
Pesta ulang tahun teman sekaligus rekan kerja Jasson sangat meriah. Pantas saja acaranya di Club, ternyata teman-teman Jasson itu kebanyakan peminum yang hebat.
Manda jadi tau alasan Jasson mengajaknya, lelaki itu ternyata menjadikan Manda sebagai tamengnya dari perempuan-perempuan genit yang suka menggodanya. Saat baru masuk ke dalam Club Jasson sudah dihadang oleh dua perempuan cantik dengan balutan gaun yang sangat seksi hingga bagian dada mereka terlihat menyembul setengah. Jasson yang melihat itu bukannya nafsu justru merasa jijik. Lelaki itu langsung merangkul erat pinggang Manda dengan tangan kanannya.
“Siapa dia Jasson?” Tanya salah satu perempuan itu.
“Apakah adikmu?” Sahut perempuan disebelahnya.
“Hei, ayo lah mana mungkin aku mengajak adikku ke pesta, kau tidak lihat kami sangat mesra?” Jasson merangkul erat pinggang Manda dengan sangat mesra. Sementara Manda hanya tersenyum tipis. Ia merasa kikuk dengan sikap Jasson.
“Jangan bilang?” Tebak perempuan itu.
“Seperti yang kalian pikirkan.” Ucap Jasson santai lalu berjalan meninggalkan perempuan genit yang tadi menyapanya.
“Astaga, aku tidak percaya Jasson punya kekasih, dan itu bukan Nina.” Gumam salah satu perempuan tadi.
“Ya, bukankan Jasson dan Nina bertunangan.” Sahut perempuan lain.
Samar-samar Manda bisa mendengarkan apa yang dikatakan kedua perempuan itu.
‘Siapa Nina?’ Batin Manda.
Germerlap lampu kelap kelip dan musik Club membuat Sasya dan Manda bosan. Apalagi J bersaudara tidak memperbolehkan keduanya untuk minum. Terpaksa Sasya dan Manda hanya minum jus, sementara perempuan-perempuan lain yang datang ke pesta itu semua minum alkohol.
“Ini tidak adil!” Ucap Sasya kesal seraya menengguk habis jus nya. Ia melirik tajam Juan yang sedang berbincang dengan seorang perempuan, perempuan itu nampak menatap Juan dengan tatapan intens membuat Sasya mengepalkan tangan nya karna geram.
Ia pun meraih segelas air untuk diteguk nya lagi tanpa ia sadari yang ia minum adalah wine milik James. Sasya bahkan meneguk wine setengah gelas itu dalam sekali tegukan.
“Apa ini, tidak seperti jus.” Melihat apa yang baru saja diminumnya. “Astaga, apakah ini wine?” Sasya mengamati gelas kosong yang berada ditangannya dengan teliti kemudian mencium sisa aroma di gelas itu.
“Cebol!” Teriak James. Lelaki itu baru saja kembali dari toilet.
“Apa yang kau lakukan dengan gelasku?” James bisa melihat dengan jelas Sasya memegang gelas wine miliknya dan sudah kosong. Bisa dipastikan wanita itu yang meminumnya.
“James, ini enak, aku mau lagi.” Sasya bangkit dari duduknya bergelanyut di lengan James. Sasya mengusap usapkan kepalanya di bahu James, ia sangat manja pada James.
“Kau mabuk?” Mendorong kepala Sasya agar menjauh dari bahunya.
Sasya menggeleng. “Aku tidak mabuk,” jawabnya tersenyum.
“Benar, kau mabuk.”
“Tidak!”
“Kau mabuk, cebol!”
“Tidak, aku bilang tidak ya tidak!” Teriak keras Sasya hingga menyita perhatian penghuni lain ruangan itu.
Juan dan wanita yang mengobrol di sebelahnya pun ikut menoleh. Juan bisa melihat Sasya berbeda, ia pun bangkit dari duduknya menghampiri James dan Sasya.
“Ada apa dengannya?” Tanya Juan.
“Dia mabuk.” Balas James.
“Aku tidak mabuk, Juan. Aku hanya senang.” Ia masih bergelanyut di lengan James.
“Bagaimana dia bisa minum?”
“Aku tidak tau, aku meninggalkannya sebentar ke toilet. Saat aku kembali dia sudah seperti ini.” Balas James.
“Kita bawa dia ke ruangan lain.” Ajak Juan, ia lebih dulu meninggalkan ruang pesta.
Sementara James, ia menarik Sasya yang masih bergelanyut manja meninggalkan tempat itu juga. Ia dan Sasya mengekori Juan yang memasuki ruangan VVIP Club itu.
“Dimana kakak dan Manda?” Tanya James, ingat sebelum pergi ke toilet Manda dan Jasson masih bersama Sasya. Itulah sebabnya James meninggalkan Sasya. Ia mengira Manda dan Jasson tidak mungkin meninggalkan Sasya sendirian.
“Entahlah, mereka tiba-tiba keluar.” Juan melihat Manda menyeret lengan Jasson keluar dari tempat pesta. Dan, Jasson hanya menurutinya.
