
“Apa hanya ini yang bisa kalian kerjakan?” Jasson murka dan melemparkan lambaran kertas yang sudah di jilid. Di ketahui itu adalah laporan rencana proyek baru perusahaan Jasson. Lelaki itu tidak merasa puas akan apa yang di kerjakan oleh bawahannya.
Salah satu karyawan dari tim desain menjawab, “Maaf, Tuan. Kami sudah berusaha,” ucapnya ragu. Jasson terseyum mengintimidasi lewat sorot matanya yang tajam menatap karyawan ini, “Berusaha?Jika sudah berusaha hasil pekerjaan kalian tidak akan sekacau ini!” dalam dunia bisnis Jasson hanya mengenal satu kata “Sempurna”.
Baik dari perencanaan, proses, maupun hasil. “Jika hasil seperti ini sudah kalian anggap sempurna lebih baik ajukan pengunduran diri kalian.” Mendengar ancaman tersebut para karyawan menunduk lemas, mereka tidak bisa mengundurkan diri. Mereka mempunya keluarga yang harus di beri nafkah.
“Maaf, Tuan. Kami akan lakukan revisi secepatnya.” Salah satu dari karyawan yang lainnya menjawab.
“Sore ini. Saya mau hasil revisi sudah berada di meja saya sore ini.” Tegas Jasson tidak menerima bantahan.
“Baik, Tuan,”
Jasson meninggalkan ruang rapat dan kembali ke ruang kantornya.
“Huh..” beberapa karyawan menghela nafas lega akan berakhirnya rapat hari ini, “tadi sangat menyeramkan,” gumam salah seorang karyawan.
“tidak juga, bukankan tuan Jasson terlihat sangat keren tadi.” Puji seseorang yang terus memperhatikan Jasson dari awal hingga berakhirnya rapat. Mungkin bisa di katakan dia adalah orang yang tidak waras dari semua karyawan yang hadir rapat.
“Kau memang gila, Bella.” Karyawan yang lain geleng-geleng kepala.
Aku memang sudah gila, karenanya. Batin Bella terseyum tipis.
**
Diruangan kantornya, Jasson langsung mengaktifkan ponsel yang sempat ia nonaktifkan saat rapat berlangsung. Lelaki itu berharap ada notif panggilan ataupun pesan masuk dari perempuan yang masih tidur pulas saat dirinya berangkat bekerja. Namun, harapan hanyalah harapan. Lagi-lagi Jasson harus menahan rasa kecewa karena
tidak ada satupun notif pesan maupun panggilan masuk dari perempuan itu.
“Apakah dia belum bangun?”
Jasson berpikir secara positif, mungkin Manda belum bangun jadi perempuan itu belum mengirimi pesan singkat pada Jasson. Tapi !!Apakah orang yang belum terbangun dari tidurnya bisa membuat moment story di media sosialnya? Saat memeriksa akun media social dari Manda, Jasson bisa melihat dengan jelas perempuan yang
dianggapnya masih terlelap itu mengunggah foto satu jam yang lalu dengan caption “Welcome back, Manda,” latar dalam foto yang diunggah Manda adalah view dari balkom kamar tamu apartemen Jasson.
“Apa dia tidak membaca pesanku?” Jasson ingat sebelum berangkat bekerja, ia meninggalkan memo di kertas yang ia letakkan di nakas, tepatnya di sebelah gelas susu yang dia siapkan untuk Manda pagi tadi. Jika saat ini Jasson sedang bertanya-tanya mengapa Manda tidak menjawab pesannya di tempat lain Manda
tengah menikmati mandi dengan berendam di air hangat.
1 Jam yang lalu Manda terbangun, dia bingung saat berada di tempat yang tidak di kenalinya. Sesaat, Manda mengingat kembali kejadian semalam. Barulah dia tersadar tengah berada di apartemen Jasson. Manda menyibak selimut yang membungkusnya semalaman, selimut yang menghangatkan dirinya itu ia lipat menjadi beberapa bagian dan letakan di tepi ranjang setelahnya Manda menoleh kenakasdan susu serta sandwich. Dia yakin itu adalah sarapan yang disiapkan oleh Jasson. Manda tersenyum melihat betapa perhatiannya Jasson. Tanpa dia
tahu, saat ia menyibak selimutnya, memo yang ditinggalkan Jasson terbang hingga terjatuh ke bawah nakas karena angin sibakkan selimut.
