakai ini!” Manda kembali dengan membawa paperbag berisi kaos dan celana Cream. Jasson menerimanya, “baju siapa ini?”
“Mau pakai atau tidak?” Malas menjawab pertanyaan tidak penting dari Jasson.
“Iya-iya, aku pakai.”
.
.
.