“Mau bagaimana lagi, biarkan dia mabuk disini. Aku akan menyuruh orang membeli obat pereda mabuk.” Juan mendaratkan dirinya di sofa. Ia lalu menelpon bawahannya untuk membeli obat pereda mabuk.
“Lepaskan aku, cebol!” Melepaskan tangan Sasya dari lengannya. James duduk di sofa yang berada di depan Juan. Dengan meja ditengah sebagai sekat pembatas antara sofa yang diduduki Juan dan sofa yang diduduki James.
“Tidak mau.” Ucap Sasya manja. Ia malah merebahkan dirinya di sofa dan tiduran beralaskan paha James. “Aku mengantuk.” Ucap Sasya memejamkan matanya.
“Tolong aku, Juan!” James ingin terbebas dari Sasya.
“Kau tidak dengar dia mengantuk, biarkan dia tidur di pahamu.” Juan terlihat menertawakan James. Ia merasa senang melihat James menderita karena ulah Sasya. Baru kali ini James dan Sasya terlihat akur.
“Huft.” James mendengus kesal.
***
Dave baru saja pulang, ia langsung membersihkan dirinya agar diperbolehkan menyentuh Boy kecil. Sesuai aturan Keisya siapapun yang baru pulang harus langsung membersihkan diri jika ingin menyentuh Boy kecil.
“Apa demamnya sudah turun?” Dave keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang ia lilitkan di pinggang. Tangan kananya sibuk mengusap rambut basahnya dengan handuk lain.
“Sudah, dia juga tidak rewel.” Dave manggut-manggut. Ia lalu berganti piyama tidur.
“Aku Merindukanmu, Boy.” Dave naik ke atas tempat tidur dan langsung menciumi pipi gembul Boy. Bayi kecil yang sudah tidur itu tidak terbangun.
“Kau mau makan atau tidak?”
“Tidak, aku sudah makan. Aku mengantuk.” Dave mencoba menjangkau tubuh Keisya yang miring menghadapnya namun terhalang oleh Boy kecil. Boy berada di tengah-tengah Keisya dan Dave.
“Awas, Boy bisa tertindih tangan kekarmu.” Tegur Keisya.
“Bolehkah aku pindahkan dia ditempat tidurnya?” Dave melirik tempat tidur ayunan milik Boy yang berada di belakang Keisya.
“Kau tidak ingin tidur dengan Boy?” Tanya Keisya. Bukannya suaminya itu suka sekali tidur dengan Boy ditengah-tengah mereka.
“Malam ini aku ingin memeluk istriku, aku merindukannya.” Ucap Dave seraya mengedipkan sebelah matanya.
“Dasar mesum.” Keisya sudah tau apa yang akan terjadi malam ini. Pasti akan menjadi malam yang panjang.
“Mesum tapi kau suka, kan, sayang?” Goda Dave, ia bangkit dari tidurannya. Perlahan Dave mengangkat tubuh Boy, ia pun turun dari tempat tidur dan berjalan menuju tempat tidur kecil milik Boy. Dave membaringkan Boy di tempat tidurnya. Bayi kecil itu menggeliat pelan, Dave langsung menepuk-nepuk lembut lengan Boy agar tidak terbangun. Bisa kacau kalau Boy terbangun. Ia tidak bisa memanjakan juniornya jika Boy terbangun.
Setelah dirasa Boy terlelap, Dave kembali ke tempat tidur. Ia tersenyum mesum pada Keisya. Ia pun langsung menindih tubuh Keisya dan mencium bibir Keisya lembut. Keduanya berpagutan dalam waktu yang cukup lama, Dave pun beralih mengecupi leher jenjang Keisya. Seraya tangan kirinya mencoba membuka satu persatu kancing piyama Keisya. Tangan Dave yang sudah berhasil melepas semua kancing piyama Keisya langsung bermain dengan benda kenyal yang bersembunyi di balik bra milik istrinya itu. Namun, saat bibir Dave mulai beralih pada bagian dada Keisya. Suara tangisan menggangu mereka.
“Oek..oek..oek.” Keisya langsung mendorong kasar tubuh Dave dari atasnya. Ia pun merapikan piyama nya kembali dan buru-buru menghampiri Boy yang menangis.
Sementara Dave, ia terjatuh di tempat tidur dengan lengan yang ia letakan di atas kepalanya karna kesal. Belum mulai tapi sudah berakhir begitu pikirnya. Tidak sekali Boy menggagalkan rencana Dave bercinta dengan Keisya. Bayi kecil itu selalu saja menggangu di saat kritis, padahal junior Dave sudah menegang.
“Kau sungguh tidak berperasaan pada Daddy, Boy.” Gumam Dave kesal.
.
.
Hai teman-teman, jagalah kesehatan jangan lupa gosok gigi, cuci tangan, pakai masker dan rebahan 😂
Mampir ke karya author yang lain ya temen-temen.
Nice to meet you (ongoing)
2. Menikahi lelaki pilihan kakek
3. Bersamamu
4. Pengacara tampanku