Manda turun dari tempat tidur, langkah kakinya menapak dinginnya lantai marmer. Dia yang tidak memakai alas kaki bisa merasakan dengan jelas seberapa dingin lantai marmer itu. Manda membuka gorden dan menyibaknya, lalu di bukannya pintu yang terhubung ke balkon. Menghirup udara pagi yang masih segar, indahnya kota S
dari gedung tinggi itu. Manda masuk ke dalam kamar demi mengambil ponselnya dan kembali lagi ke balkon, dia memotret suasana pagi kota S dari balkon tempatnya berada. Beberapa kali memotret, dia pun menemukan satu foto yang menurutnya bagus. Foto itu yang langsung Manda unggah di akun media sosialnya dengan
**
“Kenapa kalian diam?” Keisya menatap aneh pada kedua orang yang berada di hadapanya. Kedua orang itu saling membuang muka dan tidak mau menatap satu sama lain. “Apakalian bertengkar?”
“TIDAK!!” jawab keduanya serempak. Keduanya menoleh dan saling bersitatap kemudian kembali melengos ke kanan dan ke kiri dengan arah yang berbeda.
Keisya kembali geleng-geleng kepala melihat tingkat keduanya, “Kalian sedang ada
masalah?”
“TIDAKK!!” jawaban yang sama kembali keluar dari kedua orang itu.
“Manda, Jasson, ayolah jangan kekanak-kanakan. Kakak tidak tau kalian sedang ada masalah apa, tapi kakak harap kalian bisa selesaikan apapun masalah itu dengan kepala dingin.” Setelah mengucapkan kalimat nasihet itu, Keisya meninggalkan kedua orang itu menuju dapur.
Tinggalah kedua orang yang masih saling diam dalam keheningan.
“Maaf,” satu kata lolos begitu saja dari mulut Manda, meskipun terdengar lirih namun, Jasson masih mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Manda, seulas senyum terbit dari wajah Jasson namun Manda tidak melihatnya karena mereka memandang sisi yang berbeda. Jasson bergeming tanpa kata menunggu kata selanjutanya yang
akan diucapkan oleh Manda, “Aku benar-benar tidak melihat catatan itu. Jika aku melihatnya aku pasti mengirimimu pesan.” Lanjut Manda menjelaskan.
Tidak menemukan? Pertanyaaan yang juga penuh tanda tanya bagi Jasson , jika Manda tidak menemukan catatan yang dia tinggalkan untuk Manda, lalu kemana perginya catatan itu?
“Aku benar-benar tidak menemukannya.” Ulang Manda.
Singkat cerita pertengkaran mereka bermula saat Jasson pulang dai bekerja. Lelaki itu mendiamkan Manda, tidak mengajak Manda berbicara sedikitpun, dia bahkan menjawab cuek saat Manda menyapanya dengan hangat. Jasson menyangka Manda tidak menghargai perhatiannya. Pertengkaran mereka berlanjut saat Manda sudah merasa kesal dengan sikap cuek Jasson dan memutuskan pergi ke Villa luxury membawa kopernya. Jasson semakin kesal pada Manda. Dia menyusul Manda pergi ke Villa luxury dan terjadi perang dingin hingga Keisya pun mencoba menengahi.
“Aku tidak menemukan catatan itu, Jasson..” ucapan penuh penekanan dan jujur Manda lontarkan kembali. Jasson jadi merasa tidak tega mendiamkan Manda. Dia berniat memaafkan Manda namun, ucapan Manda kembali membuat Jasson kesal. “Tidak bisakah kau tidak bersikap kekanak-kanakan, kau tidak malu pada Boy?” entah
mengapa ucapan itu membuat Jasson kembali merasa kesal. Dia mengurungkan niatnya untuk berbaikan dengan Manda. Jasson berdiri dari duduknya dan meninggalkan Manda begitu saja. Manda yang masih duduk manis di sofa ruang keluarga terbengong menatap Jasson yang melenggang santai meninggalkan dirinya
tanpa berucap sepatah kata pun.
“Apa laki-laki juga mengalami datang bulan?” batin Manda.
Manda merasa sikap Jasson sudah mirip perempuan yang sedang datang bulan. Sabar, Manda. “Kenapa dia merajuk seperti Boy?” Manda menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
.
.
.
.