My Dave

My Dave
S3 pesta



Rintik-rintik hujan membasahi kota A sore ini, cuaca yang semula cerah menjadi mendung. Kilatan petir sesekali terdengar, bagi mereka yang tidak membawa payung ataupun jaz hujan terpaksa berteduh di emperan toko atau beberapa masih terjebak di dalam gedung kantor menunggu hujan berhenti. Seperti hal nya Manda saat ini, perempuan itu tidak membawa mantel hujan juga tidak mempunyai payung di ruang kerjanya.


Arloji di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 17:05 menit. Sudah satu jam lebih Manda menunggu hujan yang tak kunjung reda. Sudah beberapa kali pula ponselnya berdering. Panggilan telepon dari sang sahabat beberapa kali masuk sekedar menanyakan apakah dirinya sudah dalam perjalanan pulang.


“Iya, aku akan segera pulang setelah hujan reda. Iya-iya, apapun yang kau masak aku mau.” Menjawab panggilan ketiga dari Sasya sang sahabat yang saat ini tinggal bersama dengannya.


Baru beberapa menit berlalu ponsel Manda kembali berdering, “apa lagi Sasyaaa?”


“Sayang, ini aku.” Sahutan suara lelaki dari ujung telepon.


Benda pipi yang semula berada di dekat telinga pun ia lihat dengan seksama siapa penelepon itu.


Jasson?!


Manda mengira Sasya lah yang menelepon nya mengingat sahabatnya itu sudah beberapa kali menghubungi dirinya. Hingga ia lupa melihat id si pemanggil dan langsung saja menjawab panggilan telepon yang masuk.


“Kenapa kau menelpon ku?” Ketus Manda masih kesal pada Jasson sejak pertemuan terakhir mereka, dimana Jasson memaksanya untuk makan siang bersama.


“Kau galak sekali.” Keluh Jasson menjeda ucapannya, “tapi aku cinta.” Lanjutnya menggombal.


“Berhenti menggodaku. Atau ku tutup teleponnya.” Ancam Manda.


“Baiklah, baiklah. Jangan tutup teleponnya. Aku di bawah, turunlah. Aku datang menjemputmu pulang kerja. Aku tunggu di bawah. Tut..” Jasson sengaja menutup telepon sebelum Manda menjawab karena lelaki itu mau Manda pasti akan bersikap ketus.


Namun, bukan merasa kesal Manda justru senang Jasson mennjemputnya.


“Kenapa tidak dari tadi kau menjemputku?” Sambil memasang sabuk pengamannya.


Jasson menoleh dan menyipitkan mata nya, “kau menunggu aku menjemputmu, sweetie?” Dasar Jasson bisa saja memanggil Manda dengan panggilan sayang.


“Aku terjebak di kantor lebih dari satu jam karena hujan.” Gerutu Manda.


“Maafkan aku sweetie, aku baru selesai meeting dan langsung menjemput mu.”


“Cepat jalan!”


“Iya sweetie.”


Manda memutar bola matanya jengah mendengar panggilan sayang dari Jasson.


Jasson melajukan mobilnya pelan keluar dari area parkir butik. Mobil melaju pelan dan sesekali menerjang genangan air di jalan raya yang terdapat lubang kecil karena jalan sudah rusak.


**


Meja makan sudah terpenuhi dengan hidangan yang di masak oleh Sasya. Sasya merasa hari pertamanya bekerja berjalan lancar. Ia pun mengadakan syukuran kecil dengan memasak makanan yang enak dan mengundang beberapa orang untuk bergabung.


“Kita pesta malam ini?” James berbinar menatap beberapa makanan kesukaannya berada di meja makan.


“Apa kau ulang tahun?” Tanya Juan pada Sasya dan perempuan itu menggelengkan kepalanya. “Lalu?”


“Tidak ada. Aku ingin masak banyak saja.” Jawab Sasya, “kalian tunggulah dulu, aku akan mandi. Sekalian menunggu Jasson dan Manda.” Baik James maupun Juan keduanya mengangguk. Sasya meletakan celemek kotor ke dalam keranjang celemek kotor di pojok ruang makan lalu berlalu ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Juan menarik salah satu bangku dan duduk disana di ikuti James yang duduk di sebelahnya.


“Kau, apa kau tertarik pada si cebol?” Pertanyaan serius keluar dari mulut Juan.


Meskipun tidak pernah menyangka Juan akan menanyakan hal tersebut namun James menjawab dengan jujur, “Sepertinya begitu, apa kau cemburu?” Pertanyaan balik James lontarkan pada Juan.


“Mana mungkin, sejak awal aku hanya menganggap cebol adik seperti Manda bagi kita.” Jawab Juan jujur.


Syukurlah!.


James membatin lega. Ia tidak perlu sungkan lagi untuk mendekati Manda karena sudah tau perasaan Juan.


“Lakukanlah. Dia gadis yang baik dan konyol.” Juan terkekeh mengingat Sasya dulu sempat mengejar dirinya dan sering kali melakukan hal konyol demi menempel pada Juan.


“Hahaha, kau benar. Mungkin karena tingkah konyol nya yang membuatku tertarik.” Keduanya terkekeh tanpa mereka sadari di balik pintu sepasang telinga mendengar semua percakapan kakak beradik itu.


Ya, Sasya lah yang mendengarkan di balik pintu. Sasya tidak sengaja menguping saat akan mengambil ponselnya yang tertinggal di dapur. Siapa sangka ia malah mendengar pengakuan James akan ketertarikan lelaki itu pada dirinya. Ada perasaan menggelitik pada diri Sasya saat James mengatakan akan mengejarnya.


“Apa ini? Kenapa jantungku berulah lagi?” Gumam Sasya terburu-buru kembali ke kamar sebelum Juan dan James menyadari keberadaan nya. Ia mengurungkan niatnya mengambil ponsel dan memilih kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.


“Apa semua yang ku dengar masuk akal? Si jangkung akan mengejar ku?” Ia kembali menggerutu di bawah guyuran air shower memikirkan kembali ucapan James. Tanpa ia sadari kedua sudut bibirnya melengkung keatas membentuk senyum tipis. Kau sudah kalah Sasya!


Suasana di ruang makan selalu tidak bisa tenang apabila ada si kembar disana. Terutama James si pembuat onar. Ada saja yang di lakukan James untuk menghidupkan suasana.


“Kita ucapkan selamat pada Sasya yang berhasil melewati hari pertamanya dengan lancar.” Manda mengangkat gelas berisi air putih mengajak yang lainnya untuk Cheers.


Sementara para lelaki mengangkat gelar mereka yang berisi wine.


“Cheers.”


“Buka mulutmu sweetie.” Perintah Jasson hendak menyuapkan makanan pada Manda.


“Uhuuuk.” Bukan terlihat romantis Manda justru tersedak. Sementara yang lainnya tidak kaget dengan ulah Jasson, mereka sudah terbiasa melihat ke bucin an Jasson pada Manda.


NB: Bucin (budak cinta)


“Pelan-pelan, sweetie.” Meletakkan kembali sendok yang penuh makanan ke dalam piring dan menepuk-nepuk lembut punggung Manda.


“Tidak bisakah kau diam?” Setelah meneguk satu gelas air putih, Manda melayangkan protesnya pada Jasson.


“Kenapa aku harus diam?”


“Karena kau berisik.”


“Pfttt.” Jane tidak lagi mampu menahan tawanya. Pasangan di hadapannya itu selalu saja bersikap layaknya Tom & Jerry cartoon yang sering di tonton oleh Boy.


Jasson menoleh pada James dengan tatapan dingin, “kenapa kau tertawa? Apa aku lucu dimatamu?”


James menggelengkan kepalanya sembari mengunci bibirnya rapat, namun terlihat dengan jelas lelaki itu masih ingin tertawa.


“Kak, Bagimana dengan proyek di kota S?” Tanya Juan mengalihkan pembicaraan. Sesekali Juan ingin menyelamatkan James dari tindakan tidak masuk akal Jasson.


Para perempuan diam dengan tenang sambil melanjutkan makan mereka tidak peduli dengan obrolan para lelaki.


“Aku sudah meminta kak Dave untuk menyelidiknya.” Jawab Jasson.


“Apa ada masalah?” Manda bertanya karena penasaran.


“Bukan masalah yang besar, sweetie. Kau tidak perlu khawatir.” Jawab Jasson.


“Aku tidak mengkhawatirkan mu. Aku mengkhawatirkan mereka!” Menunjuk Juan dan James secara bergantian.


“Pfttt.” Lagi-lagi James tertawa, menertawakan bagaimana sang Jasson di perlakukan dingin oleh Manda.


.


.


.


.